Dari Pakan Bebek Jadi Keripik Premium: Kisah Ibu-Ibu Pesisir Cilacap yang Berdaya Bersama PLTU S2P

Di balik transformasi ini, ada kisah para ibu rumah tangga yang berdaya, didukung oleh program pemberdayaan UMKM yang diinisiasi oleh PT Sumber Segara Primadaya (S2P)…

Zona Malang – Di Desa Menganti, sebuah desa pesisir di Kabupaten Cilacap, kulit ikan yang dulunya hanya dianggap limbah atau pakan bebek kini telah naik kelas. Berkat sentuhan inovasi dan pendampingan, limbah tersebut kini telah berubah menjadi keripik premium bernilai jual tinggi. Di balik transformasi ini, ada kisah para ibu rumah tangga yang berdaya, didukung oleh program pemberdayaan UMKM yang diinisiasi oleh PT Sumber Segara Primadaya (S2P) – PLTU Cilacap.

Program ini lahir dari sebuah pemetaan sosial yang mengidentifikasi dua hal: melimpahnya potensi hasil laut yang belum tergarap maksimal dan tingginya semangat para perempuan pesisir untuk berwirausaha. PT S2P, sebagai bagian dari tanggung jawab sosial perusahaannya, menangkap peluang ini untuk menciptakan kemandirian ekonomi yang berkelanjutan di sekitar wilayah operasionalnya.

Salah satu buah manis dari program ini adalah lahirnya UMKM Yankizz 56. Kelompok yang beranggotakan para ibu rumah tangga ini kini mahir mengolah hasil laut menjadi aneka camilan modern, seperti basreng ikan dengan berbagai varian rasa, baby fish crispy, dan yang paling inovatif, keripik kulit ikan lendra. Produk ini menjadi simbol nyata dari pendekatan zero waste yang diusung program.

Hasilnya pun sudah terbukti secara nyata. Omzet kelompok Yankizz 56 terus menunjukkan tren positif, dari Rp 21,6 juta pada semester kedua 2024, meningkat menjadi Rp 22,3 juta pada semester pertama 2025. Angka ini menjadi bukti bahwa produk olahan mereka diterima dengan baik oleh pasar.

Namun, dampak yang paling menyentuh adalah perubahan di tingkat individu. Imah, salah seorang anggota UMKM Yankizz 56, menceritakan pengalamannya. “Awalnya kami hanya ibu rumah tangga yang tidak punya penghasilan. Tapi sejak dibina oleh PT S2P, kami bisa mengolah dan menjual produk sendiri. Hasilnya bisa membantu ekonomi keluarga,” tuturnya dengan bangga.

Keberhasilan ini bukanlah kebetulan. PT S2P menerapkan model pendampingan yang komprehensif dari hulu hingga hilir. Dukungan yang diberikan mencakup pelatihan produksi dan inovasi resep, pembentukan dan legalisasi kelompok usaha, hingga penyediaan alat produksi modern seperti mesin spinner dan fryer untuk menjaga kualitas produk.

Salah satu strategi yang paling unik adalah di sisi pemasaran. Selain dipromosikan melalui media sosial, produk-produk ini juga didistribusikan melalui jaringan tenaga kerja wanita migran Indonesia yang berada di Taiwan, Malaysia, dan Jepang. Ini menjadi kanal distribusi yang efektif sekaligus memberdayakan diaspora.

Eko Heriyanto, Asisten Manajer CSR PT S2P, menyatakan bahwa program ini adalah komitmen jangka panjang. “Pemberdayaan masyarakat melalui pelatihan keterampilan dan pengembangan UMKM merupakan bagian dari tanggung jawab sosial PT S2P yang akan terus kami perkuat. Di tahun ini, kami menargetkan lahirnya lebih banyak UMKM mandiri yang siap berdaya saing,” ujarnya.

Meskipun telah meraih sukses awal, perjalanan UMKM binaan ini masih panjang. Tantangan ke depan meliputi perluasan jaringan distribusi dan penguatan branding secara digital. Oleh karena itu, rencana selanjutnya adalah memfasilitasi sertifikasi halal, mengintegrasikan produk ke marketplace nasional, serta terus melakukan inovasi produk lanjutan untuk menjaga daya saing di pasar yang dinamis.