Polisi Rilis Pengakuan Pembawa Molotov di Balai Kota Malang: Ngaku Dibayar Rp20 Ribu untuk Bakar Pagar DPRD

Polresta Malang Kota merilis hasil pemeriksaan terhadap YAP (21), pemuda yang ditangkap karena membawa bom molotov saat aksi unjuk rasa di kawasan Balai Kota Malang pada 1 September 2025 lalu. Dalam pengakuannya, tersangka menyatakan bahwa ia diberi uang Rp20.000 dan satu botol bom molotov oleh orang tak dikenal untuk membakar pagar Gedung DPRD Kota Malang.

Keterangan ini disampaikan oleh Wakapolresta Malang Kota, AKBP Oskar Syamsuddin, dalam konferensi pers yang digelar pada Jumat (26/9). Polisi kini tengah memburu pihak yang menyuruh dan mendanai aksi tersebut.

AKBP Oskar menjelaskan kronologi kejadian. Tersangka YAP, yang bekerja di sebuah toko elektronik, mengetahui adanya informasi unjuk rasa melalui media sosial dan berniat untuk bergabung. “Di tengah perjalanan, tersangka dihentikan oleh dua orang berboncengan yang tidak dikenalnya. Orang tersebut memberikan uang Rp 20.000 serta satu botol berisi bensin (molotov),” ujar Oskar.

Sesampainya di dekat lokasi demo, tepatnya di depan SMAN 1 Kota Malang, YAP mencoba memprovokasi massa dengan membakar dedaunan. Namun, aksinya tersebut keburu dilihat oleh warga yang kemudian langsung mengamankannya dan menyerahkannya kepada pihak kepolisian.

Penyelidikan kasus ini tidak berhenti pada YAP. Polisi kini tengah memburu pelaku lain, termasuk empat orang yang menurut saksi mata juga membawa bom molotov namun berhasil melarikan diri. Fokus utama kepolisian adalah mengungkap “aktor intelektual” di balik aksi ini. “Masih kami dalami (yang memberi uang dan menyuruh). Ciri-cirinya sudah kami kantongi,” tegas Oskar.

Atas perbuatannya, tersangka YAP dijerat dengan pasal berlapis dari UU Darurat dan KUHP, dengan ancaman hukuman maksimal 20 tahun penjara.

Kasus ini menjadi sebuah peringatan penting bagi Anda, khususnya bagi anak muda yang aktif di media sosial. Pengakuan tersangka yang nekat melakukan aksi berbahaya dengan imbalan sangat kecil menunjukkan betapa mudahnya seseorang dapat terprovokasi dan dimanfaatkan oleh pihak-pihak tak bertanggung jawab melalui ajakan di dunia maya. Insiden ini adalah contoh nyata bahwa ikut serta dalam aksi yang berujung anarkis, apalagi terhasut oleh orang tak dikenal, dapat membawa konsekuensi hukum yang sangat berat dan berpotensi merusak masa depan Anda.