Zona Malang – Majelis Ulama Indonesia (MUI) Jawa Timur angkat bicara terkait video viral seorang pria yang mengamuk dan memarahi para remaja yang sedang berlatih rebana di Masjid Al Ikhlas, Palm Spring, Jambangan, Surabaya.
Ketua Fatwa MUI Jatim, KH Ma’ruf Khozin, memberikan penjelasan terkait kejadian tersebut.
Menurut KH Ma’ruf Khozin, pria yang terekam dalam video tersebut berasal dari kelompok Salafi. Ia mengidentifikasi hal ini berdasarkan penampilan pria tersebut yang mencerminkan karakteristik kelompok Salafi, seperti jenggot dan celana cingkrang.
Namun, yang lebih penting adalah doktrin yang mereka anut. Kelompok Salafi memiliki doktrin yang menyatakan bahwa semua alat musik adalah haram, tanpa membedakan jenis musik, termasuk musik rebana, dangdut, jazz, dan lainnya.
KH Ma’ruf Khozin menjelaskan bahwa di zaman Nabi, ada alat musik yang disebut rebana yang diperbolehkan. Sebagai contoh, dalam hadits Tirmidzi, ada kisah tentang seorang sahabat perempuan yang bernazar untuk menabuh terbangan jika Nabi pulang selamat.
Nabi Muhammad SAW mengizinkannya. Hal ini menunjukkan bahwa dalam Islam, ada ruang bagi penggunaan alat musik tertentu.
Ia juga menegaskan bahwa apa yang dilakukan para remaja di masjid tersebut tidak salah. Musik rebana identik dengan selawatan dan aspek religius, bukan hiburan.
Asalkan penggunaan alat musik tersebut tidak mengganggu waktu ibadah atau pengajian, maka tidak ada masalah dalam penggunaannya di masjid.
“Kemarin itu saya dapat kiriman videonya, itu terbangan jidor. Kecuali, itu alat orkes dangdut koplo, itu beda. Sebab, musik rebana identik musik selawatan, religi, keislaman, jadi tidak ada masalah. Asalkan tidak ditabuh pada masa salat, kajian. Kan itu pas rehat, sedang tidak masa salat atau pengajian,” jelasnya seperti yang dikutip dari DetikJatim.com.
Jadi anak-anak remaja masjid daripada di warkop giras, daripada ke tempat remang-remang, ya lebih baik diarahkan ke masjid. Sayangnya, pria itu menganggap semua jenis musik haram sehingga begitu keras menyikapi.
Dan itu sudah betul sikap remaja membela diri bahwa rebana beda dengan musik koplo dan dangdut,” tambahnya.
Ma’ruf meminta semua umat Islam menghargai segala perbedaan, apalagi di tempat umum, termasuk di tempat ibadah. Jangan sampai merasa paling benar sehingga menyalahkan orang lain.
“Ini yang kemudian perlunya kalau kata orang Jawa tepo seliro, mau menerima perbedaan sesama muslim, karena saudara kita (kelompok Salafi) ke sesama muslim keras, dianggap musuh, padahal mereka pendatang dan jauh dari etika khilafiyah sesama muslim,” jelasnya.
“Jadi saudara-saudara muslim kita ini ada yang keras soal kebangsaan. Orang yang di masjid itu soal NKRI tidak keras, tapi keras soal amaliyah. Musik itu menurut mereka kemungkaran. Ini sekali lagi karena masjid di perumahan mungkin mereka berani, kalau masjid di kampung wilayah Muhammadiyah, NU mungkin tidak akan berani. Beraninya di masjid netral,” tegasnya.
KH Ma’ruf Khozin meminta semua umat Islam untuk menghargai perbedaan dan tidak merasa paling benar. Ia berpendapat bahwa perbedaan adalah bagian dari kehidupan, dan semua perbedaan harus diterima dengan lapang dada.
Lebih lanjut, ia mengajak umat Islam untuk memperluas pengetahuan mereka tentang agama Islam dan tidak merasa bahwa ajaran guru mereka adalah satu-satunya yang benar.
Penting untuk memperluas wawasan dan memahami bahwa ada variasi pandangan dalam Islam.
[ei_embed_youtube src=”https://www.youtube.com/embed/k7wSGDhRLlQ”]
Keseluruhan peristiwa ini menggarisbawahi pentingnya dialog, pemahaman, dan penghargaan terhadap perbedaan pandangan dalam masyarakat, terutama di tempat-tempat ibadah yang seharusnya menjadi tempat kedamaian dan penghormatan terhadap perbedaan.
Sebelumnya, dalam video berdurasi sekitar 2 menit yang tersebar di media sosial, memperlihatkan pria tersebut berbicara dengan nada tinggi.
Ia tampak menggunakan gamis. “Ndak ada musik dalam masjid itu. Munkar ini. Munkar! Demi Allah, munkar,” ujar pria yang mengamuk dalam video yang dilihat Zona Malang di Surabaya, Kamis (5/10/2023).
Pria tersebut juga marah-marah kepada sejumlah orang di masjid. Video juga menampakkan saat pria tersebut menunjuk-nunjuk rebana.
Ia melarang para remaja bermain rebana di dalam masjid. “Loh, kamu kalau mau main musik di luar,” teriak pria tersebut.***







