Zona Malang, Surabaya – Semangat dan gegap gempita perayaan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-80 Kemerdekaan RI terasa hingga ke Lingkungan Pondok Sosial (Liponsos) Keputih Surabaya. Ratusan Orang Dengan Gangguan Jiwa (ODGJ) dan Penyandang Masalah Kesejahteraan Sosial (PMKS) larut dalam kegembiraan mengikuti serangkaian lomba yang digelar khusus untuk mereka, Kamis (14/8).
Senyum dan tawa lepas menghiasi wajah para penghuni saat mereka berpartisipasi aktif dalam setiap perlombaan. Bagi mereka, kegiatan ini menjadi rekreasi yang sangat dinantikan sekaligus penegasan bahwa semangat kemerdekaan adalah milik semua warga negara tanpa terkecuali.
Kepala Dinas Sosial (Dinsos) Kota Surabaya, Mia Santi Dewi, mengatakan pihaknya sengaja menggelar acara ini agar para penghuni Liponsos tidak ketinggalan euforia kemerdekaan.
“Kami ingin teman-teman di Liponsos juga bisa merasakan kemeriahan hari kemerdekaan ini. Total ada 784 penghuni di Liponsos, di mana 601 di antaranya adalah ODGJ. Semuanya diikutsertakan dalam perlombaan,” kata Mia di lokasi.
Panitia secara khusus memilih jenis lomba yang mudah diikuti dan mendorong interaksi. Dua lomba utama yang paling ditunggu adalah fashion show dan estafet air.
“Semakin meriah, semakin bagus. Lomba fashion show memberi kesempatan peserta tampil dengan kostum unik dan percaya diri. Sedangkan estafet air melatih kerja sama tim dan komunikasi antar peserta dari barak yang berbeda,” jelasnya.
Bukan Sekadar Hiburan, Tapi Bagian dari Rehabilitasi
Mia menegaskan, kemeriahan ini bukan sekadar hiburan sesaat, melainkan bagian penting dari proses rehabilitasi sosial. Menurutnya, tujuan akhir dari semua program di Liponsos adalah agar para penghuni bisa kembali mandiri dan berbaur dengan masyarakat.
“Melalui beragam fasilitas dan pembelajaran, para penghuni diharapkan bisa mandiri. Tujuannya jelas, agar mereka tidak selamanya di sini,” tegasnya.
Untuk mencapai tujuan itu, Liponsos secara rutin memfasilitasi para penghuni dengan berbagai kegiatan untuk melatih kemandirian, seperti membatik, berkebun, mencuci motor, hingga mengelola angkringan. Ada pula kegiatan rekreatif seperti grup musik bernama “Band Waras” dan jadwal mengaji rutin.
“Mereka disibukkan agar punya kegiatan positif, yang nantinya bisa menjadi bekal mereka untuk mandiri,” pungkasnya.







