MALANG, Zona Malang – Dalam Musyawarah Komisariat ke-3 Himpunan Sarjana Kesusastraan Indonesia (HISKI) Komisariat Kota Malang yang diselenggarakan di Laboratorium Drama Fakultas Sastra Universitas Negeri Malang (UM), Dr. Dwi Sulistyorini, S.S., M.Hum. terpilih sebagai Ketua HISKI Kota Malang periode 2025-2029. Ia akan didampingi oleh Prof. Dr. Mundi Rahayu, M.Hum. sebagai wakil ketua.
Kegiatan ini dihadiri oleh 68 peserta dari berbagai perguruan tinggi di Malang Raya dan sekitarnya. Selain pemilihan ketua baru, forum ini juga mempertegas arah gerak organisasi ke depan melalui pemaparan visi dan misi yang lebih terbuka dan berdampak.
“Kami tidak mau sastra hanya hidup di kalangan akademisi. Sastra harus hadir dan berdampak di masyarakat,” tegas Dwi saat menyampaikan visi dan misinya.
Dalam sesi penyampaian visi dan misi, Dwi menjelaskan bahwa kepemimpinannya akan berfokus pada pengembangan ide dan kreativitas anggota, baik dalam pengkajian sastra maupun pembelajarannya. Ia ingin HISKI menjadi motor penggerak kemajuan pendidikan melalui penerapan Tri Dharma Perguruan Tinggi.
“Visi utama HISKI Malang, adalah menumbuhkan dan mengembangkan gagasan maupun kreativitas anggota dalam bidang sastra maupun pembelajarannya untuk kemajuan pendidikan melalui Tri Dharma Perguruan Tinggi,” ujarnya.
Visi tersebut dijabarkan dalam sejumlah misi strategis, di antaranya mengembangkan kreativitas dan produktivitas anggota HISKI Malang dengan menyelenggarakan kegiatan kesusastraan dan pembelajaran melalui penelitian dan pengabdian kepada masyarakat maupun dalam bentuk karya ilmiah.
Selain itu, HISKI Malang juga akan mengenalkan organisasi ini di tengah-tengah masyarakat melalui kolaborasi dengan MGMP, komunitas sastra dan budaya, serta lembaga-lembaga terkait. Mereka juga akan mempromosikan keahlian para anggotanya dalam berbagai forum ilmiah, baik nasional maupun internasional, termasuk melalui podcast dan siaran langsung di RRI.
“Intinya, kami ingin HISKI bisa turun gunung, hadir di masyarakat, menjadi penghubung antara dunia akademik dan ruang-ruang publik,” jelas Dwi.
Salah satu program unggulan yang menjadi prioritas kepengurusan baru adalah “HISKI Masuk Sekolah dan Komunitas Sastra Budaya.” Program ini diinisiasi untuk membawa kegiatan sastra ke ruang-ruang pembelajaran non-formal dan komunitas, dengan harapan sastra menjadi lebih dekat dengan generasi muda.
Menurut Dwi, program ini tak hanya menyasar pelajar dan guru, tetapi juga komunitas lokal yang selama ini aktif di bidang seni, budaya, dan literasi. “Kami ingin memperluas jangkauan literasi sastra, agar lebih membumi dan tidak eksklusif,” pungkasnya.







