Zona Malang – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Malang kembali menorehkan prestasi gemilang di kancah regional. Dua inovasi layanan publik andalan mereka sukses menembus babak final dalam ajang bergengsi Kompetisi Inovasi Pelayanan Publik (KOVABLIK) Provinsi Jawa Timur Tahun 2025.
Kepastian lolosnya dua inovasi ini tertuang resmi dalam Surat Pengumuman Kepala Badan Riset dan Inovasi Daerah (BRIDA) Jawa Timur Nomor: 200/3791/206.1/2025. Kabar ini menjadi bukti konsistensi Kabupaten Malang dalam menciptakan solusi birokrasi yang berdampak nyata.
Demi mengawal prestasi ini, Wakil Bupati Malang, Dra. Hj. Lathifah Shohib, turun gunung secara langsung. Mewakili Bupati Malang, Drs. H. M. Sanusi, M.M., beliau mempresentasikan keunggulan inovasi tersebut di Ruang Anusapati, Jalan Merdeka Timur No. 3 Malang, Kamis (27/11) siang.
Inovasi pertama yang menjadi sorotan adalah “CENTING PELEKOR”. Meski namanya terdengar unik, ini adalah akronim serius dari Cegah Stunting dengan PMT Ikan Lele dan Kelor. Inovasi berbasis kearifan lokal ini lahir dari Desa Trenyang, Kecamatan Sumberpucung.
Sementara inovasi kedua datang dari Dinas Pendidikan Kabupaten Malang bertajuk “SABER ATS” atau Sapu Bersih Anak Tidak Sekolah. Program ini dirancang khusus untuk menyisir anak-anak yang terancam putus akses pendidikannya.
Di hadapan dewan juri KOVABLIK, Wabup Lathifah menjelaskan bahwa Centing Pelekor hadir karena urgensi penanganan stunting. Pemanfaatan bahan pangan lokal seperti lele dan daun kelor dinilai sebagai solusi cerdas yang murah namun kaya nutrisi.
“Melalui program ini, pemerintah mendorong pemanfaatan pangan lokal yang melimpah. Tujuannya jelas, meningkatkan gizi anak sekaligus memberdayakan pembudidaya lele dan tanaman kelor di desa,” tegas Wabup Lathifah dalam paparannya.
Sedangkan untuk Saber ATS, inovasi ini menjadi jawaban atas kompleksitas masalah sosial. Mulai dari himpitan ekonomi, infrastruktur, hingga isu pernikahan dini yang kerap menjadi penyebab anak putus sekolah.
Data berbicara, dampak intervensi ini terbilang fantastis. Angka stunting di Kabupaten Malang berhasil ditekan drastis dari 12,2 persen pada Februari 2022 menjadi hanya 5,4 persen pada Februari 2025.
Di sektor pendidikan, tren positif juga terlihat. Angka putus sekolah (drop out) menurun tajam sebesar 23,26 persen. Sementara persentase siswa Lulus Tidak Melanjutkan (LTM) juga berkurang hingga 11,62 persen berkat intervensi Saber ATS.
Aspek penilaian juri dalam kompetisi ini meliputi urgensi, dampak kemanfaatan, keberlanjutan, hingga potensi replikasi. Pemkab Malang optimistis dua inovasi ini tidak hanya meraih penghargaan, tetapi juga bisa diduplikasi oleh daerah lain di Jawa Timur.
Pemilihan nama inovasi yang “catchy” seperti Centing Pelekor adalah strategi komunikasi publik yang cerdas dari Pemkab Malang. Di balik namanya yang menggelitik, tersimpan substansi kuat tentang pemanfaatan potensi lokal (lele dan kelor) yang murah dan mudah didapat. Ini membuktikan bahwa solusi masalah kesehatan tidak selalu harus mahal atau impor, melainkan bisa digali dari kekayaan alam sekitar kita sendiri.
Namun, pekerjaan rumah terbesar dari sebuah kompetisi inovasi bukan pada pialanya, melainkan pada napas panjang program tersebut (sustainability). Jangan sampai semangat Saber ATS dan Centing Pelekor hanya membara saat penilaian lomba, namun padam saat euforia piala berakhir. Konsistensi penganggaran dan regenerasi kader di lapangan menjadi kunci agar inovasi ini benar-benar menjadi budaya birokrasi, bukan sekadar kosmetik seremonial.







