Zona Malang – Di tengah kekhawatiran banyak pihak soal regenerasi petani yang kian mengkhawatirkan, sebuah kabar menggembirakan datang dari Kecamatan Turen, Kabupaten Malang. Pimpinan Anak Cabang (PAC) Gerakan Pemuda (GP) Ansor Turen membuktikan bahwa anak muda pun mampu turun ke sawah dan menghasilkan panen yang membanggakan.
Sabtu pagi, 4 April 2026, hamparan sawah di Kelurahan Sedayu menjadi saksi keberhasilan para kader muda Ansor dalam kegiatan Panen Raya Padi Sukma Pemuda Ansor. Lahan seluas 3 hektare yang mereka sewa dan kelola secara mandiri menghasilkan rata-rata 11 ton padi per hektare — sebuah angka yang bahkan melampaui rata-rata produktivitas nasional yang berkisar 5 hingga 6 ton per hektare.
Padi yang ditanam merupakan varietas Sukma, bibit unggulan asli Kabupaten Malang yang dikenal memiliki daya adaptasi tinggi terhadap kondisi lahan lokal. Dengan produktivitas tersebut, total hasil panen dalam satu musim diperkirakan mencapai 33 hingga 35 ton — pencapaian yang tidak sedikit untuk sebuah organisasi kepemudaan yang baru pertama kali menggarap komoditas padi.
“Ini pertama kali kami mengelola padi. Sebelumnya sempat menanam jagung. Alhamdulillah, untuk yang ini hasilnya sangat sukses,” ungkap Ketua GP Ansor Kabupaten Malang, Fatkhurrozi, saat ditemui di sela-sela kegiatan panen raya tersebut.
Fatkhurrozi menjelaskan bahwa seluruh proses pengelolaan lahan dilakukan sepenuhnya oleh kader Ansor Turen secara swadaya. Tidak ada pihak luar yang mengambil alih proses produksi. Lebih dari sekadar bertani, para kader juga mendapatkan upah dari hasil kerja mereka, sehingga program ini sekaligus menjadi instrumen pemberdayaan ekonomi internal organisasi.
Kegiatan panen raya ini turut dihadiri langsung oleh Bupati Malang, Drs. H. M. Sanusi, M.M., yang datang didampingi Sekretaris Daerah Kabupaten Malang, Dr. Ir. Budiar, M.Si. Hadir pula Camat dan Forum Koordinasi Pimpinan Kecamatan (Forkopimcam) Turen, jajaran Kepala Perangkat Daerah Kabupaten Malang, serta seluruh jajaran pengurus GP Ansor dari tingkat kabupaten hingga kecamatan.
Bupati Sanusi tidak menyembunyikan rasa bangganya. Ia menyebut apa yang dilakukan GP Ansor Turen bukan sekadar kegiatan bertani biasa, melainkan sebuah gerakan nyata yang memadukan semangat kepemudaan dengan kontribusi produktif di sektor strategis.
“Kegiatan ini bukan sekadar panen hasil pertanian, tetapi juga merupakan panen dari kerja keras, kebersamaan, serta semangat gotong royong yang luar biasa,” ujar Sanusi dalam sambutannya.
Bupati menegaskan, sektor pertanian hingga kini masih menjadi tulang punggung perekonomian Kabupaten Malang. Oleh karena itu, pemerintah daerah terus mendorong peningkatan produktivitas pertanian, kesejahteraan petani, serta penguatan ketahanan pangan di tingkat lokal. Keterlibatan generasi muda, menurutnya, adalah kunci keberlanjutan sektor ini di masa depan.
“Inovasi, kreativitas, serta pemanfaatan teknologi modern di bidang pertanian sangat diperlukan agar sektor ini semakin maju, efisien, dan berdaya saing. Apa yang dilakukan oleh GP Ansor Turen hari ini menjadi bukti bahwa regenerasi petani itu nyata dan harus terus kita dukung bersama,” tegasnya.
Sanusi juga mengajak seluruh elemen masyarakat, mulai dari organisasi kemasyarakatan, lembaga pendidikan, hingga dunia usaha, untuk bersinergi dalam membangun kemandirian ekonomi berbasis pertanian. Ia berharap momentum panen raya ini menjadi pemantik semangat bagi kelompok-kelompok pemuda lainnya di Kabupaten Malang agar berani terjun ke sektor produktif.
“Semoga hasil panen hari ini membawa keberkahan, meningkatkan kesejahteraan para petani, serta memberikan manfaat bagi masyarakat luas,” pungkasnya.
Keberhasilan GP Ansor Turen ini sesungguhnya menyentuh isu yang lebih besar dan mendesak: krisis regenerasi petani di Indonesia. Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan bahwa mayoritas petani Indonesia saat ini berusia di atas 45 tahun, sementara minat generasi muda terhadap sektor pertanian terus menurun akibat stigma bahwa bertani identik dengan kemiskinan dan kerja keras tanpa hasil memadai.
Langkah GP Ansor Turen hadir sebagai counter-narasi yang meyakinkan. Dengan membuktikan bahwa pengelolaan pertanian yang terorganisasi, berbasis teknologi, dan didukung semangat kolektif mampu menghasilkan panen di atas rata-rata, mereka sekaligus meruntuhkan anggapan bahwa pertanian bukan ladang yang menjanjikan bagi anak muda.
Model pemberdayaan yang diterapkan — di mana kader tidak hanya bekerja tetapi juga mendapat upah layak — juga patut menjadi perhatian para pemangku kebijakan. Pendekatan ini mengubah kegiatan pertanian dari sekadar aksi sosial menjadi sebuah ekosistem ekonomi yang berkelanjutan di dalam tubuh organisasi kepemudaan.
Ke depan, sinergi antara pemerintah daerah dan organisasi kepemudaan seperti GP Ansor diharapkan tidak berhenti pada seremoni panen raya semata. Dukungan konkret berupa akses permodalan, pendampingan teknologi pertanian, serta jaminan pasar bagi hasil panen menjadi pekerjaan rumah yang harus segera dijawab agar semangat yang sudah menyala ini tidak padam di tengah jalan.







