Zona Malang – Sepasang astronom dari Badan Antariksa Eropa (ESA), David O’Ryan dan Pablo Gómez, berhasil mengungkap ratusan “anomali astrofisika” yang sebelumnya tidak terdokumentasi dalam arsip data Teleskop Luar Angkasa Hubble. Dengan bantuan model kecerdasan buatan (AI) bernama AnomalyMatch, mereka menyisir hampir 100 juta potongan gambar (image cutouts) dari Hubble Legacy Archive hanya dalam waktu dua setengah hari—sebuah tugas yang akan memakan waktu bertahun-tahun jika dilakukan secara manual oleh tim manusia.
Penemuan ini diumumkan ESA pada 27 Januari 2026 dan dipublikasikan dalam jurnal Astronomy & Astrophysics (Desember 2025). Dari sekitar 1.400 objek anomali yang terdeteksi AI, tim kemudian meninjau secara manual dan mengonfirmasi lebih dari 1.300 di antaranya sebagai anomali sungguhan, dengan lebih dari 800 yang belum pernah dilaporkan dalam literatur ilmiah sebelumnya.
“Arsip observasi Hubble kini mencakup 35 tahun, menyediakan harta karun data di mana anomali astrofisika mungkin tersembunyi,” kata David O’Ryan, penulis utama studi tersebut.
Bagaimana AnomalyMatch Bekerja
AnomalyMatch adalah jaringan saraf (neural network) yang dilatih dengan teknik semi-supervised dan active learning untuk mendeteksi pola tidak biasa dalam gambar astronomi. AI ini meniru cara otak manusia mengenali keanehan visual, sehingga mampu menyaring banjir data Hubble yang sangat besar dan berisik.
Hubble Legacy Archive berisi puluhan ribu dataset sejak peluncuran teleskop pada 1990. Setiap potongan gambar hanya berukuran puluhan piksel (sekitar 7-8 arcsecond), mewakili potongan langit kecil. AnomalyMatch memproses hampir 99,6 juta cutout ini secara sistematis—pertama kalinya arsip Hubble dicari secara menyeluruh untuk anomali.
Setelah AI memberikan daftar kandidat, O’Ryan dan Gómez melakukan verifikasi manual untuk memastikan keakuratan.
Jenis Anomali yang Ditemukan
Mayoritas anomali adalah galaksi yang sedang bergabung atau berinteraksi, menghasilkan bentuk tidak biasa. Beberapa kategori menonjol meliputi:
- Lensa gravitasi — Cahaya dari objek jauh dibengkokkan menjadi lingkaran, busur, atau cincin oleh massa besar di depannya (seperti galaksi atau gugus galaksi).
- Galaksi ubur-ubur (jellyfish galaxies) — Galaksi dengan “tentakel” gas yang menjuntai akibat interaksi dengan medium antargalaksi.
- Galaksi dengan gumpalan bintang besar atau cincin/arc yang tidak biasa.
- Yang paling menarik: Beberapa lusin objek (sekitar 43 menurut beberapa laporan) yang menentang klasifikasi sama sekali—tidak cocok dengan kategori astronomi yang ada, berpotensi menjadi penemuan baru atau fenomena langka.
Gambar contoh dari penemuan ini menunjukkan enam objek aneh, termasuk galaksi berbentuk tidak biasa dan lensa gravitasi, dirilis oleh ESA/NASA dengan kredit: NASA, ESA, David O’Ryan (ESA), Pablo Gómez (ESA), Mahdi Zamani (ESA/Hubble).
Mengapa Ini Penting?
Data astronomi dari teleskop seperti Hubble (dan mendatang James Webb) terus membanjiri ilmuwan. AI seperti AnomalyMatch membuktikan kemampuannya memaksimalkan nilai arsip lama, menemukan hal-hal yang terlewat meski Hubble telah dipelajari selama puluhan tahun.
“Ini adalah penggunaan AI yang fantastis untuk memaksimalkan hasil ilmiah dari arsip Hubble,” kata Pablo Gómez. “Menemukan begitu banyak objek anomali di data yang sudah lama, di mana Anda mungkin berpikir semuanya sudah ditemukan, adalah hasil yang bagus. Ini juga menunjukkan betapa bergunanya alat ini untuk kumpulan data besar lainnya.”
Penemuan ini menandai kemajuan signifikan dalam astronomi komputasional, di mana AI tidak hanya mempercepat analisis tapi juga membuka pintu untuk penemuan tak terduga di masa depan—termasuk potensi objek yang benar-benar baru bagi sains.
Untuk detail lengkap, lihat makalah asli di Astronomy & Astrophysics atau situs resmi ESA Hubble.







