Verenathania Debutkan EP Pertama dalam Format Live Session yang Segar dan Kolaboratif

Karir profesional Verenathania benar-benar melejit ketika ia mulai menulis lagu sendiri. Single perdananya, "Alien" (2023)

Zona Malang, 22 November 2025 – Penyanyi pop independen asal Malang, Verenathania, baru saja meluncurkan proyek musik terbarunya berupa EP debut yang dikemas dalam bentuk sesi live spesial. Rilis ini menampilkan tiga lagu hits miliknya yang diaransemen ulang, disajikan melalui video menarik yang sudah tayang di kanal YouTube-nya sejak 8 November 2025.

Kolaborasi ini melibatkan tim musisi lokal serta dukungan dari brand alat musik nasional seperti Bacchus Indonesia, Bromo Guitar, dan NUX, menjadikannya sebagai tonggak penting dalam perjalanan karirnya.

Verenathania, yang dikenal sebagai vokalis sekaligus gitaris berbakat, memulai petualangannya di dunia musik sejak usia dini. Saat masih duduk di bangku SD kelas 5, ia sudah rajin belajar gitar melalui les privat, termasuk dari guru terkenal seperti Robby Glyph dan Bayu Priaganda.

Memasuki masa SMP, gadis ini bergabung dengan band sekolah dan aktif tampil di festival-festival musik. Ia juga sering mengunggah cover lagu dari artis favoritnya, mulai dari Justin Bieber, Coldplay, Paramore, hingga gitaris legendaris Joe Satriani, melalui media sosial dan YouTube.

Karir profesional Verenathania benar-benar melejit ketika ia mulai menulis lagu sendiri. Single perdananya, “Alien” (2023), terinspirasi dari idolanya, Lee Seung Hyub, yang digambarkan sebagai sosok jauh bagai makhluk luar angkasa. Menariknya, idola tersebut sempat mendengar lagu ini tanpa tahu bahwa itu suara Verenathania.

Selanjutnya, “Red Glasses” (2024) menceritakan pengalaman pribadi tentang hubungan toksik yang dianalogikan dengan kacamata merah yang menyamarkan segala tanda bahaya. Lagu ketiga, “to: the future u” (2025), seperti surat romantis yang ditujukan untuk pasangan impian di masa depan.

Ide EP live session ini lahir dari obrolan santai dengan Rexi Tegar Pratama, yang kemudian menjadi sutradara, DOP, dan editor video. Verenathania ingin mengeksplorasi ulang lagu-lagunya untuk mencerminkan identitas musiknya saat ini, yang terpengaruh oleh musisi seperti Mikha Angelo, Rendy Pandugo, dan Ed Sheeran.

Dalam produksi ini, ia dibantu oleh Oddy Satya pada gitar dan keyboard, Hanafi Madu Wanandi di bass, serta Bogi Satya di drum. Tim pendukung lain termasuk Dhanesworo sebagai kru video dan Pandu Putra Bia W untuk foto behind the scene.

Proses pembuatan video berlangsung seru meski menantang, terutama karena jadwal bolak-balik antara Kediri dan Malang. Syuting dilakukan di Culture Club Coffee selama jam operasional kafe untuk menangkap suasana alami, bekerja sama dengan Kondimen Malang yang akan meluncurkan rubrik baru “Bermusik di Kopian”. Dukungan dari brand-brand gitar juga datang setelah Verenathania aktif di media sosial, terutama selama pandemi COVID-19, yang membantunya menarik perhatian dan endorsement.

Sebagai karyawan bank swasta, Verenathania mengaku masih belajar membagi waktu antara pekerjaan dan musik. Rasa syukur menjadi motivasi utamanya untuk tetap berkarya, meski sering merasa lelah setelah pulang kerja. Ia berharap EP ini menjadi jembatan menuju album penuh di 2026, di mana ia bisa lebih berani bereksperimen dan menemukan “suara Veren” yang autentik.

Di luar kisah pribadinya, fakta menarik dari scene musik independen di Malang adalah pertumbuhan komunitas lokal yang semakin solid, dengan banyak kafe seperti Culture Club Coffee menjadi pusat kolaborasi kreatif. Data dari platform streaming menunjukkan bahwa artis indie dari Jawa Timur, termasuk Malang, mengalami peningkatan pendengar hingga 30% sejak 2023, berkat konten live session yang lebih relatable dan autentik.

Meskipun karir tengah dijalani, tentu konsisten membangun kehadiran di media sosial seperti YouTube dan X, sambil mencari kolaborasi dengan komunitas lokal adalah cara paling ampuh untuk memperluas jaringan. Selain itu, jangan ragu menggabungkan pekerjaan utama dengan passion musik, asal tetap prioritaskan keseimbangan agar terhindar dari burnout seperti yang dilakukan Verenathania dengan rasa syukur sebagai pendorong utama.