MALANG – Mantan Menteri Kesehatan (Menkes) Siti Fadilah Supari menyampaikan pandangannya terkait upaya menekan angka penderita tuberkulosis (TBC) di Indonesia. Menurut Fadilah, salah satu cara yang efektif adalah melalui metode eradikasi atau memberantas penyakit TBC secara komprehensif.
Fadilah mengungkapkan, jika pemerintah ingin menurunkan angka TBC di Indonesia hingga tahun 2030, maka metode eradikasi dapat menjadi solusi yang tepat. “Menurut saya, kalau Anda ingin menurunkan angka tuberkulosis di Indonesia untuk tahun 2030, lima tahun lagi, itu dengan eradikasi,” kata Fadilah dalam program One on One Sindonews TV yang dikutip, Senin (19/5/2025).
Eradikasi, lanjut Fadilah, adalah upaya memberantas orang yang sudah terinfeksi TBC dengan pengobatan yang komprehensif. “Eradikasi itu memberantas orang yang sudah sakit TB atau mengobati orang yang sakit TB secara komprehensif. Jadi mengobati TB itu hanya 40 persen itu medis. Yang 60 persen itu bukan medis,” jelasnya.
Fadilah juga mengapresiasi program Desa Siaga TBC yang dicanangkan oleh Menkes Budi Gunadi Sadikin. Program ini memberikan perhatian khusus kepada pasien TBC dengan melibatkan masyarakat sekitar. “Misalkan dalam satu RW ada delapan orang. Nah, delapan orang itu difokuskan. Obatnya harus diminum dengan baik,” ujarnya.
Meskipun demikian, Fadilah menekankan bahwa program Desa Siaga TBC masih membutuhkan penyempurnaan, terutama dalam hal pemberian makanan bergizi bagi pasien TBC. “Cuma programnya Pak Menkes ini kurang komprehensif, Pak Menkes. Jadi tolong ditambahin gizi. Jadi makan bergisi gratis juga harus diberikan,” tuturnya.
Menurut Fadilah, pemberian makanan bergizi secara gratis kepada pasien TBC akan melengkapi program Desa Siaga TBC yang telah diluncurkan oleh Kementerian Kesehatan pada 9 Mei 2025 lalu. Ia meyakini, jika program tersebut berjalan dengan baik, Indonesia tidak akan membutuhkan vaksin TBC.
“Jadi kita tidak butuh vaksin sebetulnya kalau programnya Pak Menkes berjalan dengan bagus kita tidak butuh vaksin yang dibikin oleh Bill Gates tersebut,” ujarnya.
Fadilah juga menekankan pentingnya memperbaiki lingkungan tempat tinggal para pasien TBC. Menurutnya, hal ini akan menjadi bagian penting dari program eradikasi yang komprehensif.
“Jadi makan bergizi gratis juga harus diberikan kepada pasien-pasien tuberkulosis dan betulkan lah environment mereka,” tuturnya.
Lebih lanjut, Fadilah meyakini bahwa jika program Desa Siaga TBC berjalan dengan baik, disertai dengan pemberian makanan bergizi dan perbaikan lingkungan, maka Indonesia tidak akan membutuhkan vaksin TBC yang dikembangkan oleh Bill Gates. Ia berharap agar Menkes Budi Gunadi Sadikin dapat menyempurnakan program tersebut demi menekan angka penderita TBC di Indonesia.







