Skandal Grup Terlarang: Bahaya Inses Terungkap

MALANG – Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo) resmi menutup akses terhadap enam grup Facebook yang diduga menyimpan konten menyimpang terkait fantasi seksual dalam keluarga. Hal ini menyusul viralnya sebuah grup bernama ‘Fantasi Sedarah’ di media sosial.

Direktur Jenderal Pengawasan Ruang Digital Kementerian Kominfo, Alexander Sabar, menyebut pemblokiran ini sebagai langkah konkret pemerintah untuk menjaga ruang digital yang sehat, khususnya bagi anak-anak. Grup ‘Fantasi Sedarah’ diketahui memuat konten-konten yang berisi fantasi seksual antar anggota keluarga, seperti anak dan ibu, ayah dan anak, hingga kakak dan adik.

“Kami segera menghubungi Meta dan meminta agar grup komunitas tersebut dihentikan aksesnya,” ungkap Alex dalam pernyataan tertulis yang diterima media. Menurutnya, isi grup yang menampilkan fantasi dewasa itu tidak pantas dan berpotensi merusak perkembangan psikologis anak.

Langkah tegas ini dilakukan berdasarkan Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 17 Tahun 2025 tentang Tata Kelola Penyelenggaraan Sistem Elektronik dalam Perlindungan Anak (PP Tunas). Peraturan ini mewajibkan platform digital untuk menjaga anak dari paparan konten berbahaya dan mendukung perkembangan mereka di lingkungan online yang aman.

Polda Metro Jaya pun saat ini tengah menangani kasus grup Facebook kontroversial ‘Fanasi Sedarah’. Direktur Siber Polda Metro Jaya Kombes Roberto Pasaribu meminta masyarakat untuk tidak membagikan ulang konten yang sudah tersebar. “Kami meminta agar penyebaran kembali (re-share) konten yang ada dalam akun grup yang sudah ditangguhkan/ditutup oleh provider Meta tersebut dalam bentuk tangkapan layar, terutama yang ada foto anak dengan kalimat melanggar UU Kesusilaan/Pornografi tidak dilakukan kembali dengan tujuan apapun,” kata Roberto.

Jauh sebelum viralnya grup ‘Fantasi Sedarah’, seksolog dokter Boyke Dian Nugraha pernah menyuarakan bahaya inses atau hubungan sedarah. Dalam kanal YouTube Azka Corbuzier, dr Boyke menjelaskan inses merupakan hubungan yang dilakukan oleh dua orang yang masih memiliki ikatan keluarga, seperti ayah dengan anak perempuan, paman dengan keponakan, dan lainnya yang masih satu garis darah.

Menurutnya, hubungan sedarah ini sangat berbahaya karena apabila terjadi kehamilan, maka anak yang dihasilkan kemungkinan besar anak yang cacat. “Kalau hamil, anak yang dihasilkan itu adalah anak-anak “cacat” secara genetik, udah pasti 52 persen karena genetiknya mirip,” kata dr Boyke.

Dipastikan juga genetik-genetik yang buruk akan keluar pada kasus inses yang kasusnya dalam dunia kedokteran disebut sebagai gen resesif atau gen yang lemah. Orang yang memiliki bakat hemofilia lalu inses maka anaknya bisa berisiko menurunkan hemofilia, yaitu kelainan darah yang tidak bisa membeku.

Tindakan Kominfo dalam memblokir grup ‘Fantasi Sedarah’ mendapat dukungan dari publik. Hal ini dianggap sebagai langkah tepat untuk melindungi anak-anak dari paparan konten berbahaya yang dapat merusak perkembangan psikologis mereka. Masyarakat juga diimbau untuk tidak menyebarkan kembali konten terkait grup tersebut demi mencegah dampak buruk yang lebih luas.

Kasus ini menjadi perhatian serius bagi pemerintah dan masyarakat, mengingat ancaman yang ditimbulkan oleh konten menyimpang terkait fantasi seksual dalam keluarga. Kominfo berkomitmen untuk terus memantau dan mengambil tindakan tegas terhadap konten-konten serupa yang dapat membahayakan anak-anak di ruang digital.