Rahasia Bisnis Danantara Dongkrak Kepercayaan Pasar Global

MALANG, Zona Malang – Badan Pengelola Investasi (BPI) Daya Anagata Nusantara (Danantara) resmi mengumumkan susunan pengurusnya, yang dipandang sebagai “Tim Impian” untuk merumuskan strategi pengelolaan dan pengembangan dana tersebut. Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati dipastikan masuk dalam jajaran dewan pengawas, memperkuat struktur tim dan berpotensi membangun kepercayaan pasar investasi global.

Analis Ekuitas dari Kiwoom Sekuritas, Oktavianus Audi, mengatakan bahwa struktur tim Danantara berpotensi membangun kepercayaan pasar karena dipimpin oleh nama-nama global yang memiliki kredibilitas di sektor keuangan. Danantara dipimpin oleh Rosan Roeslani sebagai Kepala Badan/Chief Executive Officer (CEO), Dony Oskaria sebagai Chief Operational Officer (COO), dan Pandu Sjahrir sebagai Chief Investment Officer (CIO).

Jajaran Dewan Pengawas Danantara juga diisi oleh nama-nama ternama, seperti Erick Thohir, Muliaman Hadad, serta para Menteri Koordinator dan Sekretaris Negara. Sementara itu, Joko Widodo (Jokowi) dan Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) masuk dalam jajaran Dewan Pengarah, serta Ray Dalio, Helman Sitohang, Jeffrey Sachs, F. Chapman Taylor, dan Thaksin Shinawatra sebagai Dewan Penasihat.

Danantara, yang resmi diluncurkan bulan lalu, menjadi instrumen utama Presiden Indonesia Prabowo Subianto untuk mencapai target pertumbuhan ekonomi 8 persen pada 2029. Danantara bertanggung jawab mengelola saham-saham perusahaan milik negara dan menginvestasikan kembali dividen ke dalam proyek-proyek komersial. Danantara yang akan mengelola lebih dari AS$900 miliar ini disebut-sebut sebagai versi Indonesia dari Temasek, perusahaan investasi milik pemerintah Singapura.

Dalam investasi tahap pertama senilai $20 miliar, Danantara akan fokus pada proyek-proyek di sektor pengolahan sumber daya alam, pengembangan kecerdasan buatan, serta ketahanan energi dan pangan. Wijayanto Samirin, ekonom dari Universitas Paramadina, mengingatkan bahwa manajemen Danantara harus memastikan dana kelolaan tersebut tidak menjadi sasaran campur tangan politik di masa depan.

Dalam artikel berjudul “Panicked Investors Should Give Indonesia a Second Look” di Asiatime.com, Nigel Green menyebut bahwa penunjukkan ini sebaiknya dilihat sebagai tanda atas komitmen Indonesia dalam profesionalisasi serta pendekatan yang bersifat global terhadap kekayaan negara. Investor di seluruh dunia seharusnya menyambut perkembangan ini, bukan menjauh, karena nama-nama yang terlibat seperti Ray Dalio dan Jeffrey Sachs memiliki kredibilitas global yang tinggi.

Artikel tersebut juga menyebut bahwa langkah ini menjadi bukti bahwa Indonesia ingin memiliki pemikiran kelas dunia dan tidak takut untuk diawasi oleh mereka yang memiliki standar tertinggi. Pesan yang ingin disampaikan kepada dunia adalah bahwa Indonesia tidak akan terjebak dalam sistem pemerintahan otoriter atau keuangan yang tidak terkendali, dan berusaha melompat ke era baru kapitalisme negara yang strategis.

Investor sering kali menuntut perubahan, tetapi mereka menjadi takut ketika perubahan tersebut terlihat tidak biasa. Mengalihkan dividen BUMN melalui struktur baru mungkin tidak biasa, tetapi situasi saat ini tidak dapat dipertahankan. Bagi Asia secara lebih luas, ini harus menjadi peringatan bahwa banyak negara di wilayah ini memiliki sumber daya negara yang sangat besar, namun sering kali tidak dikelola dengan baik, tidak dimanfaatkan secara maksimal, atau dipolitisasi.

Selain itu, Sri Mulyani juga mengungkapkan bahwa Danantara bisa bekerja sama dengan New Development Bank (NDB) dalam hal pengelolaan dana investasi. Indonesia sudah mendeklarasikan diri untuk bergabung dengan NDB, yang merupakan sebuah bank yang didirikan oleh negara-negara BRICS untuk memobilisasi Sumber Daya Alam (SDA) dalam pengembangan infrastruktur dan proyek pengembangan berkelanjutan. Kolaborasi antara Danantara dan NDB akan didalami pemerintah untuk mendorong ekonomi Indonesia.

Dengan struktur kepemimpinan yang kuat, komitmen terhadap profesionalisme, serta kerja sama internasional, Danantara diharapkan dapat menjadi contoh bagi jenis baru dana kekayaan negara yang tidak hanya berinvestasi pada aset, tapi juga pada masa depan Indonesia.