Menteri Sosial Saifullah Yusuf Tinjau SRT 47 Malang: Langkah Strategis Memerangi Kemiskinan Ekstrem

Lokasi SRT 47 berada di Balai Latihan Kerja (BLK) Singosari, tepatnya di Jalan Raya Singosari No. 7, Desa Ardimulyo, Kecamatan Singosari, Kabupaten Malang

Zona Malang – Dalam upaya memperkuat program pendidikan inklusif, Menteri Sosial Republik Indonesia, Saifullah Yusuf, yang akrab disapa Gus Ipul, melakukan kunjungan langsung ke Sekolah Rakyat Terintegrasi (SRT) 47 Malang pada Kamis malam (20/11). Didampingi Wakil Bupati Malang, Dra. Hj. Lathifah Shohib, dan Sekretaris Daerah Kabupaten Malang, Dr. Ir. Budiar, M.Si, kunjungan ini menjadi momentum untuk mengevaluasi implementasi inisiatif pemerintah yang baru saja diresmikan.

Lokasi SRT 47 berada di Balai Latihan Kerja (BLK) Singosari, tepatnya di Jalan Raya Singosari No. 7, Desa Ardimulyo, Kecamatan Singosari, Kabupaten Malang, yang sekaligus menandai komitmen daerah dalam mendukung agenda nasional.

Kunjungan Gus Ipul tidak hanya sebatas inspeksi formal, melainkan juga kesempatan untuk berinteraksi langsung dengan para siswa dari Sekolah Rakyat Dasar (SRD) dan Sekolah Rakyat Menengah Atas (SRMA). Sekolah ini, yang resmi dibuka oleh Bupati Malang, Drs. H. M. Sanusi, M.M., pada 30 September lalu, dirancang sebagai benteng pertahanan melawan siklus kemiskinan yang menjerat generasi muda.

Dari perspektif sosial, program ini mencerminkan visi pemerintahan Presiden Prabowo Subianto untuk memberdayakan anak-anak dari latar belakang ekonomi rentan, sehingga mereka dapat bersaing di masa depan tanpa beban finansial.

Sebagai salah satu program unggulan Kementerian Sosial, SRT 47 Malang menargetkan anak-anak dari keluarga miskin ekstrem yang telah lolos seleksi ketat melalui kolaborasi dengan Dinas Sosial dan Program Keluarga Harapan (PKH). Pendekatan ini tidak hanya menyediakan pendidikan gratis dan berkualitas, tapi juga mencakup fasilitas asrama serta pemenuhan kebutuhan sehari-hari yang sepenuhnya ditanggung oleh negara.

Dari sudut pandang ekonomi, inisiatif semacam ini diharapkan dapat mengurangi beban anggaran keluarga miskin, sekaligus meningkatkan indeks pembangunan manusia di wilayah pedesaan seperti Kecamatan Singosari.

Fokus pada tahap 1c di BLK Singosari, sekolah ini saat ini menampung 85 siswa, terdiri dari 25 siswa SRD dan 60 siswa SRMA. Distribusi asal usul siswa menunjukkan dominasi dari wilayah setempat, dengan 71 siswa berasal dari Kabupaten Malang, diikuti 10 siswa dari Kota Malang, serta kontribusi kecil dari daerah tetangga seperti dua siswa dari Kabupaten Pasuruan, satu dari Kabupaten Lumajang, dan satu dari Kota Kediri. Hal ini menggambarkan jangkauan program yang mulai merata, meski masih perlu ekspansi lebih luas untuk menjangkau lebih banyak anak di provinsi Jawa Timur.

Secara keseluruhan, kunjungan ini menegaskan urgensi pendidikan sebagai instrumen utama dalam memutus rantai kemiskinan. Para pemangku kepentingan lokal berharap SRT 47 dapat menjadi model bagi sekolah-sekolah serupa di seluruh Indonesia, dengan penekanan pada kualitas pengajaran dan dukungan holistik bagi siswa. Di tengah tantangan ekonomi pasca-pandemi, program ini bukan hanya bantuan sementara, melainkan investasi jangka panjang untuk membangun sumber daya manusia yang tangguh dan mandiri.