Zona Malang – Prodi Teknik Industri Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) baru saja menggelar Industrial Engineering Expo yang sukses menarik perhatian publik. Kegiatan rutin ini berlangsung pada Sabtu, 18 Januari 2025, dengan fokus utama pada inovasi di bidang bahan bangunan, paving, dan batako.
Sebanyak 38 kelompok mahasiswa memamerkan berbagai prototipe hasil karya mereka yang mengedepankan efisiensi dan solusi terhadap masalah industri yang masih menggunakan sistem manual.
Dalam pameran ini, inovasi menarik hadir lewat berbagai prototipe yang dihasilkan mahasiswa, mulai dari alat sortir biji kopi, sistem manajemen inventaris pintar, hingga mesin pembuat briket otomatis dan pengering solar.
Yoga Adiwinata Prayitno, ketua pelaksana acara ini, menegaskan bahwa pameran ini merupakan hasil dari mata kuliah praktikum Perancangan Sistem Terpadu (PST). “Selain menunjukkan kreativitas, tujuan kami adalah memberikan solusi nyata untuk menyelesaikan permasalahan sistem kerja manual yang masih banyak ditemui di bidang industri,” ungkapnya.
Dalam konteks industri saat ini, banyak perusahaan yang masih menggunakan metode manual, yang berdampak pada lama waktu produksi dan efisiensi. Yoga menjelaskan,
“Kehadiran kami di pameran ini bertujuan untuk menawarkan analisis dan desain produk yang dapat mempercepat proses produksi. Contohnya, pabrik yang sebelumnya hanya mampu memproduksi 1000 pavings per hari, dengan alat baru ini bisa meningkat menjadi 3000 pavings per hari.”
Salah satu inovasi yang mencuri perhatian adalah mesin pengayak pasir, sebuah alat yang tidak hanya mempercepat proses pengayakan namun juga membutuhkan hanya satu orang untuk mengoperasikannya. Ini tentunya menjadi terobosan yang meningkatkan efisiensi dan produktivitas, terutama di sektor konstruksi.
Lebih menarik lagi, mahasiswa UMM menunjukkan komitmen terhadap lingkungan dengan menggunakan bahan-bahan daur ulang dalam setiap prototipenya, seperti plastik, kardus, dan botol bekas.
“Kami memilih bahan-bahan ini dengan pertimbangan untuk membuat produk yang lebih ramah lingkungan, sekaligus sesuai dengan desain yang telah direncanakan. Beberapa kelompok juga memanfaatkan teknologi AI sebagai pengembangan fitur tambahan pada produk mereka,” jelas Yoga.
Mahasiswa diharuskan untuk menciptakan prototipe dalam waktu yang relatif singkat—sekitar satu bulan—namun menariknya, beberapa kelompok berhasil menyelesaikan rancangannya dalam waktu seminggu.
Sebagai penutup, Yoga berharap melalui pameran ini produk yang dihasilkan tidak hanya menarik, tetapi juga bermanfaat bagi masyarakat. “Ilmu yang bermanfaat adalah yang dapat diaplikasikan dan disebarkan kepada masyarakat luas,” pungkasnya.
Acara ini diharapkan tidak hanya menjadi ajang pameran, tetapi juga jembatan untuk memperkenalkan inovasi yang dapat meningkatkan produktivitas industri lokal.







