Zona Malang – PC Windows Copilot+ dengan chip khusus untuk fitur AI generasi berikutnya mungkin terdengar sangat menarik, tetapi apakah laptop ini benar-benar sesuai dengan ekspektasi? Berikut beberapa alasan mengapa perangkat ini mungkin belum siap untuk prime time.
Emulasi Membingungkan
Laptop Copilot+ yang tersedia saat peluncuran semuanya menggunakan chip berbasis ARM. Chip ini, yang mirip dengan yang ditemukan pada perangkat seluler unggulan, dilengkapi dengan NPU (neural processing unit) yang kuat untuk AI. Masa pakai baterai yang lama dari perangkat seluler dan AI terintegrasi memang mengesankan. Namun, ada masalah signifikan dengan kompatibilitas perangkat lunak.
Laptop ini menjalankan sistem operasi Windows on ARM, yang berarti perangkat lunak yang digunakan harus mendukung ARM. Sementara beberapa aplikasi populer seperti Google Chrome dan Adobe Lightroom memiliki versi asli untuk ARM, banyak program lain seperti Discord dan Slack memerlukan emulasi untuk berjalan. Emulasi ini, dikenal sebagai Prism, tidak hanya membingungkan bagi pengguna awam tetapi juga bisa mengurangi kinerja perangkat secara signifikan.
Yang lebih mengkhawatirkan, lapisan emulasi ini dinamai Prism, sama seperti program pengawasan data yang kontroversial, PRISM, yang menyerahkan data pengguna ke NSA. Ini tentu mengundang pertanyaan etis dan kekhawatiran privasi yang tidak bisa diabaikan.
Pengalaman Bermain Game yang Mengecewakan
Pada pandangan pertama, kemampuan Copilot+ dalam meningkatkan pengalaman bermain game tampak menjanjikan. Chip AI ini menawarkan fitur Automatic Super Resolution (ASR), yang sebanding dengan Nvidia DLSS dan AMD FSR. ASR menggunakan AI untuk meningkatkan resolusi game dengan cepat sambil mempertahankan frame rate.
Namun, sebagian besar game di Steam belum memiliki versi asli untuk ARM, yang berarti mereka harus dijalankan melalui emulasi. Hasilnya, banyak game favorit mungkin mengalami penurunan kinerja yang signifikan atau bahkan tidak berjalan sama sekali. Pengalaman bermain game yang buruk ini membuat Copilot+ tidak cocok untuk gamer yang serius.
Meskipun demikian, ada harapan bahwa PC Copilot+ dapat mendorong pasar untuk mendukung game ARM sepenuhnya. Rencana untuk mengintegrasikan prosesor Intel dan AMD tradisional yang mendukung NPU juga sedang dalam pengerjaan, meskipun timeline ini masih belum jelas.
Dukungan VPN yang Terbatas
Salah satu kekhawatiran terbesar adalah bahwa beberapa layanan VPN tidak berfungsi pada PC Copilot+, dan emulasi juga tidak membantu. Dengan sekitar satu setengah miliar pengguna VPN di seluruh dunia, dukungan VPN sangat penting untuk berbagai kebutuhan, termasuk koneksi jaringan perusahaan, akses sumber daya universitas, menghindari sensor, dan melindungi privasi.
Kurangnya dukungan untuk aplikasi VPN yang paling umum digunakan bisa menjadi pemecah kesepakatan bagi mereka yang berencana menggunakan laptop ini untuk bekerja atau studi. Meski ada beberapa layanan seperti SurfShark yang sudah menawarkan versi yang berfungsi, kebanyakan penyedia utama masih dalam proses mengembangkan aplikasi asli.
Kunci Copilot yang Mengganggu
Salah satu fitur unik dari PC Copilot+ adalah adanya kunci Copilot khusus pada keyboard. Kunci ini memungkinkan akses cepat ke fitur AI Windows 11, Photoshop, atau DaVinci Resolve Studio hanya dengan satu tekan.
Namun, keberadaan kunci ini bisa menjadi masalah. Kunci Copilot tidak dapat dipetakan ulang kecuali dengan menggunakan program pihak ketiga, yang berarti pengguna bisa secara tidak sengaja menekan tombol ini pada waktu yang tidak tepat. Ini bisa sangat mengganggu, terutama saat dalam panggilan video atau sesi permainan multipemain.
Bagi banyak pengguna, ini mengingatkan pada pengalaman buruk dengan Clippy dari MS Word, yang sering muncul tanpa diundang dan mengganggu alur kerja.
Harga Premium dengan Polesan yang Kurang
Pertanyaan besar tetap, apakah pengguna rata-rata benar-benar tertarik pada laptop dengan AI atau apakah kinerja dan masa pakai baterai masih menjadi faktor utama dalam keputusan pembelian. Dalam hal ini, PC Copilot+ dapat bersaing dengan baik. Beberapa tolok ukur menunjukkan chip Snapdragon-nya lebih cepat dalam kinerja multi-threaded dibandingkan dengan prosesor M3 MacBook Air. Pengguna forum juga memuji masa pakai baterai yang luar biasa dari laptop ini.
Namun, ada masalah besar: harga. PC Windows Copilot+ dibanderol mulai dari $999 hingga $2.500. Untuk harga ini, pengguna mungkin lebih memilih MacBook Air yang menawarkan UX yang lebih dipoles atau laptop Windows biasa dengan kinerja yang solid.
Kesimpulan: Belum Siap untuk Pengguna Umum
Microsoft dan produsen laptop kemungkinan akan mengatasi tantangan ini seiring waktu. Laptop dengan kekuatan AI mungkin akan menemukan ceruk pasar yang tepat antara tablet dan desktop. Namun, untuk saat ini, PC Copilot+ lebih cocok bagi mereka yang bersedia menjadi pengguna awal dan menghadapi ketidaknyamanan yang ada.
Jika Anda menginginkan pengalaman yang sepenuhnya dipoles dan bebas masalah sejak awal, mungkin lebih baik menunggu sampai perangkat ini lebih matang. Sementara itu, laptop konvensional atau MacBook tetap menjadi pilihan yang lebih aman dan dapat diandalkan.







