Guru BK, Kunci Sukses Siswa di Tengah Burnout

MALANG, Zona Malang – Universitas Gajayana (Uniga) Malang menggelar seminar bagi Guru Bimbingan Konseling (BK) SMA/SMK se-Kabupaten Malang dengan tema “Menyembuhkan Diri untuk Menyembuhkan Siswa: Mengatasi Burnout Guru BK”. Acara ini dihadiri oleh sekitar 100 peserta dan menjadi wadah berbagi pengetahuan sekaligus ruang katarsis bagi guru BK yang kerap menghadapi tekanan psikologis dalam menjalankan tugas.

Dalam sambutannya, Rektor Uniga Malang, Prof. Dr. Ernani Hadiyati, S.E., M.S. menekankan pentingnya kesehatan mental guru BK sebagai fondasi keberhasilan siswa. Beliau turut memperkenalkan perkembangan Uniga, termasuk program doktor (S3) dan 12 prodi lainnya, sekaligus mengajak guru BK untuk memanfaatkan layanan psikologi kampus. “Guru yang sehat jiwa akan lebih efektif dalam membimbing siswa. Seminar ini juga bagian dari rangkaian Dies Natalis Uniga Malang ke-44,” ujarnya.

Kaprodi Psikologi Uniga, Moersito Wimbo, S.Psi., M.A., menyatakan bahwa seminar tersebut bertujuan memfasilitasi keluhan guru BK terkait burnout (kelelahan emosional) dan tantangan dalam menangani siswa. Ia menambahkan, permasalahan seperti bullying, stres akademik, dan tekanan media sosial pada siswa turut mempengaruhi beban kerja guru BK. Menurutnya, kasus di Kota Malang dan Kabupaten mungkin berbeda, tetapi akar masalahnya serupa dan perlu penanganan lebih sistematis. “Burnout bisa terjadi di mana saja, termasuk pada guru BK. Melalui pendekatan psikologi, kami berupaya memberi solusi agar mereka lebih siap menghadapi dinamika siswa,” ujar Wimbo.

Wimbo berharap, dari kegiatan ini guru BK pulang dengan perspektif baru. Mereka bisa lebih ringan menjalankan tugas setelah mendapat ilmu dan ruang curhat hari ini. “Kegiatan ini rencananya akan terus kami lanjutan dengan beberapa workshop lanjutan untuk pendalaman materi,” imbuhnya.

Sementara itu, pemateri seminar, Dewi Suryaningtyas, M.Psi., Psikolog, memaparkan ciri-ciri burnout seperti kelelahan fisik, hilangnya motivasi, serta dampak lanjutan seperti stres dan depresi. Ia memberikan beberapa solusi, di antaranya bisa memanajemen waktu untuk mengurangi beban kerja, kemudian melakukan teknik relaksasi seperti meditasi atau hobi dan menjalin komunitas pendukung sesama guru BK untuk berbagi pengalaman. “Burnout sering tidak disadari karena gejalanya tumpang tindih dengan gangguan mental lain. Guru perlu teknik self-healing sebelum membantu siswa,” jelasnya.

Salah satu peserta, Rika, seorang guru BK di SMAN 1 Kepanjen, mengaku sangat terbantu dengan materi yang disampaikan. “Seminar ini benar-benar tepat sasaran. Kami bisa berbagi pengalaman dan mendapatkan solusi untuk mengatasi burnout. Saya berharap ada tindak lanjut yang lebih intensif lagi,” ungkapnya.

Sementara itu, Widi, guru BK dari SMKN 2 Malang, menambahkan bahwa seminar ini menjadi momentum penting untuk meningkatkan kesadaran akan kesehatan mental guru BK. “Selama ini, kami seringkali terlalu fokus membantu siswa sehingga mengabaikan diri sendiri. Semoga ke depan ada lebih banyak kegiatan serupa untuk memberdayakan kami,” harapnya.

Acara ini mendapat dukungan penuh dari Dinas Pendidikan Kabupaten Malang. Kepala Dinas, Agus Susilo, mengapresiasi inisiatif Uniga Malang dalam menyelenggarakan seminar ini. “Kami sangat mendukung upaya Uniga untuk meningkatkan kompetensi dan kesejahteraan guru BK. Mereka memiliki peran krusial dalam membantu perkembangan siswa, sehingga perlu mendapat perhatian khusus,” ungkapnya.

Sebagai penutup, Rektor Uniga Malang kembali menegaskan komitmen pihaknya untuk terus mendukung guru BK di Kabupaten Malang. “Kami berharap seminar ini bisa menjadi awal dari serangkaian kegiatan yang akan kami selenggarakan secara berkala. Guru BK adalah mitra strategis kami dalam membentuk generasi penerus yang unggul dan berintegritas,” pungkasnya.