Zonamalang.com – Upaya mencegah dan menangani bullying di sekolah tidak cukup hanya melalui sosialisasi kepada siswa. Kompetensi guru Bimbingan dan Konseling (BK) juga perlu diperkuat agar mampu mendampingi korban maupun pelaku secara tepat. Hal ini menjadi fokus Tim Pengabdian kepada Masyarakat Departemen BK Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Malang (BK FIP UM) melalui pelatihan Konseling Suryomentaram bagi guru BK SMP di Kota Malang.
Pelatihan ini dirancang bukan sekadar memberikan materi mengenai bullying, tetapi juga membekali guru dengan keterampilan praktis untuk menerapkan Konseling Suryomentaram. Tim PKM BK FIP UM yang terlibat terdiri dari Prof. Dr. Adi Atmoko, M.Si., Dr. Khairul Barriyah, M.Pd., Nugraheni Warih Utami, M.Pd., dan Devy Probowati, M.Pd. Mereka menyusun materi sesuai kebutuhan guru di sekolah, mulai dari konsep dasar Konseling Suryomentaram, dinamika bullying dari perspektif pelaku maupun korban, praktik konseling, hingga evaluasi penerapan di lapangan.
Peserta tidak hanya menerima pembelajaran teoritis, tetapi juga dilibatkan dalam praktik konseling sehingga memperoleh pengalaman langsung. Hasil praktik di sekolah kemudian menjadi catatan penting bagi guru BK dalam mendampingi siswa yang terlibat kasus bullying. Pendekatan ini diharapkan memberi pemahaman lebih mendalam terhadap pengalaman psikologis siswa.
Ketua Tim Pengabdian BK FIP UM, Prof. Dr. Adi Atmoko, menegaskan bahwa konseling berbasis Suryomentaram diarahkan agar guru BK memiliki cara yang lebih tepat dalam memahami pengalaman batin siswa. “Topik kegiatan dapat membantu guru BK untuk mencegah terjadinya bullying dan menangani pelaku serta korban dengan konseling Suryomentaram,” ujarnya.
Menurut Adi, bullying bukan hanya persoalan perilaku atau relasi sosial, tetapi juga meninggalkan luka psikologis yang harus diurai dengan tepat. Pendekatan Suryomentaram dipilih karena berakar pada nilai budaya Indonesia, sehingga lebih relevan dengan konteks siswa di sekolah. Guru BK diharapkan dapat memanfaatkan metode ini untuk menangani persoalan relasi sebaya, konflik, pengelolaan emosi, hingga kecenderungan perilaku agresif.
Kolaborasi dengan Musyawarah Guru BK (MGBK) SMP Kota Malang menjadi bagian penting dari kegiatan ini. Universitas tidak hanya memberikan materi, tetapi juga membangun kerja sama berdasarkan persoalan nyata yang dihadapi guru BK di sekolah. Dengan demikian, pelatihan ini tidak berhenti pada teori, melainkan berlanjut pada implementasi yang sesuai kebutuhan.
Tim BK UM berharap peningkatan kapasitas guru BK dapat memperkuat layanan konseling di SMP Kota Malang. Dengan layanan yang lebih responsif, sekolah diharapkan menjadi ruang aman bagi siswa untuk belajar, membangun relasi sosial, dan berkembang secara optimal. “Kolaborasi antara universitas dan MGBK diharapkan dapat meningkatkan layanan BK di sekolah sehingga siswa dapat berkembang dengan optimal dan mengatasi masalah dengan tepat,” pungkas Adi.
Pelatihan ini menjadi langkah nyata perguruan tinggi dalam mendukung sekolah menghadapi tantangan bullying. Dengan pendekatan berbasis budaya dan praktik langsung, guru BK diharapkan mampu menghadirkan pendampingan yang lebih humanis, efektif, dan berkelanjutan.







