MALANG, 16 Desember 2023 – Ucapan “Ndasmu Etik” yang diucapkan oleh calon presiden nomor urut 2, Prabowo Subianto, dalam acara debat capres menjadi viral di media sosial, terutama di TikTok. Namun, apa sebenarnya arti dari kata-kata ini?
Awal mula istilah ini diucapkan oleh Prabowo Subianto saat menyikapi pertanyaan Anies Baswedan terkait putusan Mahkamah Konstitusi (MK) dan Majelis Kehormatan MK (MKMK) mengenai batas usia calon presiden dalam acara debat capres pada Selasa (12/12/2023).
Dalam video viral, Prabowo terlihat berdiri di podium berlogo Partai Gerindra dan menyindir mengenai etika. “Bagaimana perasaan Mas Prabowo soal etik? Etik, etik,” kata Prabowo, kemudian menyambung dengan ucapan “Ndasmu etik (etik kepalamu).”
Apa arti kata-kata “ndasmu etik”?
- Ndasmu: Bahasa Jawa yang berarti “kepalamu.” Dalam konteks ini, dipergunakan sebagai ungkapan kasar atau sindiran.
- Etik: Dalam bahasa Indonesia, etik merujuk pada kumpulan asas atau nilai yang berkaitan dengan akhlak, nilai mengenai benar dan salah yang dianut suatu golongan atau masyarakat.
Jadi, secara harfiah, “Ndasmu Etik” dapat diartikan sebagai “Kepalamu Etik” atau lebih bebas, “Etik kepalamu.” Ucapan ini bersifat sindiran atau ejekan, mungkin merujuk pada ketidaksetujuan atau penolakan terhadap pernyataan atau sikap tertentu.
Dalam bahasa Jawa, “ndasmu” termasuk tingkatan ngoko, yang digunakan dalam situasi yang lebih santai atau akrab, tetapi penggunaannya yang merendahkan dapat menimbulkan konflik tergantung pada konteks dan hubungan antara pembicara.
Juru Bicara Prabowo Katakan Bercanda
Juru bicara Prabowo, Dahnil Anzar, menyatakan bahwa ucapan ini merupakan candaan dalam forum internal Partai Gerindra.
Dahnil menekankan bahwa Prabowo senang bercanda, dan ucapan tersebut ditujukan kepada kader-kader Gerindra tanpa niat menyinggung pihak lain.
Sebagai tanggapan, Ganjar Pranowo, calon presiden nomor urut 3, menyarankan agar penggunaan kalimat yang baik-baik saja dalam kampanye dan menekankan pentingnya beradu data untuk menguatkan fakta dan pendapat masing-masing kandidat.
Sebagaimana umumnya dalam penggunaan bahasa, konteks dan niat pembicara memiliki peran penting dalam penafsiran kata-kata tersebut.***







