Malang Raya, Zona Malang – Nur Saguanto (20), seorang alumnus SMK Negeri 7 Gondanglegi yang juga korban selamat tragedi Kanjuruhan, belum merasakan keberuntungan mendapat pekerjaan. Meski sudah mengirim lamaran ke sejumlah perusahaan, pria yang akrab disapa Aan ini belum juga bekerja.
Aan mengalami luka di kaki kiri dan wajah akibat insiden di Stadion Kanjuruhan yang terjadi di desanya, Tegalsari Kecamatan Kepanjen, Kabupaten Malang. Saat ini, Aan masih berjalan dengan susah payah.
“Sekarang kondisinya sudah membaik. Dulu kaki kiri saya retak. Kalau kena hawa dingin, rasanya keram,” ujar Aan pada Jumat, 29 September.
Setelah kondisinya pulih, Aan lebih banyak berada di rumah. Ia telah melamar pekerjaan di berbagai tempat, termasuk pabrik di dekat rumahnya. Sayangnya, usahanya untuk mendapatkan pekerjaan belum membuahkan hasil.
“Saya melamar tiga kali. Hanya sekali mendapat panggilan untuk interview. Tapi setelah itu tidak ada kelanjutannya lagi,” terangnya.
Kendala yang dialami Aan ini membuatnya kadang merasa iri dengan teman-temannya yang mendapatkan pekerjaan di perusahaan yang sama. Ia pun hanya bisa menduga bahwa kondisinya lah yang membuatnya gagal dalam interview.
Sementara menunggu kabar baik, Aan membantu ayahnya bekerja di sawah. “Agar tidak sumpek kalau berada di rumah terus. Saya juga memulihkan diri biar sedikit lebih kuat,” ungkapnya.
Aspek emosional juga menjadi beban bagi keluarganya pasca-tragedi. Dewi Fitriyah, ibu Aan masih merasakan trauma jika mengingat kejadian itu dan bagaimana anaknya berjuang untuk sembuh.
Menjelang satu tahun tragedi Kanjuruhan, Dewi masih merasa sedih. “Kalau lihat status WhatsApp keluarga korban jelang satu tahun ini, saya terharu dan menangis. Alhamdulilah, anak saya bisa selamat,” kata Dewi.
Siti Mardyan (54), salah satu orang tua korban tragedi Kanjuruhan, meminta pemerintah konsisten dalam menangani persoalan hukum tragedi Kanjuruhan. Siti, yang juga kehilangan anaknya, Mitha Maulidia (26), menyatakan: “Saya hanya berharap pemerintah bisa bijak. Kalau keadilan, saya tidak begitu banyak berharap. Tidak mungkin adil, dan tidak mungkin ada keadilan.”
Peringatan satu tahun tragedi ini akan digelar di beberapa lokasi di Malang Raya mulai Sabtu, 30 September sampai Minggu, 1 Oktober. Di tengah sorotan publik ini, harapan merasakan keadilan serta pencarian pekerjaan Aan tetap berlanjut.***







