1 Muharram: Keajaiban Doa Minum Susu Putih Malam Ini, Ustadz [Nama Ustadz] Ungkap Rahasia Tersembunyi!

MALANG – Malam 1 Muharram, sebuah momen sakral bagi umat Islam di seluruh dunia, dirayakan dengan berbagai tradisi yang kaya makna. Salah satu amalan yang diwariskan secara turun temurun adalah tradisi minum susu putih, sebuah simbol harapan baru dan keberkahan di tahun yang baru. Tradisi ini bukan sekadar kebiasaan, melainkan mengandung filosofi mendalam yang mengajak umat Islam untuk memulai tahun baru Hijriah dengan hati yang bersih dan penuh semangat.

Tradisi minum susu putih pada malam 1 Muharram ini ternyata berakar dari kebiasaan seorang ulama besar asal Makkah, As-Sayyid Muhammad Bin Alawy Al Maliki. KH Muhammad Fatwa, Direktur TMI Pondok Pesantren Darul Amanah, menjelaskan bahwa ulama tersebut selalu membagikan susu putih kepada murid-muridnya sebagai simbol awal yang suci dan penuh berkah. Kebiasaan baik ini kemudian dilestarikan di berbagai pondok pesantren di Indonesia, menjadi bagian tak terpisahkan dari perayaan malam tahun baru Islam.

Amalan minum susu putih ini dianjurkan untuk dilakukan pada malam 1 Muharram, dimulai setelah waktu salat Maghrib hingga menjelang waktu Subuh. Umat Islam dapat melakukannya secara pribadi atau bersama keluarga, sebagai wujud rasa syukur dan harapan akan kebaikan yang menyertai sepanjang tahun yang baru. Momen ini menjadi kesempatan untuk berkumpul, merenungkan perjalanan hidup, dan memanjatkan doa-doa terbaik untuk masa depan.

Saat meminum susu putih, umat Islam dianjurkan untuk membaca doa khusus yang diajarkan oleh para ulama. Doa tersebut berbunyi: “Allahumma baarik lanaa fiihi wa zidnaa minhu,” yang berarti “Ya Allah, berikanlah kepada kami keberkahannya (susu), dan tambahkanlah kepada kami darinya.” Penting untuk diingat bahwa bagian doa “wa zidnaa minhu” hanya dibaca saat meminum susu, bukan saat meminum jenis minuman lain.

Tradisi minum susu putih ini merupakan bentuk tafa’ul, yaitu pengharapan akan datangnya kebaikan. Dalam Islam, tafa’ul adalah bagian dari husnuzan atau berbaik sangka kepada Allah SWT, yang secara spiritual akan menumbuhkan semangat untuk memulai tahun dengan langkah positif dan niat baik. Rasulullah SAW sendiri sangat menyukai sikap tafa’ul, sebagaimana disebutkan dalam hadis.

“Nabi SAW menyukai pengharapan yang baik (tafa’ul), dan membenci prasangka buruk (tathayyur),” bunyi hadist tersebut, yang menjadi landasan bagi umat Islam untuk selalu berpikir positif dan optimis dalam menghadapi kehidupan.

Dengan menjalankan amalan minum susu putih serta membaca doa yang diajarkan, umat Islam diajak untuk mengisi tahun baru Hijriah dengan optimisme, semangat spiritualitas, dan harapan akan kehidupan yang lebih baik. Meminum susu putih pada malam 1 Muharram bukan sekadar rutinitas simbolik, tetapi memiliki nilai religius dan spiritual yang mendalam, yaitu refleksi niat suci untuk memulai tahun baru Islam dengan tubuh dan hati yang bersih.

Momen malam 1 Muharram ini bisa menjadi sarana bagi umat Islam untuk introspeksi diri, memperbarui niat, dan berdoa demi kehidupan yang lebih berkah di masa mendatang. Dengan begitu, tahun baru Hijriah bukan hanya sekadar pergantian kalender, tetapi juga momentum untuk memperbaiki diri dan meningkatkan kualitas hidup secara spiritual dan material.