Siswa Terpukau! Sendratasik Bhinneka Tunggal Ika Hidupkan Kembali Cinta Budaya Lokal

MALANG, Zona Malang – SMP Negeri 24 Malang kembali membuktikan diri sebagai garda depan pendidikan karakter dengan menggelar pagelaran seni bertajuk Sendratasik (Seni Drama, Tari, dan Musik) Bhinneka Tunggal Ika. Acara megah ini sukses memukau ratusan penonton di Malang Creative Center (MCC), menjadi bukti nyata komitmen sekolah dalam mengimplementasikan Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila (P5) yang diusung Kurikulum Merdeka.

Kegiatan Sendratasik Bhinneka Tunggal Ika ini bukan sekadar pertunjukan seni biasa. Lebih dari itu, acara ini merupakan perwujudan nyata dari upaya SMPN 24 Malang untuk menanamkan nilai-nilai luhur Pancasila, khususnya kesadaran akan keberagaman sebagai kekuatan bangsa, kepada para siswanya. Terutama bagi siswa kelas 7 yang baru saja memasuki jenjang SMP, kegiatan ini menjadi momen penting untuk memahami dan menghayati makna Bhinneka Tunggal Ika dalam kehidupan sehari-hari.

Kepala SMPN 24 Malang, Drs. Teguh Edy Purwanta, mengungkapkan bahwa kegiatan ini digagas sebagai respons terhadap tantangan globalisasi yang semakin deras menerpa generasi muda. Beliau menekankan pentingnya menanamkan nilai-nilai toleransi, persatuan, dan cinta budaya lokal sejak dini agar siswa tidak kehilangan identitas diri di tengah arus informasi yang tak terbatas. “P5 adalah wadah kokurikuler yang dirancang untuk membentuk karakter siswa sesuai dengan Profil Pelajar Pancasila. Bhinneka Tunggal Ika adalah fondasi bangsa yang harus terus ditanamkan sejak usia muda,” tegas Teguh.

Lebih lanjut, Teguh menjelaskan bahwa seni dipilih sebagai media pembelajaran karena memiliki kekuatan untuk menyampaikan pesan toleransi secara lebih menarik dan mendalam. Melalui drama, tari, dan musik, siswa dapat lebih mudah memahami dan merasakan nilai-nilai keberagaman yang ingin disampaikan. “Seni itu universal, bahasa seni bisa menyentuh hati siapa saja. Kami ingin siswa tidak hanya memahami keberagaman secara kognitif, tapi juga merasakannya secara emosional,” imbuhnya.

Persiapan untuk Sendratasik Bhinneka Tunggal Ika ini memakan waktu kurang lebih empat minggu. Selama periode tersebut, siswa mengikuti berbagai tahapan pembelajaran yang dirancang secara komprehensif. Dimulai dari kegiatan yang bertujuan untuk meningkatkan pemahaman tentang toleransi, seperti berinteraksi dengan pemateri internasional dan berbagi kebahagiaan di panti asuhan.

Selain itu, siswa juga diajak untuk mengeksplorasi kekayaan budaya Indonesia melalui workshop membatik dan pengenalan keragaman tekstil Nusantara. Kegiatan ini bertujuan untuk menumbuhkan rasa bangga dan cinta terhadap warisan budaya bangsa. Puncak dari persiapan ini adalah pematangan materi Sendratasik, termasuk latihan akting, tari, musik, tata rias, dan manajemen panggung.

Meskipun berjalan sukses, Teguh mengakui bahwa proses persiapan tidaklah mudah. Ada berbagai tantangan yang harus dihadapi, mulai dari keterbatasan waktu hingga perbedaan pendapat antar siswa. Namun, dengan dukungan penuh dari Teater Blero Universitas Malang dan paguyuban orang tua, semua tantangan tersebut dapat diatasi dengan baik. “Kami sangat berterima kasih kepada Teater Blero Universitas Malang dan paguyuban orang tua atas dukungan yang luar biasa. Tanpa mereka, kegiatan ini tidak akan berjalan sukses,” ujar Teguh.

Dalam kegiatan Sendratasik Bhinneka Tunggal Ika, siswa terlibat secara aktif dalam setiap tahapan produksi. Mulai dari pemilihan cerita rakyat dari berbagai pulau di Indonesia (Jawa, Sumatera, Bali), pembagian peran (aktor, penari, musisi, kru panggung), hingga kolaborasi antar kelas untuk menciptakan pertunjukan yang harmonis. Keterlibatan aktif ini memberikan kesempatan bagi siswa untuk mengembangkan kreativitas, kerja sama tim, dan rasa tanggung jawab.

Dukungan dari orang tua juga sangat penting dalam kesuksesan kegiatan ini. Orang tua tidak hanya memberikan dukungan emosional, tetapi juga finansial dan logistik, seperti menyediakan kostum dan alat peraga. Teguh berharap kegiatan Sendratasik Bhinneka Tunggal Ika ini dapat menjadi agenda tahunan SMPN 24 Malang. “Kami berharap kegiatan ini dapat terus dilaksanakan setiap tahun agar semakin banyak siswa yang merasakan manfaatnya,” harapnya.

Teguh menegaskan bahwa Sendratasik Bhinneka Tunggal Ika bukan sekadar pertunjukan seni, melainkan sebuah proses pembelajaran menyeluruh yang bertujuan untuk membentuk karakter siswa. “Kami berharap melalui P5, siswa dapat menjadi generasi yang toleran, kreatif, dan mencintai budaya bangsa. Mereka juga belajar banyak tentang kerja sama dan menghargai perbedaan,” pungkasnya. (hud/udi)