Zonamalang.com – – Bupati Malang, Drs. H. M. Sanusi, M.M., secara resmi menghadiri dan membuka gelaran Workshop Peningkatan Kompetensi Guru dan Tenaga Kependidikan di Gedung Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) Kabupaten Malang, Kecamatan Pakisaji, pada Senin (19/10/2026) pagi. Dalam momentum tersebut, Kepala Daerah menginstruksikan seluruh tenaga pendidik untuk terus memperbarui metode pengajaran serta beradaptasi dengan pesatnya perkembangan teknologi guna mencetak sumber daya manusia yang unggul.
Penyelenggaraan lokakarya pendidikan ini mengusung tema strategis, yakni “Transformasi PGRI: Guru Inovatif Menciptakan Generasi Hebat Menuju Indonesia Emas 2045”. Tema tersebut dinilai sangat relevan oleh Bupati Malang mengingat dunia pendidikan saat ini sedang dihadapkan pada tuntutan perubahan zaman yang kian dinamis dan kompleks.
Mewakili jajaran Pemerintah Kabupaten Malang, Sanusi melayangkan apresiasi serta penghargaan setinggi-tingginya kepada pengurus PGRI Kabupaten Malang beserta segenap panitia yang telah menginisiasi agenda pengembangan kapasitas ini. Menurutnya, forum semacam ini merupakan wadah krusial bagi para pendidik untuk saling bertukar gagasan, memperluas wawasan, sekaligus memperkokoh profesionalitas kerja.
Orang nomor satu di lingkungan Pemerintah Kabupaten Malang tersebut menekankan agar kegiatan ini tidak sekadar menjadi rutinitas seremonial untuk memeriahkan peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) PGRI maupun Hari Guru Nasional. Sebaliknya, lokakarya ini wajib melahirkan dampak nyata berupa peningkatan kualitas kompetensi yang bisa langsung diaplikasikan di ruang-ruang kelas pada satuan pendidikan masing-masing.
Dalam arahannya, Sanusi mengingatkan bahwa tolok ukur kemajuan suatu daerah dan negara tidak melulu diukur dari masifnya pembangunan infrastruktur fisik atau tingginya angka pertumbuhan ekonomi. Kualitas sektor pendidikan justru memegang peranan kunci dalam melahirkan generasi masa depan yang cerdas, kreatif, berkarakter kuat, serta memiliki daya saing tinggi.
Oleh sebab itu, profesi guru dipandang memiliki posisi yang sangat strategis dalam arsitektur pembangunan bangsa. Tenaga pendidik tidak hanya bertugas mentransfer ilmu pengetahuan secara akademis, melainkan juga memikul tanggung jawab moral sebagai pembimbing, panutan, dan pembentuk karakter generasi penerus.
Menghadapi realitas perubahan sosial dan tantangan global saat ini, Bupati Malang menilai bahwa metode pengajaran konvensional yang efektif di masa lampau belum tentu masih relevan dengan kebutuhan siswa masa kini. Peserta didik era modern tumbuh besar di tengah kepungan teknologi digital, derasnya arus pertukaran informasi, hingga kemunculan perangkat kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI).
Menyikapi fenomena digitalisasi tersebut, Sanusi meminta para guru untuk bersikap bijaksana dan terbuka terhadap pembaruan. Kehadiran teknologi canggih seperti AI harus didayagunakan sebagai instrumen pendukung untuk memperkaya materi ajar, memicu kreativitas, serta memperluas akses literasi tanpa menggerus nilai kemanusiaan, etika, dan keteladanan yang menjadi ruh utama pendidikan.
Transformasi di sektor pendidikan, lanjut Sanusi, mutlak berawal dari keberanian para guru untuk keluar dari zona nyaman dan mencoba pendekatan belajar yang lebih interaktif. Suasana kelas harus dibangun secara menyenangkan guna merangsang siswa agar tidak sekadar menghafal materi, melainkan terlatih untuk berpikir kritis, cakap berkomunikasi, mampu berkolaborasi, serta terampil memecahkan masalah.
Pada penghujung sambutannya, Bupati Malang berpesan agar para pahlawan tanpa tanda jasa ini tetap menjadi sosok yang inspiratif dan tidak pernah lelah dalam mengenali serta mengasah potensi unik setiap anak didik. Pemerintah Kabupaten Malang memastikan akan terus berkomitmen mendukung peningkatan mutu pendidikan daerah melalui penguatan kapasitas SDM guru serta kolaborasi erat bersama seluruh pemangku kepentingan terkait.
Menilik lebih jauh arahan Bupati Malang terkait integrasi kecerdasan buatan dan pergeseran metode belajar, langkah yang diambil melalui lokakarya PGRI ini menyentuh persoalan paling mendasar dalam lanskap pendidikan nasional modern. Di era ketika informasi dapat diakses dalam hitungan detik melalui gawai, peran guru memang telah bergeser secara fundamental dari sumber utama pengetahuan menjadi fasilitator dan kurator nilai.
Tantangan terbesar bagi tenaga kependidikan di daerah saat ini bukan lagi soal ketersediaan kurikulum, melainkan kesenjangan literasi digital antargenerasi yang kerap membuat metode pengajaran terasa usang bagi siswa generasi alfa dan z. Dengan mendorong guru untuk merangkul teknologi secara bijak sembari memperkuat pendidikan karakter, Kabupaten Malang sedang meletakkan fondasi penting agar transformasi digital di sekolah tidak melahirkan generasi yang sekadar cakap teknologi, tetapi juga matang secara emosional dan beretika.







