Tahlil Rutin di Desa Sukodadi: Memperkuat Tradisi dan Kebersamaan di Tengah Modernitas

Desa Sukodadi, Wagir, Kabupaten Malang, menjadi saksi bisu dari kegiatan tahlil rutin yang diadakan oleh kelompok KKM Sahityabavana setiap minggu. Setiap sore, warga berkumpul di rumah salah satu anggota secara bergiliran, menjadikan momen ini sebagai ajang untuk berdoa dan mempererat tali silaturahmi. Pada Minggu (29/12/2024), kegiatan dimulai dengan pembacaan asmaul husna, dilanjutkan dengan tahlil, dzikir, dan diakhiri dengan doa bersama.

Kegiatan ini didominasi oleh kalangan ibu-ibu dan nenek-nenek, yang dengan penuh semangat mengikuti setiap rangkaian acara. Bu Nur, ketua Muslimat setempat, menjelaskan bahwa tahlilan telah menjadi tradisi yang terjaga selama bertahun-tahun. “Kegiatan ini bukan hanya untuk mendoakan keluarga yang telah tiada, tetapi juga sebagai momen untuk berbagi cerita, saling mendukung, dan menjaga kekompakan masyarakat desa,” ungkapnya.

Lebih jauh, Bu Nur menekankan bahwa tahlilan memiliki peran penting dalam memperkuat nilai-nilai keagamaan di tengah arus globalisasi yang semakin deras. “Dengan tahlilan, kita tidak hanya mendoakan para leluhur, tetapi juga mempertebal iman dan takwa kepada Allah SWT,” tambahnya. Kegiatan ini menjadi pengingat akan pentingnya menjaga tradisi yang telah diwariskan oleh generasi sebelumnya.

Setelah doa bersama, acara biasanya dilanjutkan dengan ramah tamah dan menikmati hidangan sederhana yang disiapkan oleh tuan rumah. Momen ini dimanfaatkan oleh warga untuk berbagi informasi, mengadakan arisan, atau sekadar bercanda tawa, yang semakin menguatkan ikatan persaudaraan di antara mereka. “Kegiatan ini sangat berarti bagi kami, karena selain berdoa, kami juga bisa saling berbagi dan mendukung satu sama lain,” kata Bu Nur.

Kegiatan tahlilan di Desa Sukodadi menjadi bukti bahwa tradisi lokal memiliki peran vital dalam menjaga harmoni sosial dan spiritual masyarakat. Dengan melestarikan tradisi ini, warga tidak hanya menghormati warisan leluhur, tetapi juga memperkuat jalinan kebersamaan yang menjadi fondasi kehidupan bermasyarakat.

Di tengah era modern yang cenderung individualis, tahlilan hadir sebagai oase yang menenangkan. Semangat kebersamaan dan nilai-nilai spiritual yang ditanamkan melalui kegiatan ini menunjukkan bahwa harmoni dan solidaritas adalah kunci untuk menjalani kehidupan yang bermakna. Tahlilan bukan sekadar ritual, tetapi juga sebuah pernyataan bahwa komunitas yang kuat dapat bertahan dan berkembang meskipun dihadapkan pada tantangan zaman.

Kontributor: Hanifa Raihan Noor Dini