Buka Dekranasda Fest, Bu Nyai Lathifah Tantang UMKM Malang Pakai Teknologi AI

Wakil Bupati Malang, Dra. Hj. Lathifah Shohib, di Pendopo Kabupaten Malang, Jalan Panji Kepanjen, pada Jumat (28/11) petang.

KABUPATEN MALANG, Zona Malang – Gelaran pesta kreativitas tahunan, 2nd Dekranasda – Fest 2025, resmi bergulir. Acara bergengsi ini dibuka langsung oleh Wakil Bupati Malang, Dra. Hj. Lathifah Shohib, di Pendopo Kabupaten Malang, Jalan Panji Kepanjen, pada Jumat (28/11) petang.

Sosok yang akrab disapa Bu Nyai Lathifah ini tak bisa menyembunyikan rasa bangganya saat meninjau lokasi. Ia mengaku kagum melihat tingginya antusiasme masyarakat dan para pelaku industri kreatif yang tumpah ruah memeriahkan rangkaian Hari Jadi ke-1265 Kabupaten Malang tersebut.

Mewakili Bupati Malang, Drs. H. M. Sanusi, M.M., Bu Nyai menegaskan bahwa event ini bukan sekadar perayaan seremonial semata. Menurutnya, festival ini adalah panggung pembuktian bagi produk lokal untuk naik kelas.

“Ini merupakan terobosan sekaligus wadah strategis. Tujuannya jelas, untuk membangkitkan geliat sektor usaha mikro, khususnya bagi UMKM yang selama ini menjadi binaan Dekranasda Kabupaten Malang,” ujarnya di hadapan para Camat dan pelaku usaha yang hadir.

Dalam sambutannya, Wabup perempuan pertama di Malang ini memberikan pesan khusus kepada wirausaha muda. Ia menekankan pentingnya memanfaatkan momen festival untuk membangun jejaring bisnis (networking) dengan sesama pelaku usaha.

“Kolaborasi adalah kunci. Jika jejaring terbentuk, iklim bisnis akan sehat dan produktif. Ini fondasi agar UMKM kita kuat menjadi penopang ekonomi daerah,” tambahnya.

Yang menarik, Bu Nyai Lathifah juga melontarkan tantangan modern kepada para pengrajin. Ia mendorong pelaku UMKM untuk tidak alergi terhadap teknologi, bahkan menyarankan penggunaan kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI).

Menurutnya, integrasi teknologi AI bisa membantu menciptakan kreasi produk yang dinamis, unik, dan timeless. Sentuhan teknologi dinilai mampu mendongkrak nilai jual produk agar bisa bersaing, tak hanya di pasar lokal tapi juga ekspor.

“Di era disruptif seperti sekarang, daya saing adalah harga mati. Pemkab Malang akan terus memfasilitasi pendampingan agar produk kita tidak kalah dengan barang impor,” tegasnya.

Menutup acara pembukaan, Wabup berharap Dekranasda Fest 2025 bisa menjadi embrio pertumbuhan ekonomi baru. Ia optimistis, jika dikelola dengan strategi pemberdayaan yang tepat, event ini akan menjadi gerbang masuknya investasi segar ke Kabupaten Malang.

Dorongan Wakil Bupati agar UMKM memanfaatkan Artificial Intelligence (AI) adalah visi yang sangat progresif dan patut diacungi jempol. Namun, tantangan terbesarnya adalah pada literasi digital di tingkat akar rumput. Pemerintah daerah harus memastikan bahwa “tantangan” ini dibarengi dengan pelatihan teknis yang nyata, bukan sekadar jargon pidato. Jangan sampai pelaku UMKM bingung bagaimana cara mengakses AI, sementara untuk onboarding ke marketplace saja mereka masih kesulitan.

Selain itu, keberhasilan sebuah festival UMKM tidak diukur dari seberapa meriah seremoni pembukaannya, melainkan dari nominal transaksi yang terjadi dan keberlanjutan pasca-acara. Dekranasda Fest harus mampu menghasilkan business matching yang riil antara pengrajin dengan pembeli besar (offtaker). Jika hanya berakhir sebagai pasar malam sesaat tanpa kontrak dagang jangka panjang, maka tujuan “ekonomi inklusif” masih jauh panggang dari api.