Viral! Ustad ini Sebut Nama Ibu Kandung Nabi Adam, Apakah Benar Ada?

Zona Malang – Di tengah maraknya konten digital yang bebas beredar, kebenaran terkadang dikaburkan oleh opini pribadi yang tak berlandaskan ilmu.

Salah satu contoh yang mencengangkan adalah munculnya pernyataan dari seorang kreator konten yang menyebut bahwa Nabi Adam ‘alaihis salam memiliki ibu.

Klaim ini bukan hanya tidak berdasar, namun juga bertentangan dengan nash Al-Qur’an, Hadis, dan ijmak ulama.

Lebih ironis lagi, tokoh tersebut menyampaikan pendapat tersebut hanya dengan metode qiyas (analogi) yang fasid, yakni qiyas yang rusak dan tidak diterima dalam kaidah ilmu ushul fiqh.

Ketika ditanya siapa ibu Nabi Adam, ia menyebut nama “Siti Annisa” atau “Ummu Adam”—nama yang tidak dikenal dalam literatur Islam, baik dalam Al-Qur’an,

Hadis, maupun kitab para ulama terdahulu. Ia juga mengklaim bahwa tempat kelahiran Nabi Adam berada di Timur Tengah, padahal tidak ada dalil sahih yang menyebutkan lokasi kelahiran manusia pertama ini.

Padahal, penciptaan Nabi Adam secara eksplisit dijelaskan oleh Allah dalam Al-Qur’an. Allah Ta’ala berfirman:

قَالَ يَا إِبْلِيسُ مَا مَنَعَكَ أَنْ تَسْجُدَ لِمَا خَلَقْتُ بِيَدَيَّ

“(Allah) berfirman, ’Wahai Iblis, apa yang menghalangimu untuk bersujud kepada yang telah Aku ciptakan dengan kedua tangan-Ku?’”

(QS. Shad: 75)

Ayat ini menunjukkan bahwa penciptaan Nabi Adam adalah tindakan langsung dari Allah, tanpa perantara siapa pun.

Allah menyatakan, “Khalaqtu biyadayya” (Aku ciptakan dengan kedua tangan-Ku), yang dalam tafsir para ulama menjelaskan kemuliaan khusus atas Nabi Adam dan keistimewaan penciptaannya yang berbeda dari makhluk lainnya.

Penafsiran ayat tersebut juga didukung oleh ucapan sahabat Nabi, Abdullah bin Umar radhiyallahu ‘anhuma, sebagaimana diriwayatkan:

“Allah menciptakan empat makhluk dengan tangan-Nya: ’Arsy, Surga ‘Adn, Adam, dan Al-Qalam.”

Riwayat ini tercantum dalam kitab Al-Mustadrak karya Al-Hakim, yang menilai hadis ini sebagai sahih berdasarkan sanadnya. Penilaian ini diperkuat pula oleh Al-Hafidz Adz-Dzahabi dalam Talkhis al-Mustadrak.

Dalam kaidah ilmu hadis, perkataan sahabat dalam perkara gaib dan akidah seperti ini memiliki kedudukan tinggi. Ulama menyatakan:

“Qaul ash-shahabi fima la majala fihi lir-ra’yi wal-ijtihad lahu hukmu ar-raf’i ila an-Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.”

“Ucapan sahabat dalam hal yang tidak mungkin berdasarkan ijtihad atau pendapat pribadi, maka dihukumi sebagai marfu’ (dari Nabi) dalam konteks dalil dan hujjah.”

Artinya, ketika seorang sahabat berbicara dalam persoalan gaib, iman, dan akhirat, yang tak mungkin berasal dari akal semata, maka ucapan tersebut dinilai bersumber dari pengajaran langsung Nabi Muhammad ﷺ.

Mengapa Ini Berbahaya?

Membuat klaim sepihak tentang Nabi Adam memiliki ibu bukan sekadar kekeliruan akademik, tapi bisa menyeret pada penyimpangan akidah.

Sebab hal itu menyalahi prinsip dasar penciptaan manusia pertama. Akidah Islam meyakini bahwa Nabi Adam diciptakan langsung oleh Allah dari tanah, tanpa ayah dan tanpa ibu, sebagaimana Nabi Isa ‘alaihis salam diciptakan tanpa ayah.

Allah berfirman:

إِنَّ مَثَلَ عِيسَىٰ عِندَ اللَّهِ كَمَثَلِ آدَمَ ۖ خَلَقَهُ مِن تُرَابٍ ثِمَّ قَالَ لَهُ كُن فَيَكُونُ

“Sesungguhnya perumpamaan (penciptaan) Isa di sisi Allah adalah seperti (penciptaan) Adam. Dia menciptakannya dari tanah, kemudian Dia berfirman kepadanya: ‘Jadilah!’ Maka jadilah dia.”

(QS. Ali Imran: 59)

Ayat ini menjelaskan bahwa Nabi Adam diciptakan dari tanah dan tanpa perantara manusia sebelumnya. Jadi, bagaimana mungkin ada sosok yang disebut sebagai “ibu” Adam?

Penutup

Fenomena semacam ini menjadi pengingat pentingnya merujuk kepada sumber-sumber sahih dalam memahami agama. Menyampaikan opini pribadi dalam perkara yang telah ditetapkan oleh Allah dan Rasul-Nya tanpa dasar ilmu adalah bentuk kebodohan yang membahayakan umat.

Islam bukan agama yang bisa dimaknai secara serampangan dengan logika bebas. Ada aturan, adab, dan ilmu dalam menggali makna wahyu.

Semoga kita dijauhkan dari fitnah ilmu yang menyesatkan dan diberi taufik untuk mengikuti jalan para ulama yang lurus. Wallahu a’lam bish-shawab.

Disadur dari postingan Facebook KH. Ma’ruf Khozin