MALANG – Kemajuan pesat kecerdasan buatan (AI) telah membawa dampak besar dalam dunia kerja. Berbagai sektor mengalami transformasi, otomatisasi, bahkan pengurangan tenaga kerja manusia. Kondisi ini menimbulkan kekhawatiran, khususnya bagi para lulusan perguruan tinggi dari jurusan-jurusan tertentu yang kini semakin sulit bersaing di pasar kerja.
Menurut laporan World Economic Forum (2024), sekitar 44% keterampilan tenaga kerja global diperkirakan akan terdampak oleh AI dan otomatisasi dalam lima tahun ke depan. Di Indonesia, fenomena ini mulai terasa, terutama pada jurusan kuliah yang berkaitan dengan tugas-tugas administratif dan repetitif.
Jurusan Kuliah yang Susah Dapat Pekerjaan
Berikut ini adalah beberapa jurusan kuliah yang dinilai makin rentan terhadap dampak negatif perkembangan AI:
1. Administrasi Perkantoran dan SekretarisBanyak lulusan administrasi kini harus bersaing dengan virtual assistant, chatbot, dan sistem manajemen dokumen berbasis AI. Perusahaan mulai mengadopsi teknologi ini untuk menggantikan tugas-tugas rutin seperti penjadwalan, pencatatan, hingga pengelolaan email.
2. Akuntansi DasarMeskipun profesi akuntan masih dibutuhkan, pekerjaan entry-level seperti pencatatan transaksi dan pembuatan laporan keuangan kini sudah banyak dikerjakan oleh software akuntansi berbasis AI, seperti QuickBooks atau Xero. Lulusan akuntansi perlu memiliki kompetensi tambahan di bidang analisis data dan audit digital agar tetap relevan.
3. Jurnalistik KonvensionalAI kini mampu menulis laporan cuaca, hasil pertandingan olahraga, hingga ringkasan berita keuangan dengan cepat. Tools seperti ChatGPT dan Google Gemini mulai digunakan oleh media untuk menghasilkan konten otomatis. Ini menurunkan kebutuhan akan jurnalis pemula, terutama untuk penulisan berita straight news.
4. Desain Grafis DasarPlatform desain berbasis AI seperti Canva Pro dan Adobe Firefly memungkinkan siapa pun membuat desain profesional tanpa keahlian teknis mendalam. Ini mengurangi permintaan terhadap desainer grafis level junior, khususnya yang tidak memiliki spesialisasi seperti UI/UX atau animasi 3D.
5. Hukum dan ParalegalTugas-tugas seperti penyusunan dokumen hukum standar, riset peraturan, hingga analisis kontrak kini bisa dilakukan lebih cepat dan akurat oleh AI legal assistant. Lulusan hukum yang tidak melanjutkan ke jenjang profesional atau tidak memiliki keahlian spesifik (misalnya hukum teknologi) akan semakin sulit bersaing.
6. Ilmu KomputerMenurut riset dari Federal Reserve Bank of New York, jurusan ilmu komputer menduduki peringkat ketujuh di antara jurusan sarjana dengan tingkat pengangguran tertinggi sebesar 6,1 persen. “Melihat tingkat pengangguran yang begitu tinggi untuk jurusan seperti ilmu komputer mungkin mengejutkan banyak orang Amerika. Bagaimanapun, jurusan ini telah menjadi salah satu jurusan yang paling diminati dalam beberapa tahun terakhir karena kebutuhan yang belum pernah terjadi sebelumnya,” ujar Alex Beene, seorang instruktur literasi keuangan untuk University of Tennessee di Martin, dalam Newsweek dikutip Senin (2/6/2025).
Selain beberapa jurusan kuliah di atas, ada beberapa jurusan kuliah lain dengan tingkat pengangguran tertinggi karena AI, antara lain: Antropologi (9,4 persen), Fisika (7,8 persen), Teknik Komputer (7,5 persen), Seni Komersial dan Desain Grafis (7,2 persen), Seni Rupa (7 persen), Sosiologi (6,7 persen), Ilmu Komputer (6,1 persen), Kimia (6,1 persen), Sistem Informasi dan Manajemen (5,6 persen), serta Kebijakan Publik dan Hukum (5,5 persen).
Apa Solusinya?
Meski terdengar suram, kondisi ini bukan akhir dari segalanya. Menurut Dr. Aditya Prasetya, dosen Teknik Informatika dan pakar AI dari Universitas Teknologi Indonesia, solusi utama adalah reskilling dan upskilling.
“AI memang menggantikan banyak pekerjaan, tapi juga menciptakan jenis pekerjaan baru yang sebelumnya tidak ada. Lulusan harus adaptif dan bersedia belajar keterampilan baru, seperti analitik data, pemrograman dasar, hingga etika AI,” ujarnya.
Selain itu, pendekatan multidisiplin menjadi kunci. Seorang lulusan akuntansi yang menguasai data science atau AI, misalnya, akan jauh lebih diminati daripada yang hanya memahami akuntansi konvensional.
Di tengah pesatnya revolusi teknologi, dunia pendidikan tinggi dihadapkan pada tantangan besar: bagaimana menghasilkan lulusan yang relevan dan siap bersaing di era AI. Bagi calon mahasiswa, penting untuk memilih jurusan yang tidak hanya diminati, tetapi juga memiliki prospek jangka panjang yang adaptif terhadap teknologi.







