Zona Malang – Tol Waru Bandara Juanda yang menghabiskan APBN Rp722 miliar kini jadi sorotan karena sepi pengguna.
Jalan tol sepanjang 12,8 kilometer ini dibangun untuk menghubungkan pusat kota Surabaya dengan Bandara Internasional Juanda di Sidoarjo.
Proyek itu dimaksudkan untuk memangkas waktu tempuh dan memberi akses lebih mudah bagi aktivitas ekonomi dan konektivitas bandara.
Namun realitas di lapangan berbeda; volume lalu lintas jauh di bawah asumsi awal Badan Pengatur Jalan Tol (BPJT).
Akibatnya, tol yang dirancang untuk menambah kelancaran arus kini jarang dilintasi kendaraan.
Anggota BPJT, Sony Sulaksono Wibowo, menilai masalah muncul karena rencana pengembangan kawasan yang terkait tidak berjalan sesuai yang diharapkan.
“Jalan tol sudah ada namun rencana pengembangan kawasan, pelabuhan, dan sebagainya tidak berkembang dengan baik,” kata Sony.
Sony menekankan bahwa pemanfaatan jalan sangat bergantung pada keseriusan pemerintah daerah dan kementerian/lembaga terkait.
Meski kajian lalu lintas sudah dilakukan sebelum pembangunan, realisasinya ternyata tidak memenuhi ekspektasi.
Kondisi ini membuka potensi kerugian investasi negara jika tarif dan tingkat pemakaian tidak meningkat.
Surabaya dan Sidoarjo sendiri tercatat sebagai daerah termaju di Jawa Timur berdasarkan Indeks Pembangunan Manusia (IPM) 2024.
Data BPS 2025 menunjukkan Surabaya memimpin dengan IPM 84,69, sementara Sidoarjo menempati posisi keempat dengan IPM 82,67.
Padahal tol ini seharusnya menghubungkan pusat perekonomian terbesar tersebut ke bandara internasional utama Jatim.
Pembangunan di wilayah yang ramai ternyata belum otomatis menjamin arus lalu lintas di tol menjadi tinggi.
Kementerian Pekerjaan Umum kini melakukan evaluasi menyeluruh terhadap sejumlah jalan tol di Indonesia, termasuk yang jarang terpakai.
Evaluasi meliputi aspek tarif, keamanan, struktur jalan, dan upaya meningkatkan jumlah pengguna.
Dengan langkah itu, pemerintah berharap bisa meningkatkan manfaat bagi pengendara sekaligus memperbaiki pengembalian investasi.
Baca Juga: Sekolah Rakyat Malang Mendapat Perhatian Kementerian PU, Poltekom Diminta Berbenah
Kondisi Tol SS Waru–Juanda menjadi pelajaran penting soal sinergi proyek infrastruktur dan rencana tata ruang yang mendampingi.
Kegagalan memaksimalkan fungsi tol menunjukkan perlunya koordinasi lebih kuat antar-pemangku kebijakan.
Jika tidak ada penyesuaian kebijakan atau pengembangan kawasan pendukung, risiko underutilization proyek infra besar akan terus ada.
Di sisi lain, masyarakat berharap fasilitas publik seperti tol benar-benar memberi dampak positif pada mobilitas dan ekonomi lokal.
Proyek infrastruktur tidak boleh berdiri sendiri; keberhasilan tol sangat tergantung pada sinkronisasi antara pembangunan jalan, pengembangan kawasan, dan kebijakan fiskal yang memadai. Evaluasi cepat dan transparan dari Kementerian PU harus jadi prioritas agar kerugian negara bisa diminimalkan.
Pemda dan kementerian perlu menyusun rencana aksi terpadu—percepatan pembangunan kawasan sekitar, insentif bagi pengguna, serta kampanye pemanfaatan—agar tol bisa berfungsi sesuai tujuan awal dan menghindari pemborosan anggaran publik.







