Sirloin vs Tenderloin, Kenali Premium Cut Steak yang Sering Bikin Bingung

Wynda Mardio, founder Steak Hotel by Holycow mengamati bahwa sekitar 70% pelanggan masih sering bertanya tentang perbedaan kedua jenis daging premium ini sebelum memesan.

Zona Malang – Bagi pecinta kuliner steak di Indonesia, sudah tidak asing lagi dengan makanan olahan berbahan daging yang empuk saat disantap ini. Meskipun konsumen steak di Indonesia terus meningkat, tetapi masih banyak pencinta steak yang kebingungan saat dihadapkan pada pilihan menu tenderloin vs sirloin. Wynda Mardio, founder Steak Hotel by Holycow mengamati bahwa sekitar 70% pelanggan masih sering bertanya tentang perbedaan kedua jenis daging premium ini sebelum memesan.

Tentu hal itu menunjukkan jika kesadaran konsumen akan kualitas makanan semakin meningkat, namun masih membutuhkan edukasi lebih lanjut. Karena beda sirloin dan tenderloin menjadikan konsumen sedikit kebingungan antara keduanya, maka simak penjelasan pada artikel berikut.

Apa Itu Sirloin?

Dari segi lokasi pemotongan, sirloin diambil dari bagian luar punggung sapi, yang sering disebut sebagai ‘has luar’.

Area ini lebih banyak digunakan sapi untuk bergerak, yang membuat dagingnya berkembang dengan karakter yang kuat dan tekstur yang lebih padat.

Sementara itu, tenderloin yang bersemayam di bagian dalam punggung memiliki tekstur yang jauh berbeda. Posisinya yang terlindung dan minim pergerakan menghasilkan daging dengan serat yang lebih halus dan rapat.

Perbedaan ini menciptakan pengalaman makan yang sangat kontras: sirloin memberikan sensasi ‘mengunyah’ yang lebih pronounced, sementara tenderloin menawarkan pengalaman ‘meleleh’ yang elegan.

Untuk dari segi rasa sendiri, sirloin menyajikan cita rasa daging yang lebih robust dan berkarakter kuat. Seratnya yang lebih tegas membuat rasa “beefiness”-nya lebih terasa di lidah. Di sisi lain, tenderloin memanjakan lidah dengan kelembutan dan kejuicyan yang superior, meski dengan intensitas rasa daging yang lebih subtle.

Apa Itu Tenderloin?

Memahami perbedaan antara sirloin dan tenderloin bisa diibaratkan seperti membandingkan dua karakter yang berbeda namun sama-sama menarik. Tenderloin, yang dikenal sebagai ‘has dalam’, merupakan bagian daging sapi yang paling premium. Letaknya yang berada di bagian dalam tulang belakang sapi, tepatnya di area yang jarang bergerak, membuat teksturnya sangat lembut dan “melt-in-your-mouth”.

Seperti halnya otot perut manusia yang jarang digunakan untuk gerakan berat, bagian tenderloin pada sapi juga memiliki karakteristik serupa, sehingga menghasilkan tekstur yang super empuk dan menjadi potongan yang sangat dicari oleh para penikmat steak.

Aspek nutrisi kedua potongan ini juga menunjukkan perbedaan yang menarik. Sirloin, dengan kalori yang lebih rendah (131 kkal per 100 gram) dan protein yang sedikit lebih tinggi (22,1 gram), menjadi pilihan ideal bagi mereka yang memperhatikan asupan kalori namun tetap ingin mendapatkan protein berkualitas tinggi.

Tenderloin, dengan 274 kkal dan 21,8 gram protein per 100 gram, menawarkan pengalaman kuliner yang lebih indulgent dengan kandungan lemak yang lebih tinggi (18,2 gram dibanding 4,08 gram pada sirloin).

Data saat ini menunjukkan bahwa tren konsumsi steak di Indonesia mengalami pergeseran yang signifikan. Jika sebelumnya tenderloin selalu menjadi pilihan utama karena dianggap paling premium, kini banyak steak enthusiast yang justru lebih memilih sirloin karena karakternya yang lebih kuat dan kandungan protein yang lebih tinggi.

Gambar : Instagram @noviaaryani23
Gambar : Instagram @noviaaryani23

Fenomena Unik Konsumen Steak di Indonesia

Di Indonesia, preferensi jenis steak menunjukkan pola yang menarik berdasarkan demografis. Konsumen di kota-kota besar seperti Jakarta dan Surabaya cenderung lebih memilih tenderloin, sementara di kota-kota menengah, sirloin justru lebih populer. Hal ini berkaitan erat dengan perbedaan kultur kuliner dan exposure terhadap western food di berbagai daerah.

Holycow yang asli, di bawah kepemimpinan founder Wynda Mardio, terus berkomitmen memberikan edukasi kepada pelanggan tentang karakteristik setiap potongan daging. Hal ini membantu konsumen membuat pilihan yang tepat sesuai preferensi mereka, sambil tetap menjaga kualitas premium yang menjadi standar restoran tersebut.