MALANG, Zona Malang – Dosen Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan (FPIK) Universitas Brawijaya (UB) Malang telah mengembangkan inovasi bioteknologi kelautan melalui model proses COSI PROMIKAP-UB. Ini merupakan sebuah terobosan mikrokapsul probiotik berbahan dasar rumput laut.
Menurut Prof. Dr. Ir. Dwi Setijawati, M. Kes, model COSI PROMIKAP-UB yang dikembangkannya merupakan mikrokapsul probiotik Lactobacillus acidophilus, dengan bahan baku rumput laut Eucheuma sp melalui metode emulsifikasi dan pengeringan foam-mat drying. “Teknologi ini dirancang untuk meningkatkan stabilitas matriks, viabilitas probiotik, serta kemudahan aplikasi pada produk pangan dan non-pangan. Keunggulan utamanya terletak pada proses pengeringan yang relatif cepat dan berkelanjutan,” ujarnya.
Prof. Dwi menjelaskan, inovasi tersebut telah diuji pada produk mie instan berbahan ubi jalar ungu dan kuning yang difortifikasi mikrokapsul probiotik. Hasilnya, produk tersebut mampu mempertahankan viabilitas bakteri meski melalui proses pengolahan dengan suhu tinggi. “Konsep ini tidak hanya aplikatif di industri pangan, tetapi juga berpotensi dikembangkan untuk produk non-pangan. Seperti pakan fungsional dalam budidaya perikanan,” jelasnya.
Menariknya, penelitian ini juga mengintegrasikan pemodelan berbasis Artificial Intelligence (AI) untuk mempermudah analisis data dan pengembangan produk lanjutan. Selain itu, pemanfaatan bio komposit dari rumput laut dan sumber daya kelautan menawarkan solusi bahan baku berkelanjutan yang kaya bioaktif, mendukung industri kesehatan hingga blue economy.
Menurut Prof. Dwi, integrasi bioteknologi kelautan dengan mikroenkapsulasi tidak hanya meningkatkan nilai tambah sumber daya lokal, tetapi juga memperkuat daya saing produk berbasis kelautan. Dengan inovasi ini, Prof. Dwi tidak hanya memperkaya khazanah ilmu pengetahuan, tetapi juga membuka pintu bagi pengembangan produk-produk inovatif berbasis potensi kelautan Indonesia. “Ini adalah langkah strategis menuju ekonomi biru yang berkelanjutan dan berbasis ilmu pengetahuan,” tegasnya.
Selanjutnya, Prof. Dwi menyampaikan bahwa teknologi ini dirancang untuk meningkatkan stabilitas matriks, viabilitas probiotik, serta kemudahan aplikasi pada produk pangan dan non-pangan. Keunggulan utamanya terletak pada proses pengeringan yang relatif cepat dan berkelanjutan. Hal ini membuka peluang bagi pengembangan produk-produk inovatif berbasis potensi kelautan Indonesia.
Dalam penjelasannya, Prof. Dwi juga menyinggung mengenai potensi pengembangan produk non-pangan, seperti pakan fungsional dalam budidaya perikanan. Inovasi ini diharapkan dapat memperkuat daya saing produk berbasis kelautan dan memberikan kontribusi nyata bagi industri kesehatan dan blue economy.
Selain itu, penelitian ini juga mengintegrasikan pemodelan berbasis Artificial Intelligence (AI) untuk mempermudah analisis data dan pengembangan produk lanjutan. Hal ini menunjukkan upaya yang dilakukan untuk memanfaatkan teknologi terkini dalam mengoptimalkan hasil penelitian.
Pemanfaatan bio komposit dari rumput laut dan sumber daya kelautan menjadi salah satu fokus dalam penelitian ini. Hal ini menawarkan solusi bahan baku berkelanjutan yang kaya bioaktif, sehingga dapat mendukung industri kesehatan dan blue economy secara lebih luas.
Menurut Prof. Dwi, integrasi bioteknologi kelautan dengan mikroenkapsulasi merupakan langkah strategis menuju ekonomi biru yang berkelanjutan dan berbasis ilmu pengetahuan. Inovasi ini tidak hanya memperkaya khazanah ilmu pengetahuan, tetapi juga membuka peluang bagi pengembangan produk-produk inovatif berbasis potensi kelautan Indonesia.







