Ironi Bantuan Bencana di Sumatera, Korban Pria Kenakan Pakaian Wanita karena Minimnya Stok

Unggahan media sosial tunjukkan korban pria di pengungsian Sumatera mengenakan pakaian wanita akibat keterbatasan bantuan logistik.

Zona Malang – Bencana alam yang melanda Sumatera kembali menyisakan kisah getir di tengah upaya pemulihan. Sebuah unggahan media sosial memperlihatkan potret ironi di lokasi pengungsian, ketika seorang korban pria terpaksa mengenakan pakaian wanita karena minimnya stok baju laki-laki yang tersedia.

Momen tersebut terekam dalam unggahan akun X @CakD3pp pada Selasa (9/12). Dalam keterangannya, akun tersebut menggambarkan kondisi para penyintas yang berusaha bertahan dengan segala keterbatasan. Meski sebagian korban masih mampu tersenyum, kebutuhan dasar seperti pakaian layak pakai ternyata belum sepenuhnya terpenuhi.

“Sebagian sudah bisa tersenyum, tapi pakaiannya banyak untuk perempuan katanya mas ini,” tulis @CakD3pp. Video yang diunggah memperlihatkan betapa sulitnya para korban pria menyesuaikan diri dengan bantuan yang ada.

Bantuan pakaian yang datang didominasi oleh baju perempuan, sementara kebutuhan mendesak justru datang dari para korban laki-laki yang kehilangan seluruh harta benda mereka. “Hari ini sebagian besar bantuan yang kami terima adalah baju wanita, sementara di lapangan kebutuhan yang mendesak justru baju pria,” lanjut akun tersebut.

Salah satu korban pria yang terekam kamera mencoba menyampaikan keluhannya dengan nada santai. Ia tetap mengucapkan terima kasih atas bantuan yang telah diberikan, meski kondisi yang dihadapi jauh dari ideal. “Bang untuk bajunya kami terima kasih,” ucapnya sambil tersenyum. Namun, ia menambahkan dengan tawa samar, “Tapi yang kami butuhkan bang sebenarnya baju laki-laki.”

Korban tersebut bahkan memperlihatkan pakaian yang dikenakannya saat itu, seraya menegaskan keterbatasan yang mereka hadapi. “Enggak ada baju laki-laki, ini baju perempuan semua ini bang,” tuturnya.

Meski demikian, rasa syukur tetap disampaikan kepada para dermawan yang telah peduli. “Untuk bajunya terima kasih bang, ya,” pungkasnya.

Kisah ini menjadi pengingat bahwa penyaluran bantuan bencana tidak hanya soal jumlah, tetapi juga kesesuaian dengan kebutuhan nyata para korban di lapangan. Distribusi yang tepat sasaran menjadi kunci agar bantuan benar-benar mampu meringankan beban para penyintas.