MALANG, Zonamalang.com – Pembangunan Kampus II Universitas Brawijaya (UB) di Kecamatan Kepanjen terus menunjukkan progres positif. Pemerintah Kabupaten Malang bersama jajaran Universitas Brawijaya meninjau langsung lokasi pembangunan yang diproyeksikan menjadi pusat pendidikan vokasi sekaligus penggerak ekonomi baru di wilayah Malang bagian selatan.
Peninjauan tersebut dilakukan oleh Bupati Malang, Drs. H. M. Sanusi, M.M., didampingi Sekretaris Daerah Kabupaten Malang Dr. Ir. Budiar, M.Si., bersama Rektor Universitas Brawijaya Prof. Widodo, S.Si., M.Si., Ph.D.Med.Sc, Ketua Senat Akademik Universitas Prof. Dr. Ir. Nuhfil Hanani AR., M.S., serta Ketua Pelaksana Kholid Mawardi, S.Sos., M.AB., Ph.D. di kawasan pembangunan Kampus II UB, Dusun Tegaron, Desa Panggungrejo, Kecamatan Kepanjen, Senin siang.
Dalam kesempatan tersebut, rombongan meninjau langsung salah satu dari dua gedung baru yang saat ini masih dalam tahap pembangunan sebagai fasilitas penunjang Fakultas Vokasi Universitas Brawijaya. Turut hadir pula Ketua DPRD Kabupaten Malang bersama para Wakil Ketua DPRD serta sejumlah pimpinan komisi.
Bupati Malang yang akrab disapa Abah Sanusi mengungkapkan bahwa progres pembangunan saat ini telah mencapai sekitar 50 persen. Ia optimistis proyek tersebut dapat rampung sesuai target sehingga kegiatan akademik bisa dimulai pada tahun 2027.
“Alhamdulillah hari ini kita bersama Pemkab Malang, DPRD Kabupaten Malang dan Universitas Brawijaya melakukan peninjauan lokasi pembangunan. Saat ini progresnya sudah sekitar 50 persen dan ditargetkan selesai pada Maret 2027. Setelah itu UB siap menerima mahasiswa baru di Kampus II Kepanjen,” ujarnya.
Menurut Sanusi, pembangunan dua gedung tersebut tidak lepas dari dukungan berbagai pihak, termasuk DPRD Kabupaten Malang yang sejak awal ikut mengawal proses pengembangannya. Ia berharap keberadaan kampus baru tersebut mampu memberikan dampak luas bagi masyarakat sekitar.
Pembangunan Kampus II UB menjadi salah satu proyek strategis yang menandai eratnya sinergi antara Pemerintah Kabupaten Malang dan Universitas Brawijaya dalam memperluas akses pendidikan tinggi. Kehadiran kampus ini juga diharapkan mampu mendekatkan pendidikan vokasi dengan kebutuhan dunia kerja dan industri.
Sanusi mengakui perjalanan pembangunan kampus tidak selalu berjalan mulus. Berbagai dinamika, mulai dari perbedaan pandangan hingga proses administrasi pengelolaan aset, sempat menjadi tantangan dalam mewujudkan proyek tersebut.
“Setiap perubahan pasti ada pro dan kontra. Namun yang perlu dipahami, ini adalah aset negara yang digunakan untuk kepentingan negara. Bukan dibagi-bagi, melainkan hanya perpindahan kewenangan pengelolaan. Alhamdulillah sekarang hasilnya sudah terlihat dan pembangunan terus berjalan,” katanya.
Lebih lanjut, ia memperkirakan kawasan kampus nantinya dapat menampung sekitar 6.000 mahasiswa. Jumlah tersebut diyakini akan menciptakan aktivitas ekonomi baru yang berdampak langsung pada masyarakat Kepanjen dan wilayah sekitarnya.
Selain menjadi pusat pendidikan, kawasan Kampus II UB juga dirancang sebagai kawasan pengembangan inovasi. Di lahan seluas sekitar 28 hektare tersebut, pengembangan kampus dibagi ke dalam dua zona utama, yakni kawasan Fakultas Vokasi dan Science Technopark (STP).
Zona STP nantinya akan dilengkapi fasilitas mini laboratory factory yang berfungsi sebagai ruang kolaborasi antara dunia pendidikan dan industri. Konsep ini diharapkan mampu menghasilkan lulusan yang lebih siap menghadapi kebutuhan pasar kerja sekaligus mendorong lahirnya berbagai inovasi berbasis riset dan teknologi.
Dengan nilai proyek yang diperkirakan mencapai Rp115 miliar, pembangunan Kampus II UB di Kepanjen menjadi salah satu investasi pendidikan terbesar di Kabupaten Malang dalam beberapa tahun terakhir. Pemerintah Kabupaten Malang dan DPRD berharap pembangunan dapat selesai tepat waktu sehingga pada tahun 2027 kawasan tersebut sudah mulai menjadi pusat aktivitas akademik baru di wilayah selatan Kabupaten Malang.
Keberadaan kampus ini juga dipandang sebagai katalis pertumbuhan wilayah, tidak hanya di sektor pendidikan, tetapi juga pada sektor usaha, jasa, perumahan, hingga pengembangan ekonomi masyarakat yang berada di sekitar kawasan Kepanjen.







