MALANG, Zona Malang – Proyek Ibu Kota Nusantara (IKN) kembali menuai sorotan, kali ini terkait pengembalian kereta otonom atau kereta tanpa rel ke China. Kabar ini mendapat tanggapan dari berbagai pihak, termasuk pegiat media sosial Jhon Sitorus dan politikus Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP), Ferdinand Hutahean.
Jhon Sitorus, seorang pegiat media sosial, menilai bahwa pengembalian kereta otonom ini merupakan bukti bahwa proyek-proyek yang dulu dibanggakan mantan Presiden Joko Widodo (Jokowi) mulai menunjukkan kegagalan. “Akhirnya, satu persatu proyek kebohongan itu mulai menampar wajah Jokowi sendiri,” ujar Jhon kepada fajar.co.id.
Jhon menyinggung bahwa proyek kereta otonom tersebut sempat dipamerkan Jokowi pada masa kepemimpinannya. Namun, Jhon melihat bahwa yang dipamerkan hanyalah bus gandeng biasa yang diberi tampilan seperti kereta dan dipaksakan tampil demi mendapatkan pujian. “Dulu terlalu gegabah memaksakan diri agar memamerkan Kereta Otonom (yang sebenarnya bus gandeng yang bannya ditutupi) demi pengakuan dan tepuk tangan,” cetusnya.
Menurut Jhon, pemerintah di bawah kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto harus mengambil langkah realistis, termasuk mengembalikan kereta tersebut ke negara asalnya, China. Ia menilai hal ini mencerminkan kegagalan proyek IKN dalam menarik minat investor. “Pengembalian kereta otonom ke Cina adalah langkah paralel dari bangkrutnya IKN karena tidak ada investor yang tertarik menanamkan modal di proyek politik ini,” lanjutnya.
Jhon juga menilai bahwa kebijakan efisiensi ala Presiden Prabowo akan membawa IKN ke dua kemungkinan. “Satu menjadi replika candi Hambalang, kedua menghapus nama Jokowi lalu mendesain ulang IKN tanpa embel-embel Jokowi,” tandasnya. Jhon menegaskan bahwa IKN harus dikembalikan menjadi cita-cita negara, bukan cita-cita politik Jokowi dan keluarganya.
Sementara itu, Politikus PDIP, Ferdinand Hutahean, juga turut bersuara soal proyek IKN usai kabar dikembalikannya kereta tanpa rel ke China. Menurutnya, langkah itu merupakan simbol nyata dari kegagalan proyek ambisius Presiden Joko Widodo tersebut. “Bagi saya memaknai kereta tanpa rel ke China adalah sebagai pertanda bahwa memang IKN itu akan kembali ke titik nol sebelumnya,” kata Ferdinand.
Ferdinand menyebut kawasan IKN hanya akan kembali menjadi wilayah kosong seperti sediakala. “Kembali menjadi kawasan seperti semula. Di sana tidak ada kehidupan, seperti yang dicita-citakan Jokowi,” lanjutnya. Lebih lanjut, ia menilai kembalinya kereta tanpa rel itu mencerminkan kegagalan total dari keseluruhan rencana pembangunan IKN.
Menurut Ferdinand, situasi ekonomi Indonesia yang tengah tidak stabil, baik secara nasional maupun global, membuat proyek IKN semakin tidak relevan untuk diteruskan. “Karena kita menghadapi situasi yang tidak baik-baik saja secara nasional ekonominya maupun secara internasional,” jelas Ferdinand. Ia juga meragukan kemungkinan IKN akan selesai sebagaimana yang direncanakan oleh pemerintah.
Ferdinand menegaskan bahwa saat ini adalah waktu yang tepat bagi bangsa Indonesia untuk menghadapi kenyataan. “Jadi kembalinya kereta tanpa rel ini ke China artinya sudahlah, mengembalikan semua rencana IKN kepada titik nol. Kita harus siap menerima kenyataan ke depan bahwa IKN tidak akan pernah selesai,” kuncinya.
Dalam perkembangan ini, baik Jhon Sitorus maupun Ferdinand Hutahean memberikan pandangan kritis terhadap proyek IKN yang dianggap semakin menunjukkan kegagalan. Keputusan pemerintah untuk mengembalikan kereta otonom ke China dinilai sebagai simbol nyata dari ketidakberhasilan rencana pembangunan ibu kota baru tersebut.







