Astronot Artemis II Pulang ke Bumi, Menjadi Rekor Perjalanan Terjauh Manusia di Luar Angkasa

Empat astronot misi Artemis II NASA berhasil kembali ke Bumi setelah misi bersejarah mengelilingi Bulan, mencatat berbagai rekor baru dalam eksplorasi antariksa.

Zona Malang – Empat astronot misi Artemis II resmi kembali ke Bumi pada Jumat malam, 10 April 2026 waktu setempat. Kapsul Orion bernama Integrity mendarat darurat dengan mulus di perairan lepas pantai San Diego, Amerika Serikat, menandai kepulangan manusia ke lingkungan Bulan untuk pertama kalinya sejak misi Apollo 17 pada 1972.

“Dari halaman buku Jules Verne hingga misi modern ke Bulan, bab baru eksplorasi tetangga surgawi kita telah selesai. Astronot Integrity telah kembali ke Bumi,” ujar juru bicara NASA, Rob Navias, sesaat setelah kapsul menyentuh air.

Misi ini bukan sekadar pengulangan sejarah, tetapi juga mencetak berbagai rekor baru. Victor Glover mencatatkan diri sebagai orang kulit hitam pertama yang meninggalkan orbit Bumi. Christina Koch menjadi wanita pertama yang melakukan perjalanan ke luar angkasa jauh, sementara Jeremy Hansen menjadi warga non-Amerika Serikat pertama yang ikut dalam misi serupa.

“Kami mengirim empat orang luar biasa ke Bulan dan memulangkan mereka dengan selamat ke Bumi untuk pertama kalinya dalam lebih dari 50 tahun,” kata Manajer Program Artemis NASA, Lori Glaze.

Dalam hal teknis, Artemis II memecahkan rekor jarak terjauh manusia dari Bumi yang sebelumnya dipegang Apollo 13 dengan jarak 400.171 kilometer. Pada Senin, 6 April 2026, kru Artemis II mencapai jarak 406.771 kilometer dari planet asal mereka. Sepanjang misi, mereka menempuh perjalanan sejauh 1,1 juta kilometer.

Selama penerbangan lintas di sisi jauh Bulan, para astronot mendapatkan pemandangan yang belum pernah dilihat mata manusia selama setengah abad. Mereka mengamati kawah Orientale Basin yang ikonik dan melaporkan adanya variasi warna hijau dan cokelat di permukaan Bulan.

Kejadian tak terduga yang menakjubkan terjadi saat dinamika orbital membuat Bulan menutupi Matahari bagi kru Artemis II. Mereka menyaksikan gerhana matahari total selama 54 menit dari luar angkasa. “Hal itu benar-benar membuat kami semua terpukau,” kata Victor Glover.

Administrator NASA, Jared Isaacman, yang menyaksikan kepulangan para kru dari kapal pemulihan USS John P. Muthra, mengaku bangga atas kerja keras seluruh tim. “Jujur, saya masih kehabisan kata-kata. Saya sudah menunggu hampir sepanjang hidup saya untuk melihat ini,” ungkapnya.

Kepulangan ini bukannya tanpa risiko. Kapsul Integrity menghantam atmosfer Bumi dengan kecepatan sekitar 38.600 kilometer per jam, menciptakan panas ekstrem hingga 2.800 derajat Celsius. NASA sempat melakukan penyesuaian profil masuk karena adanya temuan retakan kecil pada pelindung panas di misi Artemis I sebelumnya. Namun, Integrity berhasil melewati ujian tersebut dengan sempurna dan mendarat di titik sasaran.

Keberhasilan Artemis II menjadi fondasi bagi misi Artemis III yang dijadwalkan pada pertengahan 2027 untuk menguji prosedur pendaratan. Target besarnya adalah membangun pos berawak di kutub selatan Bulan pada awal 2030-an.

NASA percaya bahwa keberadaan permanen di Bulan akan menjadi batu loncatan untuk misi yang jauh lebih ambisius, yakni mendaratkan astronot di Mars pada akhir 2030-an. “53 tahun lalu, kemanusiaan meninggalkan Bulan. Kali ini kami kembali untuk menetap,” tegas Wakil Administrator NASA, Amit Kshatriya.