Kontroversi Pernyataan Sholeh Basyari dan Respon PCNU Kabupaten Malang

Zona Malang – Baru-baru ini, pernyataan Sholeh Basyari yang dianggap tidak pantas dan tidak mencerminkan etika seorang santri Nahdlatul Ulama (NU) menuai kecaman luas. Pernyataan tersebut diungkapkan dalam sebuah video yang diunggah oleh kanal YouTube Benteng Nusantara dengan judul “AMBIYARR!!” pada 2 Juni 2024. Dalam video tersebut, Sholeh Basyari diduga merendahkan dan menghina Rais Aam Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), KH Miftachul Akhyar.

Kritik dari PCNU Kabupaten Malang

Menanggapi hal ini, Ketua Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kabupaten Malang, KH Muhammad Hamim Kholili, menilai pernyataan Sholeh Basyari sebagai tidak objektif dan kurang beralasan. “Kalau saya menilai itu kurang objektif. Beliau bukan orang dekatnya Rais Aam, tidak tahu betul ketokohan Rais Aam,” katanya saat dikonfirmasi oleh NU Online Jatim pada Sabtu, 8 Juni 2024.

Menurut KH Hamim, pemilihan Rais Aam dilakukan secara nasional melalui sistem Ahlul Halli wal Aqdi (AHWA), yang memastikan proses pemilihan dilakukan dengan cermat dan tepat. KH Miftachul Akhyar dipilih sebagai Rais Aam PBNU karena dianggap sebagai tokoh yang cocok untuk memimpin NU di abad kedua ini. “Beliau itu sudah pilihan yang cocok di abad kedua ini. Kita lihat dari yang disampaikan beliau dalam pidatonya selalu sesuai dengan keadaan,” jelas Pengasuh Pondok Pesantren Radlatul Ulum II, Putukrejo, Gondanglegi tersebut.

Pentingnya Menjaga Etika dalam Berpendapat

KH Hamim menekankan bahwa tidak pantas menilai seseorang hanya berdasarkan latar belakang pesantrennya dan kemudian membandingkannya dengan orang lain. Apalagi jika orang tersebut telah dipilih melalui proses yang sah dan diakui secara nasional. “Dan itu tidak elok kita menilai orang yang sudah dipilih secara nasional, kemudian kita nilai negatif. Beliau juga tidak punya salah,” tandasnya.

Pernyataan ini menunjukkan pentingnya menjaga etika dan integritas dalam berpendapat, terutama di kalangan santri dan anggota organisasi besar seperti NU. Kritik yang tidak berdasar dan menghina hanya akan menimbulkan perpecahan dan melemahkan solidaritas dalam organisasi.

Dampak Kontroversi dan Harapan ke Depan

Kontroversi ini bukan hanya mencerminkan masalah individu, tetapi juga memperlihatkan tantangan yang dihadapi oleh organisasi besar seperti NU dalam menjaga kesatuan dan keharmonisan di tengah perbedaan pendapat. Oleh karena itu, penting bagi setiap anggota dan simpatisan NU untuk lebih bijak dan bertanggung jawab dalam menyampaikan kritik.

Ke depan, diharapkan bahwa setiap anggota NU, termasuk santri, dapat lebih memahami pentingnya proses pemilihan yang demokratis dan menghormati hasilnya. Selain itu, komunikasi yang lebih baik dan upaya untuk mendekatkan pemimpin dengan masyarakat juga perlu ditingkatkan, agar tidak ada lagi kesalahpahaman yang bisa memicu konflik internal.

Kesimpulan

Kontroversi pernyataan Sholeh Basyari menyoroti pentingnya etika dalam berpendapat dan menjaga integritas dalam organisasi seperti NU. Respons tegas dari KH Muhammad Hamim Kholili menunjukkan bahwa kritik harus disampaikan dengan dasar yang kuat dan penuh tanggung jawab. Semoga ke depan, semua pihak dapat lebih bijak dalam bersikap, sehingga solidaritas dan keharmonisan dalam NU tetap terjaga.