Sengatan Maut di Sekolah: Orangtua Korban Menuntut Keadilan dari Presiden

MALANG – Keluarga korban sengatan kabel listrik AC di sekolah menuntut keadilan atas tewasnya Steven Sukha Hariyadi. Tanu Hariyadi, ayah korban, memohon perlindungan Presiden Prabowo Subianto untuk mengungkap kebenaran di balik kematian putranya.

Tragedi ini bermula saat Steven, bersama beberapa temannya, hendak mengerjakan ujian praktik Pendidikan Jasmani, Olahraga, dan Kesehatan (PJOK) di SMPK Angelus Custos, Krembangan, Surabaya, pada Senin (28/3/2025). Namun, saat itu sekolah sedang libur, sehingga korban dan teman-temannya memutuskan untuk mengerjakan tugas di rooftop sekolah lantai empat.

Sayangnya, nasib nahas menimpa Steven. Ia diduga tersengat listrik saat tidak sengaja menginjak kabel AC yang terkelupas. “Putra saya berteriak, (katanya) aku kesetrum, lalu mematung selama sekitar 40 detik. Akhirnya terjatuh dan kepalanya terbentur pagar,” papar Tanu.

Segera setelah insiden itu, Steven dibawa ke Rumah Sakit Adi Husada di Jalan Undaan Wetan. Namun, nyawa korban tidak tertolong dan meninggal dunia sekitar pukul 12.35 WIB. Tanu mengatakan, dalam jenazah anaknya terdapat bercak-bercak merah akibat sengatan listrik bertegangan tinggi di sekolah tersebut.

Tanu Hariyadi sangat kecewa atas pembatalan cek TKP (Tempat Kejadian Perkara) oleh Polrestabes Surabaya pada Jumat (9/5/2025). Ia meminta perlindungan Presiden Prabowo Subianto untuk mencari keadilan atas tewasnya anak lelakinya.

“Saya benar-benar memohon ke Pak Prabowo Subianto, Kapolri, Kapolres, dan bapak penyidik, mohon, mohon, mohon, mohon, benar-benar mohon,” ujar Tanu seraya meneteskan air mata.

Tanu menegaskan bahwa dirinya dan keluarga hanya membutuhkan keadilan atas kasus yang diduga disebabkan oleh sarana dan prasarana sekolah yang kurang terawat. “Tolong kebenaran dibongkar. Anak kucing saja kalau meninggal kita kubur baik-baik. Saya enggak tahu kenapa ditunda. Saya masih berpikir positif penyidik bersikap profesional,” tandas Tanu.

Dalam kesempatan itu, Tanu bahkan bersujud di hadapan wartawan, berharap kejanggalan atas tewasnya anaknya segera terungkap. “Saya mohon, Pak Prabowo, semuanya, Kapolri, Kapolda, Kapolres, tolong bijaksana, tolong, tolong. Kalau hari ini saya sujud, saya benar-benar minta tolong, saya sujud,” ujarnya lagi.

Christine, ibu korban, turut merangkul suaminya yang sudah bersujud di tanah. Dengan berlinang air mata, Cristin yang sempat shock dan hendak bunuh diri itu memapah tubuh suaminya. “Aku mohon keadilan, kalau perlu ganti nyawa enggak apa, ganti nyawa saya. Mana ada orangtua mau anaknya (meninggal) begini. Ini bukan anak kucing, ini anak manusia, tolong,” terangnya.

Kasi Humas Polrestabes Surabaya, AKP Rina Shanty Dewi, mengonfirmasi laporan dari keluarga korban. Ia menyatakan bahwa pihaknya masih mendalami kasus tersebut dan telah melakukan klarifikasi dengan 5 orang saksi, termasuk dari pihak sekolah.

Keluarga korban berharap agar pihak berwenang dapat segera mengungkap kebenaran di balik kematian Steven Sukha Hariyadi. Mereka meminta keadilan dan pertanggungjawaban atas insiden yang diduga disebabkan oleh sarana dan prasarana sekolah yang tidak memadai.