MALANG, Zona Malang – Dinamika politik di Indonesia tampaknya memberikan pengaruh yang cukup signifikan terhadap kondisi perekonomian negara. Hal ini terlihat dari pelemahan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) hingga 6 persen dan merosotnya nilai tukar rupiah terhadap dolar AS (US$) pada pekan ini.
Menurut Direktur Eksekutif Center of Economic and Law Studies (Celios), Bhima Yudhistira, gejolak di pasar keuangan ini dipengaruhi oleh pengesahan Rancangan Undang-Undang (RUU) Tentara Nasional Indonesia (TNI) oleh Dewan Perwakilan Rakyat (DPR). Bhima mengatakan bahwa revisi UU TNI ini menimbulkan kekhawatiran di kalangan pelaku pasar terkait masa depan daya saing Indonesia dan kapasitas fiskal negara.
“Pelemahan kurs lebih terkait pengesahan revisi UU TNI karena menimbulkan kekhawatiran masa depan daya saing Indonesia dan kapasitas fiskal Indonesia menurun,” ujar Bhima kepada Zona Malang, Jumat (21/3/2025).
Selain itu, Bhima juga menyoroti situasi Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) yang saat ini cukup mengkhawatirkan. Penerimaan pajak mengalami penurunan di awal tahun, sementara posisi utang pemerintah terus melonjak. Hal ini tentu saja turut memberikan tekanan pada pasar keuangan.
“Situasi APBN yang mengkhawatirkan karena pendapatan pajak turun, belanja negara kena efisiensi yang tidak tepat sasaran, beban utang naik terakumulasi dengan ketidakpercayaan terhadap kebijakan pemerintah,” jelas Bhima.
Lebih lanjut, Bhima mengatakan bahwa faktor lain yang turut mempengaruhi pelemahan daya beli masyarakat, seperti penurunan penjualan kendaraan bermotor, jumlah simpanan perorangan, serta PHK massal di sektor padat karya. Hal ini terlihat dari data impor barang konsumsi yang turun jelang Ramadan hingga menjelang Lebaran.
Pada Rabu (19/3/2025), nilai tukar rupiah terhadap dolar AS merosot menjadi Rp16.531. Namun, pada hari ini, Jumat (21/3/2025), rupiah kembali menguat 0,28 persen ke posisi Rp16.485/US$. Di sisi lain, IHSG yang pada Selasa (19/3/2025) ambrol 395,87 poin atau 6,12 persen ke posisi 6.076,08, hari ini menguat 70,01 poin atau setara 1,11 persen ke level 6.381,67.
Meskipun demikian, Bhima menyatakan bahwa situasi ini masih belum stabil. Ia mengkhawatirkan bahwa pengesahan UU TNI yang dinilai akan menimbulkan kekhawatiran di kalangan pelaku pasar dapat kembali membuat rupiah dan IHSG “ndelosor” ke level yang semakin mengkhawatirkan.
“Entah besok apakah rupiah dan IHSG masih sakti? Atau kembali ‘ndelosor’ ke level yang semakin mengkhawatirkan? Karena DPR telah mengesahkan UU TNI yang dikhawatirkan pelaku pasar. Mudah-mudahan tidak,” ujar Bhima.
Situasi ini tentu saja menjadi perhatian bagi pemerintah dan pelaku pasar. Diharapkan adanya kebijakan yang tepat dan terukur untuk menjaga stabilitas ekonomi dan keuangan Indonesia di tengah dinamika politik yang sedang terjadi.
Tidak hanya itu, Bhima juga menyoroti perlunya perbaikan dalam pengelolaan APBN dan upaya peningkatan daya saing Indonesia agar dapat menjaga kepercayaan pasar di tengah ketidakpastian global. Hal ini menjadi penting untuk menjaga pertumbuhan ekonomi dan kesejahteraan masyarakat.







