Wabup Malang Pimpin Panen Padi Hayati di Balearjo, Dorong Pertanian Berkelanjutan

Wakil Bupati Malang Lathifah Shohib memimpin panen padi hayati di Desa Balearjo. Pemerintah Kabupaten Malang berkomitmen mengembangkan pertanian organik untuk ketahanan pangan yang sehat dan…

BALEARJO, MALANG – Langkah nyata dalam upaya membangun sektor pertanian yang berkelanjutan kembali diperlihatkan Pemerintah Kabupaten Malang. Dalam semangat memperkuat kedaulatan pangan daerah, Wakil Bupati Malang, Dra. Hj. Lathifah Shohib, secara langsung turun ke sawah memimpin upacara panen padi hayati di Desa Balearjo, Kecamatan Pagelaran, pada Rabu pagi (8/4).

Acara panen raya yang berlangsung di tengah suburnya persawahan Desa Balearjo ini bukan sekadar ritual adat semata. Lebih dari itu, kegiatan ini menjadi momentum penting bagi pemerintah daerah dalam mensosialisasikan pertanian hayati sebagai alternatif sistem budidaya yang mampu menjawab berbagai tantangan modern, mulai dari degradasi kesuburan tanah hingga permintaan konsumen akan produk pangan bebas residu kimia.

Kehadiran Wakil Bupati Malang di tengah para petani menunjukkan komitmen nyata pemerintah dalam mendampingi masyarakat agraris di wilayah ini. Lathifah Shohib tampak akrab berbincang dengan anggota kelompok tani setempat, mendengarkan langsung cerita perjuangan mereka dalam mengelola lahan dengan metode organik yang memang membutuhkan kesabaran ekstra di awal peralihan sistem.

Para petani di Balearjo telah membuktikan bahwa metode pertanian hayati yang mengandalkan pupuk organik dan pengurangan dosis pestisida kimia justru mampu menghasilkan panen yang berkualitas prima. Teknik pengolahan lahan secara alami yang mereka terapkan selama ini justru memberikan hasil memuaskan, mematahkan mitos bahwa pertanian organik selalu identik dengan produktivitas rendah.

Dalam sambutannya, Lathifah Shohib menyampaikan apresiasi settinggi-tingginya kepada para petani yang telah memilih jalan berat namun mulia ini. Ia menekankan bahwa keberhasilan panen kali ini harus menjadi pemicu semangat bagi petani lain di seluruh penjuru Kabupaten Malang untuk berani beralih ke sistem pertanian yang lebih ramah terhadap lingkungan.

“Pertanian hayati bukan sekadar soal angka-angka produktivitas dalam ton,” ujar Wakil Bupati Malang dengan tegas. “Ini adalah investasi jangka panjang untuk menjaga keseimbangan ekosistem dan memastikan generasi mendatang tetap memiliki tanah yang subur serta air yang bersih. Petani kita adalah garda terdepan pelestarian lingkungan hidup.”

Lebih lanjut, Lathifah Shohib menjelaskan bahwa transisi menuju pertanian berkelanjutan tidak dapat dilakukan secara sporadis oleh petani sendirian. Dibutuhkan kerja sama multi-pihak yang solid, melibatkan seluruh komponen dari tingkat pusat perhatian pemerintah daerah hingga aparat desa dan penyuluh lapangan. Tanpa pendampingan teknis yang konsisten, program pertanian hayati akan sulit mencapai target adopsi yang diharapkan.

Pemerintah Kabupaten Malang, lanjutnya, telah menyiapkan berbagai skema pendukung untuk mempercepat perkembangan pertanian organik di wilayahnya. Mulai dari program penyediaan sarana produksi, pelatihan teknis berkelanjutan, hingga fasilitasi akses pasar untuk hasil pertanian berlabel ramah lingkungan. Komitmen ini diharapkan dapat mengurangi beban petani dalam masa transisi dari sistem konvensional ke hayati.

Forpol Camat Pagelaran juga turut hadir dalam acara tersebut, menunjukkan sinergitas aparat pemerintahan dari tingkat kecamatan dalam mensukseskan program pembangunan pertanian. Kehadiran unsur Muspika ini memberikan rasa aman dan dukungan moral bagi petani bahwa program yang mereka jalani mendapat pengakuan dan perlindungan dari negara.

Dialog interaktif yang mengakhiri rangkaian acara panen menjadi ajang bertukar gagasan yang sangat produktif. Para petani dengan lantang menyampaikan berbagai tantangan yang mereka hadapi, mulai dari keterbatasan pupuk organik berkualitas, serangan hama yang cenderung meningkat di awal peralihan, hingga masalah pemasaran hasil yang belum sepenuhnya menguntungkan dibanding konvensional.

Sementara itu, peluang yang muncul dari tren global menuju pola konsumsi sehat dan organik juga menjadi bahan diskusi yang hangat. Lathifah Shohib meyakinkan bahwa pemerintah daerah terus berupaya menjembatani petani dengan pasarpremium yang menghargai kualitas produk organik dengan harga yang lebih layak.

Panen padi hayati di Desa Balearjo diharapkan bukan titik akhir, melainkan permulaan dari gerakan besar pertanian berkelanjutan di Kabupaten Malang. Setiap butir padi yang dipotong pada hari itu adalah simbol harapan bahwa masa depan pertanian Indonesia bisa menjadi lebih hijau, lebih adil, dan lebih sehat bagi semua pihak—dari petani di lahan hingga konsumen di meja makan.