Zona Malang – Rocket Lab, perusahaan penerbangan antariksa swasta, akan meluncurkan dua satelit kecil untuk NASA dalam misi PREFIRE (Energi Radiasi Kutub dalam Eksperimen Inframerah Jauh). Misi ini bertujuan untuk membantu ilmuwan dalam memahami dampak pemanasan iklim terhadap lapisan es di kutub Bumi.
Satelit-satelit yang seukuran roti ini akan membawa instrumen mini yang disebut spektrometer IR termal. Misi PREFIRE akan mengumpulkan data tentang energi inframerah jauh yang dipancarkan di kutub dan bagaimana emisi ini berubah seiring waktu. Meskipun hampir 60% emisi Arktik terjadi pada panjang gelombang inframerah jauh, bagian spektrum energi Bumi ini masih kurang dipahami.
Data yang dihasilkan oleh misi ini akan memungkinkan para ilmuwan untuk membandingkan informasi tentang kondisi tutupan awan dan permukaan es laut di bawahnya. Dengan demikian, diharapkan akan terbentuk model iklim yang lebih akurat di masa depan.
Rocket Lab berencana meluncurkan kedua satelit ini dengan menggunakan roket Electron pada dua peluncuran yang dijadwalkan pada Mei 2024. Peluncuran tersebut akan dilakukan dari situs peluncuran Rocket Lab di Semenanjung Mahia, Selandia Baru. Kemungkinan, peluncuran ini akan dilakukan secara berurutan mengingat persyaratan khusus dari misi PREFIRE.
Peluncuran ini diselenggarakan sebagai bagian dari program Acquisition of Dedicated and Rideshare (VADR) kelas Venture yang dikelola oleh NASA. Program ini memiliki anggaran sekitar $300 juta selama lima tahun untuk menempatkan muatan NASA pada roket komersial.
Peluncuran ini akan menjadi peluncuran ke-7 dan ke-8 yang Rocket Lab lakukan atas nama NASA sejak tahun 2018. Sebelumnya, Rocket Lab telah berhasil meluncurkan empat satelit pemantau badai untuk NASA pada awal tahun ini di bawah program VADR.
Hingga saat ini, nilai kontrak peluncuran ini belum diungkapkan oleh baik Rocket Lab maupun NASA. TechCrunch telah meminta konfirmasi nilai kontrak ini dan akan mengupdate informasi ketika ada respons dari pihak terkait.***







