MALANG – Sebuah prestasi membanggakan berhasil ditorehkan di kancah internasional oleh Azmi Aqidatul Hanifa, seorang mahasiswi dari Program Studi Psikologi, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Brawijaya (FISIP UB).
Ia sukses menjadi satu-satunya delegasi dari Indonesia yang terpilih untuk mengikuti ajang bergengsi, Student Conference in Maribor (SCiM) 2025, yang diselenggarakan di Maribor, Slovenia, pada akhir Juni hingga awal Juli lalu.
SCiM bukan sekadar forum diskusi biasa; ia adalah sebuah kawah candradimuka intelektual, salah satu konferensi pelajar tahunan terbesar di Eropa yang mempertemukan talenta-talenta muda dari seluruh penjuru dunia.
Mengusung tema besar “Digitalisasi”, konferensi tahun ini menjadi ajang krusial untuk membedah bagaimana revolusi digital secara fundamental telah mengubah cara manusia hidup, berkomunikasi, dan bahkan memahami diri sendiri di tengah gempuran teknologi.
Di antara berbagai lokakarya yang ditawarkan, Azmi terjun ke dalam diskusi yang sangat relevan dengan bidang ilmunya, yaitu workshop bertajuk “Psyborg Meet Your Online Self(s)”.
Forum ini secara mendalam mengupas fenomena psikologis modern tentang bagaimana individu kerap membangun dan menampilkan “kepribadian digital” sebuah persona online yang terkurasi dan seringkali berbeda drastis dari jati diri mereka di dunia nyata.
“Diskusi kami menelisik jurang antara persona ideal yang kita tampilkan di media sosial dengan diri kita yang otentik. Ini bukan sekadar fenomena permukaan, melainkan isu yang berdampak langsung pada kesehatan mental, mulai dari persepsi diri yang terdistorsi hingga tekanan sosial akibat ekspektasi digital yang tidak realistis,” papar Azmi, menjelaskan esensi dari lokakaryanya.
Kekayaan perspektif dalam lokakarya tersebut diperkuat oleh keberagaman peserta yang datang dari benua Eropa, Amerika Latin, Asia, hingga Afrika. Interaksi lintas budaya ini, menurut Azmi, membuka matanya terhadap dimensi baru dalam psikologi global.
“Diskusi menjadi sangat kaya karena semua orang membawa lensa budaya dan akademis yang unik. Saya belajar langsung bagaimana digitalisasi membentuk anak muda di negara lain; ada banyak tantangan yang serupa, namun juga solusi dan masalah yang sangat spesifik di setiap wilayah,” ujarnya.
Tak hanya menempa diri secara akademis, Azmi juga mengambil peran sebagai duta budaya. Pada malam keakraban bertajuk international dinner night, ia dengan bangga menyajikan makanan tradisional khas Indonesia dan mengenakan batik.
Momen ini menjadi ajang diplomasi budaya yang efektif, di mana banyak peserta dari negara lain menunjukkan ketertarikan dan antusiasme untuk mengenal Indonesia lebih dekat.
Perjalanannya untuk bisa berdiri di panggung Eropa tersebut bukanlah hal yang mudah. Azmi harus melewati proses seleksi yang sangat kompetitif, termasuk penyusunan esai mendalam yang harus selaras dengan tema besar konferensi serta sesi wawancara daring yang menantang dengan panitia penyelenggara dari Slovenia.
Bagi Azmi, pengalaman di SCiM lebih dari sekadar perjalanan akademik; ia adalah sebuah momen transformasional.
“Kesempatan ini tidak hanya memperluas jejaring dan ilmu, tetapi juga membuka cara pandang saya terhadap dunia. Saya semakin yakin bahwa tantangan global seperti digitalisasi ini membutuhkan kolaborasi dan pemahaman lintas budaya untuk bisa dipecahkan,” katanya.
Kini, dengan bekal wawasan global yang ia bawa pulang, Azmi berharap pengalamannya dapat menjadi percikan inspirasi bagi mahasiswa Universitas Brawijaya lainnya.
Ia mendorong rekan-rekannya untuk lebih berani keluar dari zona nyaman dan membuktikan bahwa potensi mahasiswa Indonesia mampu bersaing dan bersinar di forum-forum internasional.
“Potensi kita sangat besar. Kuncinya ada pada kepercayaan diri, keberanian untuk mencoba, dan kemauan untuk terus belajar,” pungkasnya.







