Beeswax Rilis Album Self-Titled, Rayakan 12 Tahun Berkarya

Trio emo Beeswax merilis album self-titled dengan 16 lagu hasil aransemen ulang. Kolaborasi dengan Dochi Sadega di fokus track terbaru mereka.

Zona Malang, 10 April 2026 – Trio emo Beeswax merilis album self-titled yang menandai 12 tahun perjalanan mereka di industri musik Indonesia. Album ini menghadirkan 16 lagu hasil aransemen ulang dari dua rilisan awal mereka, EP First Step dan LP Growing Up Late, yang kini dikemas dengan perspektif lebih matang. Beeswax yang beranggotakan Bagas Yudhiswa (vokal/gitar), Putra Vibrananda (vokal/bass), dan R. Yanuar Ade Laksono (drum) dikenal sebagai pionir skena midwest emo di Jawa Timur.

Berawal sebagai proyek one-man band pada 2014, band ini berkembang menjadi kuartet sebelum akhirnya menjadi trio seperti sekarang. “Album Beeswax ini kami hadirkan untuk mengingatkan kembali pada kami terutama kenapa dan bagaimana Beeswax lahir, di mana nggak terasa kami sudah berjalan 12 tahun,” ujar Bagas. Album ini dirilis secara bertahap.

Single pertama “THE BRIDGE OF THE EMPTYNESS” meluncur pada Februari 2026, disusul “TAKE ME HOME” pada Maret 2026 bertepatan dengan Idulfitri. Fokus track “THE MOST PATHETIC ONE ON PLANET” dirilis bersamaan dengan album lengkap pada 10 April 2026.

.Lagu “THE MOST PATHETIC ONE ON PLANET” menghadirkan kolaborasi spesial dengan Alditsa Decca Nugraha atau Dochi Sadega dari Pee Wee Gaskins. Kolaborasi ini lahir dari hubungan panjang dan kesamaan ketertarikan terhadap musik emo dan midwest emo.

Secara tematis, lagu ini menggambarkan pengalaman menyaksikan rasa sakit orang lain dari jarak dekat, sebuah posisi yang sarat dilema antara kepedulian dan ketidakberdayaan. Proses produksi album berlangsung selama tiga bulan dan dikerjakan secara mandiri oleh para personel.

Bagas, Putra, dan Yanuar terlibat sebagai penulis, komposer, produser, dan arranger. Bagas juga menangani mixing dan mastering. Rekaman drum dan vokal dilakukan di Studio Pelikan dan Rotary, Surabaya, sementara backing vocal direkam di Creatorix Studio, Malang.

“Kami menghabiskan total waktu selama 3 bulan untuk produksi album ini. Tentu saja ada dinamika di dalamnya seperti kendala jarak dan waktu. Untuk mengatasinya kami kerjakan dengan prinsip alon-alon asal kelakon,” tutur Yanuar.

Proyek ini didukung tim kreatif yang terdiri dari Iqbal Febrian P dan Novita Widia Rahayu (kreatif), Juniansyah Magesta Putra dan Imam Uzed Alifi (artwork), serta Ahyas Budi (fotografer). Untuk rencana ke depan, Beeswax tidak memasang target muluk. Mereka hanya berharap bisa terus berkarya dan menjaga perjalanan musik mereka tetap hidup.

“Untuk rencana setelah album ini, kami mohon kepada para teman-teman fans, doain aja, tour boleh, single boleh, pokok doa nya aja,” tutup Yanuar.

Dengan mengolah ulang materi dari fase awal perjalanan mereka, Beeswax tidak berusaha mengubah masa lalu, melainkan menempatkannya dalam konteks baru. Album ini membuka ruang bagi pendengar lama untuk bernostalgia sekaligus mengajak pendengar baru merasakan cerita yang sama dari sudut pandang berbeda.

Di usia kepala tiga, Beeswax menunjukkan bahwa pertumbuhan bukan tentang meninggalkan masa lalu, tetapi memahaminya dengan lebih jujur. Album “Beeswax” menjadi jembatan antara waktu, pengalaman, dan generasi, sekaligus pernyataan bahwa musik akan selalu bertumbuh dan menemukan maknanya kembali di setiap fase kehidupan.