Dari Doa hingga Beasiswa: Solidaritas SMK Mahardika untuk Affan Kurniawan, Driver Ojol Korban Demo Anarkis

Zona Malang – Rabu (3/9/2025) pagi, halaman SMK Mahardika Karangploso, Malang Jawa Timur, berubah menjadi lautan doa. Suara lantunan tahlil menggema, dipimpin oleh Ustadz Heri dari MWC NU Kecamatan  Karangploso, mengiringi doa untuk almarhum Affan Kurniawan, driver ojek online yang gugur dalam demonstrasi di Jakarta beberapa hari lalu.

Bukan hanya keluarga besar SMK Mahardika yang hadir. Sekitar 50 driver ojol dari PK Semar Malang Raya turut serta. Mereka datang dari perwakilan driver Gojek, Grab, Maxim , wajah-wajah lelah tapi penuh solidaritas. Kehadiran mereka menunjukkan satu hal: duka atas kepergian Affan adalah luka kolektif bagi para pejuang jalanan yang setiap hari menjemput nafkah.

Abah Imam, sapaan akrab Kepala SMK Mahardika, Drs. H. Supandi, M.Si., tampak menahan haru ketika memberikan sambutan. “Kami kehilangan seorang saudara. Affan adalah tulang punggung keluarga. Tragedi ini mengingatkan kita agar lebih berhati-hati. Aspirasi murni jangan sampai ditunggangi oleh kepentingan yang justru merugikan masyarakat,” ucapnya dengan suara berat.

Tak hanya berhenti pada kata-kata duka, Abah Imam mengumumkan sebuah keputusan penting: beasiswa penuh bagi anak-anak driver ojol yang ingin bersekolah di SMK Mahardika. “Ini adalah bentuk apresiasi kepada para pejuang nafkah yang rela bekerja keras di jalanan. Juga sebagai rasa syukur kami atas 20 tahun perjalanan SMK Mahardika,” ujarnya, disambut tepuk tangan hadirin.

Di sisi lain, Wahyudi, Ketua PK Semar Karangploso sekaligus Wakil Ketua PK Semar se-Malang Raya, menegaskan pentingnya menjaga diri dari provokasi. “Kami sudah kehilangan seorang sahabat. Jangan ada lagi korban. Adik-adik siswa harus fokus pada masa depan, bukan terseret dalam aksi-aksi yang berujung anarkis,” pesannya.

Suasana semakin syahdu ketika doa penutup dipanjatkan. Beberapa driver ojol terlihat menyeka air mata. Para guru dan siswa pun larut dalam haru. Affan Kurniawan mungkin sudah tiada, tetapi namanya kini terpatri dalam kenangan sebagai seorang pekerja keras, seorang tulang punggung keluarga, yang harus meregang nyawa akibat demonstrasi anarkis.

Acara tahlil ini bukan sekadar ritual doa. Ia adalah simbol solidaritas, pengingat bahwa setiap nyawa yang hilang dalam konflik sosial adalah kehilangan besar bagi bangsa. Affan Kurniawan telah berpulang, meninggalkan keluarga yang ia nafkahi, tetapi juga meninggalkan pesan abadi: agar masyarakat tetap waspada, menjaga kedamaian, dan tidak lagi membiarkan kepentingan sempit merenggut nyawa orang kecil.

Penulis: Agus Saefudin