MALANG, Zona Malang – Pakar Pendidikan dan Kejuruan Universitas Negeri Malang (UM), Prof. Dr. Syamsul Hadi, M.Pd., M.Ed. menyoroti upaya pemerintah dalam mendorong penguatan pendidikan kejuruan secara kuantitas dan kualitas. Menurutnya, sejak 2016, proporsi antara SMA dan SMK mengalami perubahan signifikan, dengan rasio yang semula 67 persen SMA berbanding 33 persen SMK, kini menjadi 50,6 persen SMA dan 49,4 persen SMK.
Meskipun jumlah SMK terus meningkat, Prof. Syamsul Hadi mengatakan bahwa peningkatan tersebut belum sejalan dengan mutu lulusan. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat, sejak 2015 hingga 2024, Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) lulusan SMK mencapai rata-rata 11 persen, lebih tinggi dibandingkan lulusan SMA yang hanya 8,57 persen.
Tak hanya itu, Prof. Syamsul Hadi juga menyoroti tantangan karir jangka panjang yang dihadapi oleh lulusan SMK. Penelitian di Jerman, Swiss, dan Denmark menunjukkan bahwa meskipun lulusan pendidikan kejuruan unggul dalam usia produktif awal, pada usia 50-an, tingkat pekerjaan dan penghasilan lulusan pendidikan umum justru melampaui lulusan vokasi.
Menjawab tantangan tersebut, Prof. Syamsul Hadi menyampaikan bahwa konsep pendidikan vokasionalisme-liberal menjadi solusi baru. Konsep ini menggabungkan kecakapan teknis (vokasional) dengan pendidikan liberal untuk menumbuhkan kecakapan akademik dan kecakapan hidup. “Tenaga kerja masa depan tidak hanya perlu siap kerja, tapi juga siap berkembang,” imbuhnya.
UNESCO turut andil dan merekomendasikan pendidikan kejuruan yang menekankan pengembangan kecakapan hidup, ekonomi berkelanjutan, dan masyarakat yang inklusif. Konsep tersebut menuntut kurikulum terintegrasi yang holistik, adaptif, dan kontekstual.
Namun, menurut Prof. Syamsul Hadi, perubahan kurikulum saja tidak cukup. Perlu dukungan sistem tata kelola yang memberdayakan, dengan pendekatan desentralisasi dan peningkatan berkelanjutan. Selain itu, dibutuhkan model kepemimpinan yang transformatif di tingkat kebijakan, serta kepemimpinan pembelajaran-transformasional di tingkat sekolah.
“Dengan kombinasi kurikulum integratif, sistem yang adaptif, dan kepemimpinan yang visioner, pendidikan kejuruan di Indonesia diharapkan mampu menghasilkan lulusan yang tidak hanya siap kerja, tapi juga tahan banting menghadapi perubahan zaman,” pungkas Prof. Syamsul Hadi.
Menurut pakar pendidikan ini, konsep vokasionalisme-liberal yang menggabungkan kecakapan teknis dan pendidikan liberal menjadi solusi baru untuk menghadapi tantangan pendidikan kejuruan di Indonesia. Selain itu, dukungan sistem tata kelola yang memberdayakan, serta kepemimpinan yang visioner, juga diperlukan untuk menghasilkan lulusan SMK yang siap kerja dan siap menghadapi perubahan zaman.
Upaya pemerintah dalam mendorong penguatan pendidikan kejuruan memang perlu diapresiasi, namun perlu disertai dengan peningkatan kualitas lulusan. Dengan pendekatan yang holistik, mulai dari kurikulum, sistem tata kelola, hingga kepemimpinan, diharapkan pendidikan kejuruan di Indonesia dapat mencetak lulusan yang kompeten dan mampu bersaing di era industri 4.0.
Selain itu, Prof. Syamsul Hadi juga menekankan pentingnya peran serta pemangku kepentingan, baik pemerintah, dunia industri, maupun masyarakat, dalam mendukung transformasi pendidikan kejuruan di Indonesia. Kolaborasi yang erat dan saling mendukung akan menjadi kunci keberhasilan dalam mempersiapkan generasi masa depan yang siap menghadapi tantangan global.







