ICCF 2025 Resmi Ditutup di Candi Kidal Malang: Emil Dardak Puji Kolaborasi Malang Raya Dorong Kreativitas Menuju Indonesia Emas 2045

Zona Malang – Malam penuh makna menyelimuti kawasan Candi Kidal, Kecamatan Tumpang, Kabupaten Malang, saat Indonesia Creative Cities Festival (ICCF) 2025 resmi ditutup pada Minggu malam, 9 November 2025. Upacara penutupan yang megah ini dihadiri Wakil Gubernur Jawa Timur Dr. H. Emil Elestianto Dardak, B.Bus., M.Sc., Bupati Malang Drs. H.M. Sanusi, M.M., beserta jajaran pejabat provinsi, dinas Malang Raya, Ketua Umum Indonesia Creative Cities Network (ICCN), Direktur Utama KEK Singhasari, serta delegasi jejaring ICCN.

Acara diramaikan dengan Festival Nusantaraya, pertunjukan seni kolaboratif yang memadukan elemen budaya nasional, serta Creative Cities Awarding Night yang memberikan penghargaan kepada para pelaku kreatif berprestasi.

Bupati Sanusi membuka sambutannya dengan ungkapan syukur mendalam atas kepercayaan ICCN memilih Kabupaten Malang sebagai tuan rumah. Ia menekankan bahwa festival ini menjadi katalisator bagi pemuda dan warga untuk mengasah kreativitas, sejalan dengan visi Indonesia Emas 2045.

“Di sini, penggiat seni dan budaya telah berkembang pesat, seperti event Pesona Gondanglegi yang sukses mengangkat potensi lokal,” katanya, sambil berharap seluruh peserta ICCF terus berkontribusi membangun Malang yang lebih maju dan sejahtera. Pemerintah daerah, lanjutnya, siap mendukung penuh inisiatif serupa untuk memupuk generasi kreatif yang unggul.

Wakil Gubernur Emil Dardak turut menyampaikan apresiasi atas penyelenggaraan ICCF di Malang Raya, yang ia anggap sebagai pilihan strategis berkat kekayaan pariwisata, pendidikan, dan kebudayaan di wilayah ini. “Malang Raya bukan sekadar kota mahasiswa; ia adalah kesatuan harmonis antara Kota Batu, Kota Malang, dan Kabupaten Malang yang lengkap dengan segala potensinya,” ujarnya. Ia menyoroti peran ICCF sebagai wadah konkret bagi masyarakat mengembangkan ide-ide inovatif, terutama di era pemerintahan Prabowo-Gibran yang akan semakin menekankan sektor kreatif. “Semua harus kompak dan bersemangat; Jawa Timur dengan slogan ‘Gerbang Baru Nusantara’ siap jadi mitra utama kemajuan nasional, di mana kreativitas menjadi kunci provinsi ini sebagai pelopor.”

Penghargaan Creative Cities Awarding Night menjadi sorotan utama, di mana berbagai tokoh, komunitas, dan pemerintah daerah diapresiasi atas kontribusi mereka dalam ekosistem kreatif. Festival Nusantaraya sendiri menghadirkan kolaborasi seni yang memukau, menggabungkan tradisi lokal dengan sentuhan modern, sehingga meninggalkan kesan mendalam bagi ribuan hadirin. Penutupan ini tak hanya menandai akhir rangkaian acara, tapi juga awal dari komitmen berkelanjutan untuk menjadikan Malang Raya sebagai pusat kreativitas nasional.

Sebagai fakta menarik, Candi Kidal yang menjadi lokasi penutupan bukan sembarang situs bersejarah; candi ini dibangun pada abad ke-13 Masehi sebagai makam Raja Anusapati dari Kerajaan Singhasari, dan kini menjadi salah satu dari tiga candi utama di Jawa Timur yang mencerminkan seni arsitektur Hindu-Jawa dengan relief cerita Panji yang penuh filosofi.

Selain itu, ICCF 2025 ini melibatkan lebih dari 1.000 delegasi dari 240 kota dan kabupaten se-Indonesia, menjadikannya festival kreatif terbesar tahun ini dengan dampak ekonomi mencapai miliaran rupiah melalui UMKM dan pariwisata, sekaligus memperkuat posisi Jawa Timur sebagai calon ‘Creative Province’ pertama di tanah air.

Untuk saran, pemerintah daerah Malang Raya disarankan membentuk inkubator kreatif pasca-ICCF yang fokus pada pemuda, dengan program mentorship dari penerima awarding night untuk mentransfer ilmu ke generasi muda, sehingga tingkatkan partisipasi anak muda dalam ekraf hingga 30% dalam dua tahun ke depan.

Selain itu, integrasikan elemen festival seperti Nusantaraya ke dalam agenda tahunan sekolah dan kampus, misalnya melalui workshop seni kolaboratif berbasis digital, guna membangun ekosistem kreatif yang inklusif dan berkelanjutan. Langkah ini akan memastikan semangat ICCF tak berhenti di penutupan, melainkan menjadi fondasi bagi kemajuan ekonomi budaya yang nyata.