MALANG – Tim Fleet One Quick Response (F1QR) Pangkalan TNI AL Tanjung Balai Karimun (TBK) berhasil menggagalkan aksi penyelundupan narkotika berskala besar yang dibawa oleh kapal ikan asing berbendera Thailand. Kapal bernama Aungtoetoe 99 tersebut membawa 1.905 kilogram narkotika yang terdiri dari 1.200 kg kokain dan 705 kg sabu-sabu.
Penangkapan Kapal Penyelundup Narkoba Senilai Rp 1,9 Triliun
Operasi penangkapan berlangsung di perairan Selat Durian, Kabupaten Tanjung Balai Karimun, Rabu (tanggal). Aksi kapal tersebut sempat memicu kecurigaan karena berusaha kabur dengan mematikan lampu dan mempercepat laju pelayaran, menunjukkan indikasi kuat adanya aktivitas ilegal.
“Tim patroli F1QR Lanal Tanjung Balai Karimun segera melakukan pengejaran intensif hingga akhirnya berhasil menghentikan kapal pada pukul 00.30 WIB,” ujar Komandan Pangkalan TNI AL Tanjung Balai Karimun, Laksamana Pertama TNI Andi Setyo Nugroho.
Setelah dilakukan pemeriksaan lanjutan, ditemukan 95 karung mencurigakan yang terdiri dari 35 karung kuning dan 60 karung putih. Setelah dilakukan uji laboratorium oleh tim Bea Cukai Kepri, karung-karung berisi narkotika jenis kokain seberat 1.200 kg dan methamphetamine (sabu-sabu) seberat sekitar 705 kg.
“Nilai total narkoba yang disita mencapai Rp 1,9 triliun, ini merupakan penyelundupan narkoba terbesar yang pernah digagalkan di wilayah perairan Kepulauan Riau,” tambah Andi.
Lima Awak Kapal Diamankan, Terdiri dari Warga Thailand dan Myanmar
Lima ABK berhasil diamankan dalam operasi ini, terdiri dari satu warga negara Thailand dan empat warga negara Myanmar. Seluruh ABK tidak memiliki dokumen perjalanan maupun perizinan pelayaran yang sah.
“Fakta-fakta ini menguatkan bahwa kapal Aungtoetoe 99 digunakan sebagai alat penyelundupan narkotika lintas negara, yang menjadi ancaman serius bagi keamanan dan kesehatan masyarakat Indonesia,” tegas Andi.
Saat ini, kapal beserta seluruh ABK telah diamankan di Dermaga Lanal Tanjung Balai Karimun untuk pemeriksaan lanjutan. Operasi ini merupakan hasil sinergi antara TNI AL dan Kanwil DJBC Khusus Kepulauan Riau.
“Ke depan, tim juga akan melibatkan anjing pelacak (K9) untuk memastikan tidak ada barang terlarang lain yang terlewat,” ujar Andi.
Keberhasilan ini menjadi bukti nyata komitmen TNI dalam memberantas kejahatan narkotika dan memperkuat kolaborasi antarinstansi guna menjaga kedaulatan dan keselamatan bangsa dari ancaman transnasional.
“Kita tidak akan tinggal diam menghadapi ancaman narkoba yang terus mengintai. TNI AL akan terus bekerja sama dengan instansi terkait untuk mencegah dan memberantas peredaran narkoba di wilayah perairan Indonesia,” pungkas Andi.







