Kabupaten Malang, 29 Januari 2024 – Malang – Proses perubahan nama Kerajaan Tumapel menjadi Singasari tidak terlepas dari peristiwa dramatis dan pertumpahan darah yang melibatkan keturunan Ken Arok. Sejarah mencatat bahwa perubahan nama ini merupakan hasil dari serangkaian kejadian kekerasan, termasuk pembunuhan dan peperangan.
Tentunya bagi warga Malang Raya sendiri masih banyak yang belum mengetahui fakta dibalik perubahan nama kerajaan Tumapel ini, untuk itu sekiranya Anda bisa menambah wawasan melalui artikel ini.
Pembunuhan Ken Arok oleh Anusapati, putra tirinya, menjadi pemicu perubahan tersebut. Anusapati, yang memerintah Tumapel setelah membunuh Ken Arok, kemudian tewas dibunuh oleh Tohjaya, menciptakan gelombang kekerasan dalam keturunan Ken Arok.
Tohjaya kemudian menjadi raja Tumapel, tetapi pemberontakan oleh Ranggawuni, anak Anusapati, bersama Mahisa Campaka menumbangkan pemerintahan Tohjaya. Ranggawuni kemudian naik takhta sebagai raja Tumapel dengan gelar Sri Jaya Wisnuwardhana.
Di bawah kepemimpinan bersama Ranggawuni dan Mahisa Campaka, yang dikenal sebagai Narasimhamurti, Kerajaan Tumapel dan Kediri akhirnya bersatu, mengakhiri konflik keturunan. Nama Kerajaan Tumapel pun diganti menjadi Kerajaan Singasari.
Masa pemerintahan bersama Ranggawuni dan Mahisa Campaka ditandai dengan damai, mengakhiri kutukan keris Gandring dan membawa perdamaian dalam suksesi kepemimpinan Singasari.
Sejarah perubahan nama ini menjadi bukti transformasi dari periode pertumpahan darah menuju kedamaian dalam kepemimpinan yang bijaksana dan bersatu. Singasari pun berkembang sebagai kerajaan yang makmur di bawah pimpinan Ranggawuni.***
Referensi: “Hitam Putih Ken Arok dari Kejayaan hingga Keruntuhan” karya Muhammad Syamsuddin dan sumber sejarah lainnya.







