Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) resmi menetapkan bahwa awal Ramadhan 1446 H jatuh pada Sabtu, 1 Maret 2025. Keputusan ini diumumkan setelah tim Rukyatul Hilal Nahdlatul Ulama melalui Lembaga Falakiyah PBNU berhasil melihat hilal di beberapa titik pemantauan yang telah ditentukan.
Sekretaris Jenderal PBNU, H. Saifullah Yusuf, menyatakan bahwa berdasarkan laporan dari tim Lembaga Falakiyah PBNU, hilal berhasil terlihat di sejumlah lokasi. Dengan demikian, bulan Sya’ban 1446 H genap berusia 29 hari, sesuai dengan metode rukyatul hilal yang digunakan oleh para ulama mazhab.
“Maka dengan ini, Pengurus Besar Nahdlatul Ulama mengikhbarkan atau memberitahukan bahwa awal bulan Ramadhan 1446 H jatuh pada Sabtu Pahing, tanggal 1 Maret 2025,” ujar Saifullah Yusuf dalam keterangannya.
Dalam kesempatan tersebut, ia mengucapkan selamat menunaikan ibadah puasa kepada seluruh umat Islam, khususnya warga Nahdlatul Ulama. Ia juga mengingatkan bahwa Ramadhan adalah momentum yang tepat untuk meningkatkan ketakwaan, memperbanyak ibadah, serta berbuat baik kepada sesama.
Pengamatan Hilal di Berbagai Wilayah
Proses pengamatan hilal dilakukan di 19 titik pemantauan yang tersebar di berbagai daerah, termasuk di Provinsi Jawa Tengah. Namun, sebagian besar lokasi mengalami kendala cuaca, seperti hujan dan mendung, sehingga hilal sulit terlihat secara langsung.
Sebelumnya, Lembaga Falakiyah PBNU telah melakukan perhitungan hisab yang menunjukkan bahwa tinggi hilal sudah mencapai lebih dari 3 derajat. Berdasarkan data yang dihimpun, hilal tertinggi terpantau di Kota Lhoknga, Aceh, dengan ketinggian +4 derajat 25 menit dan elongasi 6 derajat 28 menit. Sementara itu, ketinggian hilal terendah tercatat di Kota Merauke, Papua Selatan, dengan +2 derajat 52 menit dan elongasi 4 derajat 54 menit.
Meskipun hilal sudah berada di atas ufuk, elongasi yang belum mencapai 6,4 derajat menjadi faktor pertimbangan dalam penetapan awal Ramadhan. Namun, dengan adanya laporan dari lokasi yang berhasil melihat hilal, PBNU secara resmi menetapkan 1 Maret 2025 sebagai awal Ramadhan.
Makna Ramadhan bagi Umat Islam
Dalam kesempatan ini, PBNU juga mengajak seluruh umat Islam untuk menjadikan bulan Ramadhan sebagai waktu refleksi spiritual dan peningkatan ibadah. Saifullah Yusuf menekankan pentingnya memperbanyak membaca Al-Qur’an, berdzikir, serta menjalankan ibadah dengan penuh kekhusyukan. Selain itu, ia juga mengajak masyarakat untuk memperbanyak kegiatan sosial yang bermanfaat bagi sesama.
Keputusan PBNU ini selaras dengan metode rukyat yang digunakan oleh mayoritas ulama di Indonesia. Dengan penetapan ini, umat Islam diharapkan dapat mempersiapkan diri secara maksimal dalam menyambut bulan suci yang penuh berkah ini.







