Zonamalang.com – Hampir satu abad lalu, Mukibat, seorang petani di Kediri menyambung dua jenis ubi kayu untuk mengelabui pencuri di ladangnya. Ia tak pernah membayangkan temuannya akan dibicarakan di meja kebijakan energi nasional Republik Indonesia pada 2026.
Di tengah gencarnya pembahasan tentang ketahanan pangan dan kemandirian energi nasional, satu nama lawas kembali disebut-sebut oleh para pengambil kebijakan di Jakarta, nama itu adalah Mukibat.
Mukibat bukanlah nama pejabat, bukan pula gelar akademik seorang periset atau seorang ilmuan sohor.
Ia adalah petani biasa dari sebuah desa di Kediri, Jawa Timur, yang hidup pada rentang tahun 1903–1966.
Dari eksperimen sederhana dan tak sengaja itulah, lahir sebuah teknik pertanian yang hampir seratus tahun kemudian, disebut pemerintah sebagai salah satu solusi atas dua persoalan besar bangsa sekaligus yaitu pangan dan energi.
Berawal dari Ladang yang Sering Dijarah
Kisah asal-usul singkong Mukibat tak lepas dari kondisi ekonomi yang berat pada masa hidupnya.
Menurut penelusuran beberapa sumber penilitian akademik, Mukibat adalah seorang petani yang hidup dan tinggal di daerah Ngadiloyo, Kabupaten Kediri, pada periode 1903–1966. Sejumlah sumber lain, menyebut daerah asalnya adalah Ngadiluwih, Kediri, Jawa Timur, kedua nama desa ini kerap muncul bergantian dalam berbagai referensi sejarah lokal.
Pada rentang masa itu, ubi kayu adalah salah satu sumber pangan pokok masyarakat pedesaan Jawa. Peningkatan penanaman singkong sejalan dengan pertumbuhan penduduk Pulau Jawa yang pesat, ditambah produksi padi yang tertinggal di belakang laju pertumbuhan penduduk pada saat itu, sehingga singkong menjadi sumber pangan tambahan yang banyak digemari masyarakat.
Namun, kondisi ekonomi yang sulit membawa konsekuensi lain.
Menurut catatan Universitas Abulyatama, menyebutkan karena desakan keadaan, banyak terjadi pencurian ubi kayu di ladang-ladang milik petani pada era itu.
Untuk mengantisipasi hal tersebut, muncul gagasan menyambung ubi kayu biasa dengan batang atas ubi kayu karet, jenis yang oleh masyarakat setempat dijuluki dengan sebutan “telo gendruwo” karena umbinya pahit dan beracun jika langsung dikonsumsi.
Dari mana ide penyambungan ini muncul? Berdasarkan cerita turun-temurun yang direkam oleh beberapa sumber, Mukibat mendapatkan ide menyambung ubi karet ke ubi kayu biasa, setelah mengikuti kursus yang diberikan Petugas Penyuluh Pertanian di masa itu, di mana setiap peserta ditugasi secara individual untuk menyambung tanaman.
Dari tugas kursus itulah, sebuah teknik pertanian rakyat lahir dan saat ini dikenal luas dengan namanya sendiri, yaitu Singkong Mukibat.
Bukan Varietas Baru, Melainkan Terobosan Teknik Budidaya
Banyak orang diduga keliru mengira singkong Mukibat adalah varietas hasil persilangan genetik. Faktanya, ini adalah kesalahpahaman yang sudah lama diluruskan oleh kalangan peneliti.
Mengutip dari Kartika Noerwijati, seorang peneliti ubi kayu di Balai Penelitian Tanaman Kacang-kacangan dan Umbi-umbian (Balitkabi), Malang yang menegaskan bahwa, Singkong Mukibat itu hasil temuan teknik untuk mendongkrak panen, bukan temuan varietas baru hasil silangan.
“Jadi sebetulnya selama ini salah kaprah. Mukibat menemukan teknik mendongkrak panen, bukan menemukan varietas baru hasil silangan.” Kartika Noerwijati dikutip dari salah satu Majalah Pertanian.
Secara teknis, yang dilakukan Mukibat adalah grafting atau okulasi yaitu proses penyambungan dua jenis tanaman berbeda menjadi satu individu.
Dalam artikelnya Universitas Abulyatama menjelaskan definisinya secara ringkas, bahwa ubi kayu Mukibat, pada dasarnya adalah ubi kayu hasil sambungan dari batang bawah ubi kayu (Manihot esculenta) dengan ubi kayu karet (Manihot glaziovii).
Logika di balik teknik ini cukup elegan. Batang bawah berasal dari singkong biasa yang umbinya bisa dikonsumsi manusia, sementara batang atas berasal dari ubi kayu karet yang kanopi daunnya jauh lebih rimbun dan mampu berfotosintesis lebih maksimal dibanding singkong biasa.
Hasil fotosintesis yang berlimpah dari kanopi besar itu kemudian mengalir turun dan disimpan sebagai cadangan pati di umbi bagian bawah, yang notabene adalah umbi singkong biasa yang layak dimakan.
Menariknya, teknik ini juga terus berevolusi di tangan petani lain.
Universitas Abulyatama mencatat bahwa selama 20 tahun pertama sejak penemuan teknologi Mukibat, terdapat variasi dan modifikasi yang dilakukan petani lain, di antaranya sistem “Kurur”, di mana stek singkong biasa dan singkong karet ditanam terpisah, kemudian setelah berumur 45 hari, tunas muda ubi karet disambungkan ke tunas muda ubi kayu biasa.
Bahkan ada petani bernama Satrawi yang pernah melakukan penyambungan satu batang atas ubi karet pada tiga sampai tujuh batang bawah dari varietas bereda dalam teknik sambungan tersebut.
Hal itu ia lakukan, lantaran menimbang bahwa pertumbuhan kanopi ubi karet terlalu besar dan berat untuk ditopang satu batang bawah ubi kayu biasa.
Hasil Panen yang Melonjak Berkali-kali Lipat
Dampak dari teknik sambung ini terhadap produktivitas panen singkong tergolong dramatis untuk ukuran pertanian tradisional. Dalam sebuah artikel yang terbit di media bahwa panen singkong konsumsi yang lazimnya hanya 3–5 kilogram per tanaman, tapi dengan menggunakan teknik Mukibat ini, bisa melonjak menjadi 3 hingga 6 kali lipat dari biasanya.
Bahkan disebutkan bahwa sekitar 30-40 tahun yang lalu, ada peneliti pertanian asal Belanda bernama Gerard H. de Bruyn, sempat terpesona dengan teknik mukibat karena penemuan pekebun asal Kediri itu mampu mendongkrak produksi singkong hingga 15–20 kilogram per tanaman, bahkan sebagian versi menyebutkan Singkong Mukibat bisa memproduksi sekitar 100 – 150 kilogram pertanaman.
Klaim soal produktivitas ini bukan sekadar cerita dari mulut ke mulut. Beberapa media berita dari tingkat lokal hingga nasional, mencatat bahwa sistem singkong Mukibat telah diteliti oleh Universitas Brawijaya pada tahun 1974 silam, dan hasilnya menunjukkan produktivitas ubi kayu Mukibat mampu ditingkatkan hingga lebih dari 70 ton per hektare.
Satu tanaman singkong Mukibat pernah tercatat mampu berproduksi lebih dari 100 kilogram dengan usia tanam lebih dari satu setengah tahun.
Mengutip dari sumber media lokal, teknik warisan petani Ngadiluwih ini bahkan sempat menarik perhatian dua lembaga penelitian pertanian internasional, yaitu IITA (International Institute of Tropical Agriculture) di Nigeria dan CIAT (Centro Internacional de Agricultura Tropical) di Cali, Kolombia.
Fenomena “singkong raksasa” yang belakangan kerap viral di media sosial dan media daerah pun umumnya merupakan hasil dari sistem sambungan Mukibat ini.
Berdasarkan penulusuran informasi dari tim redaksi BacainD.com, Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian Kabupaten Kuningan pernah memberitakan sebuah singkong seberat 50 kilogram yang dihadiahkan kepada Penjabat (Pj) Bupati Kuningan pada 2024 silam.

Singkong besar tersebut diklaim ditanam oleh Wiwi Wariah, Ketua Kelompok Wanita Tani (KWT) Munggaran, di Desa Karanganyar, Kecamatan Darma, dan menurut keterangan resmi dari Kadis Ketahanan Pangan dan Pertanian Kabupaten Kuningan Dr Wahyu Hidayah, pada (25/8/2024) lalu yang menegaskan bahwa, singkong ini merupakan “singkong kawinan” hasil sistem sambungan ala Mukibat.
Mengapa Teknik Ini Tak Pernah Benar-Benar Populer di Kalangan Petani?
Meski hasilnya menjanjikan, teknik Mukibat sesungguhnya tidak pernah menjadi arus utama dalam budidaya singkong nasional. Ada alasan praktis di baliknya.
Ada sejumlah kendala di lapangan, antara lain adalah dibutuhkan keterampilan khusus dalam pembuatan bibit, tanaman ubi karet sebagai batang atas tidak selalu tersedia di setiap daerah, dan dibutuhkan penanganan lubang tanam yang berbeda dari budidaya singkong biasa.
Karena rumitnya proses grafting dan ketergantungan pada ketersediaan indukan ubi karet, teknik ini pun lebih banyak bertahan sebagai pengetahuan lokal yang diwariskan secara turun-temurun ketimbang berkembang menjadi praktik industri berskala besar.
Baru pada beberapa dekade berikutnya, sejumlah petani dan peneliti mencoba meneruskan semangat inovasi Mukibat dengan cara berbeda. Sebagaimana KH Abdul Jamil (yang disebut kerabat Mukibat-red), bersama petani Soedigdo dari Lampung menemukan varietas baru bernama “darul hidayah” pada akhir 1990-an, yang mana pada kisaran tahun 1998 menarik perhatian seorang peneliti dari Balitkabi Malang, Koes Hartojo Hendroatmodjo, hingga akhirnya dilepas sebagai varietas unggul nasional pada tahun yang sama kala itu.
Perbedaan Mendasar Singkong Mukibat dengan Singkong Biasa
Merangkum berbagai sumber, ada tiga perbedaan mendasar antara singkong Mukibat dan singkong konvensional yang biasa ditanam petani Indonesia:
1. Cara memperbanyak dan penanaman
Singkong biasa diperbanyak dengan cara sederhana, yakni stek batang dari satu jenis tanaman yang sama. Sedangkan Singkong Mukibat lahir dari proses penyambungan (grafting) dua jenis ubi kayu berbeda, yang membutuhkan keahlian teknis lebih tinggi dan proses yang lebih rumit dalam penyiapan bibit.
2. Ukuran dan bobot umbi
Karena disokong oleh kanopi daun yang jauh lebih besar dari ubi kayu karet, umbi singkong Mukibat bisa tumbuh jauh melampaui ukuran singkong biasa, sebagaimana yang seringkali dikenal dengan nama “singkong raksasa” yang kerap diberitakan diberbagai media.
3. Rasa dan peruntukan konsumsi
Karena unsur genetik dari ubi kayu karet yang cenderung pahit ikut memengaruhi karakter umbinya, singkong Mukibat umumnya dianggap kurang enak untuk dikonsumsi langsung dibanding singkong biasa. Sifat inilah yang saat ini secara mengejutkan, justru menjadi nilai jual utamanya di sektor energi.
Dari Siasat Antipencuri, Kini Jadi Bahan Baku Bioetanol Nasional
Di sinilah letak ironi sekaligus keunikan kisah ini. Sifat “kurang enak dimakan” yang dulu sengaja diupayakan Mukibat untuk mengelabui pencuri di ladangnya, kini justru menjadi keunggulan strategis singkong ini di era energi terbarukan.
Berdasarkan laporan Kompas.com yang terbit pada 20 Juli 2026, Direktur Jenderal Energi Baru, Terbarukan, dan Konservasi Energi (EBTKE) Kementerian ESDM, Eniya Listiani Dewi, mengungkapkan bahwa pemerintah tengah menyusun strategi agar pasokan bahan baku bioetanol mencukupi ketika program E20 mulai diterapkan.
Menurutnya, pemerintah akan lebih dulu mengembangkan tiga komoditas, salah satunya adalah singkong mukibat yang kurang diminati untuk dikonsumsi langsung, sehingga diharapkan tidak mengganggu ketahanan pangan masyarakat.
Eniya menjelaskan alasan pemilihan singkong mukibat secara sepesifik.
“Nah bahan bakunya kita address tiga dulu. Ada ketela yang besar-besar, varietas mukibat. Karena lebih pahit, tidak berbenturan sama pangan dan patinya juga lumayan besar,” Eniya.
Selain singkong mukibat, dilaporkan bahwa pemerintah juga akan memanfaatkan jagung dan tebu sebagai sumber bioetanol, dengan bioetanol dari jagung berasal dari bagian bonggolnya alias bagian yang selama ini kerap menjadi limbah pertanian.
Strategi ini secara langsung menjawab kekhawatiran klasik dalam pengembangan energi berbasis tanaman pangan, yaitu potensi kompetisi antara kebutuhan pangan dan kebutuhan energi (sering disebut sebagai isu food vs fuel).
Dengan memilih varietas yang secara alami kurang diminati untuk konsumsi langsung namun tetap kaya kandungan pati, pemerintah berupaya memastikan produksi bioetanol tidak menggerus pasokan pangan nasional.
Mengapa Singkong Layak Jadi Andalan Bioetanol?
Secara ilmiah, singkong memang tergolong bahan baku ideal untuk produksi bioetanol.
Sebuah kajian akademik yang dimuat dalam jurnal Cocos terbitan Universitas Sam Ratulangi menjelaskan bahwa salah satu bahan pokok yang baik digunakan untuk menghasilkan bioetanol adalah singkong atau ubi kayu, karena kandungan patinya yang tinggi dapat difermentasi menjadi glukosa, kemudian diolah lebih lanjut menjadi etanol melalui proses destilasi.
Tim Redaksi BacainD.com juga mengutip dari materi ajar bioteknologi dari beberapa sumber buku, yang turut menjabarkan sisi keunggulan lingkungan dari bioetanol.
Bioetanol dianggap lebih ramah lingkungan karena karbon dioksida yang dihasilkan dari pembakaran mesin akan diserap kembali oleh tanaman yang digunakan sebagai bahan baku berikutnya, sehingga tidak terjadi akumulasi karbon di atmosfer seperti yang lazim ditimbulkan oleh bahan bakar fosil.
Materi yang sama juga mencatat bahwa bioetanol memiliki angka oktan yang tinggi, mencapai 135.
Menariknya, kajian jurnal yang sama juga sempat mengingatkan potensi tarik-menarik kepentingan ini jauh sebelum isu ini menjadi kebijakan resmi pada 2026.
Dikutip dari jurnal Cocos, disebutkan bahwa pada 2012 Badan Ketahanan Pangan Kementerian Pertanian sempat mengadakan program “Mengangkat Gengsi Singkong untuk Memperkuat Ketahanan Pangan Alternatif” sehingga singkong lebih diutamakan untuk persediaan bahan pangan, yang berarti ada kemungkinan persaingan penggunaan singkong antara sektor energi dan sektor pangan.
Kekhawatiran satu dekade lalu inilah yang tampaknya kini coba dijawab pemerintah lewat strategi memilih spesifik singkong mukibat sebagai bahan baku energi, karena karakternya yang memang bukan primadona konsumsi rumah tangga.
Skala Potensi: Singkong Indonesia di Kancah Dunia

Untuk memahami skala peluang di balik kebijakan ini, penting melihat posisi Indonesia sebagai produsen singkong global.
Berdasarkan data yang dihimpun Databoks Katadata dari Organisasi Pangan dan Pertanian Dunia (FAO), Indonesia menempati posisi kelima sebagai produsen singkong terbesar di dunia, dengan sentra produksi tersebar di 13 provinsi, di mana lima provinsi penghasil terbesar adalah Lampung, Jawa Tengah, Jawa Timur, Jawa Barat, dan DI Yogyakarta.
Sementara itu, data yang dihimpun Badan Standardisasi Instrumen Pertanian (BSIP) Kementerian Pertanian mencatat bahwa Indonesia memproduksi hampir 15 juta ton singkong pada 2022, menjadikannya penyangga pangan nasional yang strategis.
Namun sumber yang sama juga mengungkap sisi lain yang kontradiktif: Indonesia justru merupakan negara importir tepung tapioka terbesar kedua di dunia, akibat kebutuhan hilirisasi industri pangan yang terus meningkat.
Dari sisi perdagangan, laporan Kementerian Perindustrian (Kemenperin) pada masanya mencatat tren positif permintaan ekspor singkong, dengan Masyarakat Singkong Indonesia (MSI) memproyeksikan produksi singkong nasional bisa mencapai 22 juta ton, naik dari 20 juta ton pada tahun sebelumnya.
Kemenperin juga mencatat bahwa singkong Indonesia diekspor ke berbagai negara produsen bioetanol seperti China, Jepang, dan Korea Selatan, hal tersebut menjadi bukti bahwa permintaan global terhadap singkong sebagai bahan baku energi memang telah lama menjadi tren dunia, jauh sebelum Indonesia sendiri serius menggarap potensi ini di dalam negeri.
Tantangan yang Tetap Perlu Diwaspadai
Meski peluangnya besar, sejumlah pihak mengingatkan agar pemanfaatan lahan untuk bahan baku energi tetap dikelola secara cermat.
Artikel yang dimuat salah satu Media Mahasiswa Indonesia menegaskan bahwa jika tidak dikelola dengan bijak, penggunaan bahan pangan untuk energi dapat memengaruhi ketersediaan dan harga pasar, sehingga solusi yang disarankan adalah dengan cara mengoptimalkan pemanfaatan limbah pertanian atau lahan marginal yang tidak digunakan untuk produksi pangan utama.
Pendekatan pemerintah dengan memilih singkong mukibat sebagai bahan baku bioetanol tampak selaras dengan semangat ini.
Dengan memanfaatkan varietas Singkong Mukibat yang sejak awal memang tidak diminati untuk konsumsi pangan langsung, potensi benturan kepentingan antara sektor energi dan sektor pangan bisa diminimalkan.
Dari sisi fluktuasi harga, laporan bisnis dari industri lokal dikutip pada Mei 2026 turut menggambarkan dinamika pasar singkong domestik saat ini.
Disebutkan bahwa harga singkong di sejumlah daerah sempat berada di bawah Rp1.000 per kilogram, sementara pemerintah menetapkan harga minimal sekitar Rp1.350 per kilogram guna menjaga keseimbangan antara kepentingan petani dan industri.
Kondisi pasar yang masih fluktuatif ini menjadi salah satu tantangan yang perlu diselesaikan bila pemerintah ingin menjadikan singkong, termasuk varietas mukibat, sebagai tulang punggung program bioetanol jangka panjang.
Warisan yang Terus Hidup Lintas Zaman
Perjalanan panjang singkong Mukibat menunjukkan bagaimana sebuah inovasi sederhana dari seorang petani kampung bisa terus relevan lintas zaman hingga saat ini.
Muncul dari solusi darurat menghadapi pencurian di masa kolonial, menjadi objek riset ilmiah Universitas Brawijaya pada dekade 1970-an, hingga kini menjelma sebagai salah satu tumpuan strategi kemandirian energi nasional pada 2026, alias hampir satu abad setelah Mukibat lahir.
Kisah ini juga menjadi pengingat penting soal perlunya melindungi dan mendokumentasikan kearifan pertanian lokal Indonesia. Dalam sebuah kolom yang dimuat Tempo.co, disebutkan bahwa penguatan ketahanan pangan melalui pemuliaan jenis flora dan fauna perlu terus didorong sembari menjaga benih lokal dan keanekaragaman hayati sebagai harta paling berharga yang dimiliki Indonesia.
“Nama Mukibat sendiri pada akhirnya abadi bukan sebagai nama sebuah varietas tanaman, melainkan sebagai nama sebuah teknik, jejak seorang petani dari Kediri, yang dalam keterbatasannya melawan pencurian di ladang sendiri, justru menciptakan sesuatu yang jauh lebih besar dari yang ia bayangkan, yaitu sebuah warisan yang kini dibicarakan hingga ke meja kebijakan energi nasional Republik Indonesia,” Tim Redaksi BacainD.com







