Malang – Upaya penguatan ekonomi kerakyatan terus digelorakan di tingkat desa. Salah satunya datang dari mahasiswa Universitas Brawijaya (UB) yang tergabung dalam program Mahasiswa Membangun Desa (MMD). Kelompok 14 UB menghadirkan inovasi bertajuk “Bersama Branding”, sebuah program pendampingan UMKM yang fokus pada penguatan identitas visual usaha.
Program ini dilaksanakan di Desa Langlang, Kecamatan Singosari, Kabupaten Malang, pada Senin (21/7/2025), dengan dukungan dosen pembimbing Rizky Fadilla Agustin Rangkuti, S.Pi., M.Si., dan digerakkan langsung oleh Nazala Mauludia, mahasiswa Program Studi Desain Grafis Fakultas Vokasi UB.
Menurut hasil observasi lapangan, Nazala menemukan bahwa banyak UMKM di Desa Langlang yang memiliki produk menarik dan khas, namun belum memiliki branding visual seperti logo, kemasan, banner, atau daftar menu. Kondisi ini menjadi alasan utama digagasnya program “Bersama Branding”.
“Produk UMKM Langlang sebenarnya punya potensi besar, tapi belum banyak yang punya identitas visual yang kuat. Lewat program ini, saya ingin membantu mereka agar tampil lebih menarik dan mudah dikenali, khususnya di media sosial,” ujar Nazala Mauludia kepada Kompas.com.
Enam UMKM Dapat Sentuhan Desain
Dalam program ini, Nazala menciptakan desain identitas visual untuk enam UMKM terpilih. Prosesnya dimulai dengan diskusi bersama pemilik usaha untuk memahami karakter produk, dilanjutkan dengan pembuatan sketsa, proses revisi, hingga desain akhir yang siap dicetak dan digunakan.
UMKM “Kacang Goreng Bu Eli” kini memiliki logo ilustratif berbentuk kacang dengan nuansa gurih dan renyah yang langsung dikenali. “Warung Kopi Buk Siti” tampil lebih modern berkat logo bergaya minimalis dan daftar menu rapi, yang memberi kesan bersih dan nyaman bagi pelanggan.
Sementara itu, “Keripik Bangkiak Bu Nanik” hadir dengan visual ceria lengkap dengan stiker kemasan yang menyertakan informasi produk dan kontak. Produk herbal “Jamu Pak Suwoto” mendapatkan desain branding yang menyatu antara unsur tradisional dan alami—mulai dari logo, label botol, hingga daftar menu yang mudah dibaca.

Di sisi lain, “Rujak Mak Bawon” kini tampil profesional lewat ilustrasi mangkuk rujak dan menu yang terorganisir dengan baik. Untuk sektor kerajinan, UMKM “Batik UL (Umi Latifa)” mendapatkan logo bergaya elegan dengan ikon bunga teratai yang menggambarkan nilai budaya dan kualitas batik khas Langlang.
Cetak, Digital, dan Siap Go Online
Seluruh hasil desain dicetak dalam bentuk stiker, banner, label produk, hingga daftar menu. Pemilik UMKM juga menerima file digital untuk memudahkan promosi melalui media sosial seperti Instagram dan WhatsApp Business.
“Selain mempercantik tampilan produk, branding ini juga meningkatkan kepercayaan pelanggan dan memperluas jangkauan pemasaran,” tambah Nazala.
Tak hanya hasil akhir, pemilik UMKM juga diberi edukasi dasar seputar pentingnya visual branding dalam membangun citra usaha. Proses ini menjadi bentuk transfer ilmu praktis yang langsung menyasar kebutuhan pelaku usaha.
Sejalan dengan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan
Program “Bersama Branding” sejalan dengan komitmen terhadap Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (Sustainable Development Goals/SDGs), khususnya poin ke-4 (Pendidikan Berkualitas) dan poin ke-8 (Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi).
Transfer ilmu desain grafis kepada masyarakat mencerminkan SDGs 4, sementara kontribusi pada peningkatan daya saing dan promosi UMKM mencerminkan SDGs 8.
Kolaborasi Nyata Mahasiswa dan Masyarakat
Partisipasi aktif pelaku UMKM selama program menjadi bukti tingginya antusiasme warga terhadap inisiatif ini. Mereka tidak hanya menerima hasil akhir desain, tetapi juga terlibat dalam proses kreatif, membangun kesadaran baru tentang pentingnya tampilan visual dalam dunia usaha.
Program ini juga mencerminkan bagaimana peran mahasiswa bisa menjadi agen perubahan langsung di masyarakat. Melalui pendekatan edukatif dan partisipatif, “Bersama Branding” menjadi jembatan antara pengetahuan akademik dan kebutuhan riil warga desa.
“Branding bukan cuma soal tampilan, tapi juga tentang membangun kepercayaan diri pemilik usaha dalam menghadapi pasar yang semakin kompetitif,” tutup Nazala.







