California – NASA, badan penerbangan dan antariksa nasional Amerika Serikat, mengumumkan rencana ambisius untuk membangun jalur kereta api di permukaan Bulan. Proyek ini akan menjadi bagian dari upaya eksplorasi dan kolonisasi Bulan di masa depan. Ethan Schaler, pakar robotika dari Jet Propulsion Laboratory (JPL) NASA, menyebut proyek ini sebagai sistem transportasi otonom yang efisien dan andal dengan nama Flexible Levitation on a Track (FLOAT).
Misi Artemis dan Proyek Gateway
Sebelum proyek FLOAT dimulai, serangkaian misi Artemis akan mengirimkan astronot ke Bulan pada 2028. Proyek kereta api di Bulan ini akan mendukung proyek Gateway, sebuah stasiun ruang angkasa yang mengorbit Bulan.
Gateway akan berfungsi sebagai pusat eksplorasi planet yang luas, terutama untuk misi ke Mars. Schaler menjelaskan bahwa sistem transportasi robotik yang tahan lama seperti FLOAT akan sangat penting bagi operasi harian pangkalan Bulan yang berkelanjutan pada 2030-an. Meskipun demikian, proyek ini belum dirancang untuk manusia dan hanya akan digunakan oleh robot.
Rencana Proyek FLOAT
FLOAT diusulkan oleh JPL sebagai solusi untuk mengangkut muatan dalam berbagai bentuk dengan berat hingga 110 ton. Proyek ini akan memanfaatkan robot terpolarisasi magnetis tak bertenaga yang melayang di atas jalur tiga lapis yang terbuat dari film fleksibel.
Dilansir dari IFL Science, film fleksibel ini terdiri dari lapisan grafit dengan lapisan ketiga berupa panel surya. Sistem robotik ini dianggap menguntungkan karena tidak harus berhadapan dengan regolith, material permukaan Bulan yang tajam dan memiliki kekuatan menghancurkan yang cukup tinggi.
Robot FLOAT tidak memerlukan roda atau kaki, dan ketika berada di bawah sinar Matahari, sistem tersebut tidak membutuhkan energi eksternal untuk menggerakkan robot. FLOAT adalah salah satu dari enam konsep inovatif lanjutan NASA (NIAC) yang telah beralih ke fase II.
Tahap II ini akan fokus pada perancangan dan pembuatan versi mini dari sistem FLOAT untuk diuji di lingkungan yang mirip dengan Bulan. Selain itu, tahap ini juga akan mengevaluasi dampak lingkungan pada lintasan dan robot serta aspek lain yang diperlukan untuk mengoptimalkan sistem ini.
Pendanaan dan Uji Kelayakan
Proyek FLOAT tahap II mendapat pendanaan sebesar 600.000 dolar AS atau sekitar 9,668 miliar rupiah untuk melanjutkan penyelidikan terhadap uji kelayakan. John Nelson, eksekutif program NASA Institute for Advanced Concepts (NIAC), menyatakan bahwa konsep FLOAT tahap II mirip dengan adegan dalam film fiksi ilmiah.
“Rekan-rekan dari NIAC tidak pernah berhenti membuat kagum dan menginspirasi, dan kelas ini jelas memberi NASA banyak hal untuk dipikirkan mengenai apa yang mungkin terjadi di masa depan,” kata Nelson.
Inovasi Masa Depan
Jika sistem FLOAT terus menunjukkan kemampuannya, teknologi ini bisa menjadi infrastruktur penting di Bulan pada 2030-an. Proyek ini bukan satu-satunya inovasi yang diusulkan oleh NASA. Tahap I FLOAT juga telah melahirkan sejumlah usulan lain, seperti desain teleskop baru, teknologi untuk mengurangi racun di Mars, dan segerombolan pesawat ruang angkasa kecil yang dapat melakukan perjalanan ke bintang terdekat Bumi dalam beberapa dekade.
Penutup
Proyek kereta api di Bulan ini menandai langkah signifikan dalam eksplorasi dan kolonisasi luar angkasa. Dengan dukungan teknologi canggih dan inovasi yang terus berkembang, NASA berkomitmen untuk membuka jalan bagi keberlanjutan eksplorasi manusia di Bulan dan planet-planet lainnya di tata surya. FLOAT tidak hanya akan mempermudah transportasi muatan di Bulan, tetapi juga memberikan pandangan tentang bagaimana teknologi masa depan dapat digunakan untuk mendukung kehidupan dan operasi di luar Bumi.







