MALANG – Prestasi membanggakan kembali diukir oleh mahasiswa Universitas Brawijaya (UB). Sisilya Tazkia Amaradien, seorang mahasiswi Program Studi Biologi FMIPA angkatan 2022, berhasil meraih Juara Dua dalam ajang BPR BPRNS Photography Competition 2025. Kemenangan ini semakin istimewa lantaran diraih dengan modal kamera sederhana yang telah menemaninya sejak masa SMP.
Kompetisi fotografi tingkat nasional ini diselenggarakan oleh Perhimpunan Bank Perkreditan Rakyat Indonesia (Perbarindo) di Yogyakarta pada 25 Mei 2025, dengan pengumuman pemenang yang dilakukan secara daring pada bulan Agustus. Sisilya berhasil menyingkirkan ratusan peserta lain dari berbagai kalangan muda di seluruh Indonesia, membuktikan bahwa bakat dan visi jauh lebih penting daripada perangkat yang mahal.
“Kamera yang saya pakai bisa dibilang masih gear pemula, yaitu Canon 1300D dengan lensa 18–200mm,” ungkap Sisilya. “Tetapi saya tetap bersyukur, karena menurut saya yang terpenting bukan sekadar kameranya, tetapi bagaimana kita memilih angle dan objek supaya cerita dari foto itu bisa hidup dan bermakna.”
Filosofi inilah yang menjadi kunci keberhasilan Sisilya. Ia meyakini bahwa dalam sebuah lomba, juri tidak hanya mencari kesesuaian tema atau ketajaman gambar, melainkan juga seberapa kuat cerita dan makna yang dapat disampaikan melalui sebuah karya. “Tantangannya juga lumayan berat, foto-foto para peserta lomba ini sangat bagus, jadi membuat saya makin terpacu memberi yang terbaik,” imbuhnya.
Karya fotografi Sisilya yang memukau tersebut mampu menangkap esensi tema lomba tahun ini, yaitu “Menggerakkan Ekonomi dan Menyentuh Kehidupan Rakyat”. Tema ini dirancang untuk mendorong kreativitas, mengasah keterampilan visual, serta memperkenalkan peran vital perbankan rakyat dalam mendukung kehidupan masyarakat.
Melalui lensa sederhana namun dengan mata yang tajam, Sisilya berhasil merangkai narasi visual yang kuat, menunjukkan bagaimana detail-detail kecil dalam kehidupan sehari-hari dapat mencerminkan dampak besar dari pergerakan ekonomi dan sentuhan kemanusiaan.
“Menurut saya fotografi bukan cuma soal estetika gambar. Ada nilai lebih ketika foto bisa menyampaikan pesan yang kuat,” jelas Sisilya. “Jadi meskipun memakai kamera sederhana, saya berusaha mengoptimalkan dengan cara belajar memahami objek, mengatur cahaya, dan menyesuaikan komposisi supaya hasilnya punya cerita. Itu yang selalu saya pegang setiap memotret, khususnya kalau ikut lomba.”
Pengalaman mengikuti kompetisi ini bukan hanya sekadar soal kemenangan, tetapi juga memberikan pelajaran berharga tentang konsistensi, pentingnya terus mengasah kreativitas, serta kemampuan untuk bercerita melalui media visual.
Atas prestasinya, Sisilya Tazkia Amaradien berhak menerima hadiah berupa uang tunai sebesar Rp2,5 juta dan sertifikat penghargaan yang dikirimkan langsung oleh panitia. Kemenangan ini tidak hanya mengharumkan nama pribadi dan FMIPA UB, tetapi juga menjadi inspirasi bagi para fotografer muda lainnya bahwa dengan dedikasi dan visi yang kuat, setiap perangkat dapat menjadi alat untuk menciptakan karya luar biasa.







